Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Sakha Ilang


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang dan deeptalk sejenak dengan Wardah, Eza langsung pergi untuk meeting bulanan bersama para divisi. Biasanya Wardah juga ikut, berhubung hari ini dirinya sedang libur jadi ia tak ikut. Wardah membereskan meja kerja dan juga ruangan Eza sebentar sebelum pulang. Setelah dirasa rapi barulah Wardah pulang. Tak lupa Wardah juga menyiapkan buah-buahan untuk cemilan Eza disela pekerjaannya.


“Kita pulang ya nak,” ujar Wardah kemudian menggendong Sakha.


Kantor tampak sepi. Hanya beberapa orang saja yang ada di meja mereka masing-masing. Sepertinya Sebagian besar mereka ada di ruang rapat. Atau mungkin tengah di ruang studio untuk acara yang tayang saat ini. Wardah berkunjung ke ruangannya sebelum turun. Ada tiga staf di dalam ruangan.


“Ada cemilan nih! Temen buat kerja,” ujar Wardah menurunkan Sakha dan meletakkan tempat cemilan di meja utama ruang divisi.


“Habis ngasih jatah Pak Bos ya kak?” celetuk Mila, salah satu staff di divisi news.


“Iyaa, ini aku nggak lama ya Mil, mau pulang soalnya,” jawab Wardah.


Wardah celingukan mencari Sakha. Perasaan tadi berdiri di sampingnya. Kenapa sekarang nggak ada? Mau tak mau Wardah kembali merepotkan ketiga rekannya untuk membantunya mencari Sakha. Di seluruh ruangan taka da sama sekali. Setelah berputar-putar, ternyata anak itu tengah enjoy duduk di tangga dan mengayunkan kakinya. Gemas sekali. Faiz-lah yang menemukannya. Karena memang Faiz juga tengah berada di ruang divisi Wardah.


__ADS_1


Dengan muka lempeng-nya ia tersenyum menyambut Buna-nya yang panik mencari ke sana kemari.


“Kamu ngapain sih Sakha? Kok nggak ngomong ke Buna kalau keluar sih?” beruntun pertanyaan dari Wardah muncul.


“Dikasih kalung lonceng aja lain kali Mbak, biar ada suaranya kalau ni anak jalan-jalan, hahaha,” celetuk Mila.


“Ngawur, emang kucing apa? Maaf ya udah ngerepotin kalian buat nyari Sakha.” Ujar Wardah.


“Iya Mbak sama-sama, Sakha terlalu lucu untuk diabaikan,” jawab Mila yang langsung menoel pipi Sakha.


Wardah langsung pamit pulang. Beberapa waktu lalu Gita menghubunnginya jika ingin berkunjung ke rumahnnya. Jadilah ia memberikan sharelock rumahnya pada Gita. Kini harus sampai rumah sebelum Gita. Di rumah hanya ada Mbak Winda. Itupun tadi ia hendak keluar pasti taka da orang di rumah.


“Den Sakha-nya tidur Neng,” ujar bapak penjaga.


“Iya pak,” jawab Wardah.

__ADS_1


“Ada tamu Neng, barusan saya suruh masuk,” ujar bapak itu lagi.


“Oke Pak, makasih ya Pak,” jawab Wardah.


Tampak Gita tengah tersenyum menyambut Wardah yang baru saja memarkirkan mobilnya. Wardah segera turun dan menggendong Sakha dengan hati-hati agar tak terbangun. Ini sudah jam dua siang, memang waktunya Sakha tidur. Tiba-tiba Bang Fadhil muncul ntah dari mana dan membantu Wardah membawa tasnya. Wardah kira Gita sendiri, ternyata tidak.


“Biar saya bantu ya,” ujar Bang Fadhil.


“Ah iya! Terima kasih Bang,” jawab Wardah.


Wardah berjalan dan Fadhil mengikutinya dari belakang. Wardah memeluk Gita sebentar dan cipika cipiki sebelum mengajak dua temannya itu masuk.


“Napa sih ni anak gemesin banget,” celetuk Gita menoel pipi Sakha yang tidur di gendongan Wardah.


“Kamu orang kesekian yang bilang kek gitu, ayo masuk!” jawab Wardah mempersilahkan masuk.

__ADS_1


Benar dugaan Wardah, di rumah masih sepi. Wardah meletakkan Sakha di kamar Bunda terlebih dahulu. Di kamarnya terlalu jauh. Nanti kalau bangun juga tak akan dengar karena ada di lantai dua. Jika di kamar Bunda-kan dekat. Gita mengikuti Wardah menidurkan Sakha. Membiarkan Fadhil menunggu di ruang tamu sendirian.


...Bersambung ...


__ADS_2