Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Sibuk


__ADS_3

Beberapa hari ini keluarga inti Eza benar-benar disibukkan dengan perceraian kak Winda. Eza sudah beberapa kali menemani Kak Winda untuk bolak-balik pengadilan mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan. Bahkan Eza juga menemani Kak Winda saat somasi berlangsung. Bukan hanya Eza, Mama juga ikut serta di sana. Sedangkan Wardah bertugas untuk mengurus para anak-anak di rumah. Hanya dibantu Si Mbok, sebab Bunda memang belum pulang dari temannya di Bandung. Sedangkan Mbak Aisy dan Kak Faisal sudah pulang sebelum kejadian genting ini. Ia pulang tepat setelah selesai acara tujuh bulanannya dan juga empat bulanan Wardah. Wardah sengaja tidak meminta Bunda kembali saat ini, atau memberitahu. Lagi pula ini juga bukan ranah Bunda.


“Heyy, anak-anak... Ayo dong siap-siap! Nanti kalau telat gimana sekolahnya?” ujar Wardah sedikit lantang.


Sedari tadi Wardah sudah bolak-balik menyiapkan perlengkapan anak-anak. Tapi kini anak-anak malah enggan untuk mandi dan bersiap. Mulai dari Kanaya beralih ke Dinda, dan beralih lagi ke Sakha yang sudah mulai sekolah. Benar-benar menguras tenaganya. Memakan waktu cukup lama untuk bersiap, ditambah dengan kerepotannya saat mengajak sarapan. Yang biasanya mandiri mau makan sendiri, kini Sakha dan Dinda justru manja minta disuapi oleh Wardah semua.


Wardah segera mengambil tasnya untuk mengantar anak-anak ini ke sekolah. Beruntung sekolah mereka bersampingan. Jadi tak perlu bolak-balik lagi kesana-kemari. Wardah mengantar sendiri anak-anak ke sekolah. Ntahlah ia ingin mengantar sendiri tak mau diantar Pak Supir. Setelah memastikan Dinda dan Naya memasuki kelas, barulah Wardah mengantarkan Sakha ke sekolahnya yang berada tak jauh dari sekolah kakak-kakaknya. Sakha sebenarnya belum saatnya sekolah, tapi anak itu ngeyel ingin sekolah. Jadilah anak itu sekolah di umurnya yang masih kurang.


“Buna tinggal yaa... Nanti kalau sudah pulang Buna jemput lagi. Jangan ikut sama sembarang orang ya, cukup tunggu Buna, Ayah, atau Oma Opa yang jemput,” ujar Wardah.


“Iyaa Buna, nanti Cakha tungguin Buna!” jawab Sakha dengan semangatnya.


Beres dengan anak-anak, Wardah langsung meluncur ke kantor. Ia harus memastikan pekerjaan Eza dan dirinya tak ada masalah. Hendak melajukan mobilnya, tiba-tiba dering ponselnya berbunyi. Bang Fadhil? Ada apa gerangan dirinya menelepon?


“Maaf ya Bang, sepertinya untuk kumpul-kumpul belum bisa deh. Masih repot di rumah sama di kantor. Iyaa, nanti kalau udah senggang aku hubungin lagi yaa,” jawab Wardah menerima teleponnya.


Ia baru ingat jika mereka pernah membuat janji untuk bertemu bersama Gita (pacar Fadhil) juga. Beberapa minggu ini memang sedang sibuk-sibuknya.


Di kantor, Wardah mengecek pekerjaan Eza terlebih dahulu. Beruntung ada Mas Cokro sebagai tangan kanan Eza yang mengatur semuanya. Wardah hanya membantu yang mungkin bisa ia kerjakan. Berhubung pekerjaannya setelah hamil ini benar-benar dikurangi, ia jadi banyak waktu juga untuk membantu pekerjaan Eza.


Setelah selesai typing membacakan berita, Wardah mengecek jam tangannya. Benar saja sekarang saatnya menjemput Sakha dari sekolah.

__ADS_1


“Mau aku temenin nggak Dah? Aku jadi khawatir kalau kamu nanti kecapaian,” ujar Mbak Retno menawarkan diri.


“Nggak usah Mbak, aku tadi Cuma kerja duduk aja kok. Ini nanti aku mau langsung ke kantor Papa jemput Mas Eza,” jawab Wardah.


Berita perceraian Kak Winda memang belum go publik, bisa gempar dunia internet jika mendengar berita tak senonoh dari menantu salah satu orang ternama di negara ini. Jalanan tampak lancar terkendali. Mungkin memang karena belum jam istirahat. Sakha yang masih di tingkat persiapan sekolah memang tak sampai siang belajarnya. Sehingga tak perlu bergelut dengan padatnya lalu lintas. Mungkin nanti saat menjemput dua bocil lainnya, lalu lintas akan mulai padat.


Sampai di sekolah Sakha, tampak anak itu tengah ditemani oleh seorang guru perempuan dan juga seorang laki-laki. Dari postur tubuh itu, Wardah seperti kenal tapi siapa? Bukan kalau Eza. Jelas-jelas ia tahu benar perawakan Eza seperti apa.


“Buunaaa!!!” teriak Sakha yang menyadari Buna-nya sudah datang.


Anak itu sontak berlari menghampiri Wardah yang hendak berjalan mendekatinya. Sakha memeluk erat Wardah seolah terlampau rindu tak bertemu beberapa jam yang lalu. Wardah menggandeng Sakha untuk berpamitan pada Miss yang menemani tadi. Tak disangka, ternyata laki-laki yang ia tebak-tebak tadi adalah Bang Fadhil. Wardah melongo seketika melihat laki-laki itu. Bagaimana bisa ia ada di sini menemui Sakha juga. Ia rasa belum pernah memperkenalkan Sakha pada temannya itu.


“Bang Fadhil kenapa ada di sini?” tanya Wardah.


Daebak! Bisa-bisanya mereka bertemu tak terduga seperti ini. Padahal mereka sudah berencana bertemu, tapi belum terlaksana. Bahkan Miss yang menemani Sakha tadi juga sampai terheran-heran tak menyangka jika Buna Sakha adalah teman dari Bos mereka. Mereka berbincang sebentar sebelum Wardah mengajak Sakha pulang. Eza juga sudah memberitahunya jika sekarang dirinya ada di kantor Papa.


“Mending kita lanjut di kantor aku aja, nanti aku hubungin Gita biar dateng ke sana juga,” usul Fadhil sebelum Wardah pamit.


“Waduh, belum bisa kayaknya ini Bang... masih repot di rumah, sekarang ini saya juga mau jemput Mas Eza di kantor,” tolak Wardah dengan halus.


‘Kenapa kamu seperti menghindariku?’ bisikan dari hati terdalam mengusik.

__ADS_1


*******


Sampai di kantor Papa, Eza sudah menunggu di teras lobi. Sakha juga sudah melongok dari jendela berteriak-teriak memanggil Ayahnya dengan semangat. Tentu saja anak itu menjadi pusat perhatian para pegawai yang kebetulan ada di sana. Eza terkikik melihat tingkah anaknya. Ia justru sempat berfikir bagaimana ramainya rumah nanti jika adik Sakha sudah ada dan beranjak seperti Sakha.


“Waduuhhh, semangat bener nih Aden Cilik satu ini,” celetuk Pak Maman salah satu petugas keamanan di kantor Papa.


“Iyaa nih Pak, lagi semangat-semangatnya main,” jawab Wardah yang turun hendak berpindah posisi.


Setelah berpamitan saatnya mereka meluncur untuk kembali ke rumah. Kak Winda dan Papa setelah dari pengadilan langsung ke kantor karena masih ada pekerjaan. Sedangkan Mama juga masih di sana untuk menemani Kak Winda. Berhubung pekerjaan Eza juga sudah dihandle oleh Mas Cokro dan dibantu Wardah tadi, jadilah hari ini free sampai besok pagi. Eza mengemudikan mobil dengan Eza yang ada di pangkuannya. Bos kecil itu berlagak cosplay menjadi supir Buna-nya.


Selama perjalanan mereka mengobrol dengan asiknya. Diwarnai dengan ocehan-ocehan Sakha yang luar biasa. Wardah dan Eza memang menghindari berbincang urusan rumit jika bersama Sakha. Cukup mereka berbincang dengan asik saja sudah menyenangkan.


“Sakha mau beli jajan nggak?” tanya Eza.


“Mau-Mau! Mau beli es kiim,” jawabnya dengan semangat.


Wardah hanya bisa pasrah jika Ayah dan Anak itu sudah minat untuk jalan-jalan. Eza memutar mobilnya membelokkan ke arah Mall terdekat. Menjelang siang begini memang asik jika ngadem di pusat perbelanjaan. Kalau siang seperti ini juga tak begitu ramai. Sehingga Sakha juga tak perlu khawatir dengan para fens-nya.


Eza mendorong troli dengan Sakha yang duduk di sana. Sebelah tangan Eza menggenggam jemari Wardah agar tak terpisahkan. Niatan awal hanya akan membeli jajan untuk Sakha, tapi ternyata Buna dan Ayahnya juga ikut kalap di sini. Tiba-tiba Wardah dan Eza juga ikut berbelanja cemilan hingga keperluan-keperluan yang mereka butuhkan di rumah. Jadi belanja bulanan deh! Padahal biasanya hanya perlu beli perlengkapan di super market dekat rumah saja.


Dari tempat penyediaan barang pokok, mereka justru beranjak ke ruko yang lain. Barang-barang yang disediakan ternyata benar-benar menghipnotis Wardah untuk berbelanja. Dari pakaian, tas, aksesoris, mereka masuki semua. Yaa, walaupun akhirnya sebagian hanya melihat-lihat. Jika biasanya barang skincare tak pernah lupa kali ini hanya dilewati saja. Selama hamil, Wardah memang menghentikan perawatan skincare hingga make up.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2