Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Eza Dahulu


__ADS_3

Menjelang sore, Wardah tengah menyuci pakaiannya dengan Eza yang belum sempat ia cuci. Sebenarnya ada Si Mbok dan Mbak pekerja yang bisa saja mengurus hal ini, tapi Wardah tetaplah Wardah. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya dan segala kebutuhan suami sendiri. Ia tak ingin hal yang bersangkutan dengan suaminya khususon di rumah dikerjakan oleh orang lain. Bukan apa-apa, prinsipnya kebutuhan suami harus ia yang menyiapkan. Hitung-hitung untuk menabung pahala. Toh pahala mengurus dan melayani suami sangat besar. Agar tak terlalu merepotkan yang lain juga menjadi alasannya tentu saja.


Mbak Winda yang melihat adik iparnya tengah sibuk sendiri di ruang cuci berinisiatif untuk menemaninya. Ia begitu kagum dengan adiknya itu, hatinya lembut melebihi sutra.


“Dek, mau mbak bantuin?” tanya Mbak Winda.


“Nggak usah Mbak, kan tinggal pakai alat udah bersih sendiri. Hahaha, nggak kayak di pesantren dulu, harus pakai tangan,” jawab Wardah yang kini tengah duduk di kursi yang ada sembari menunggu mesin cucinya selesai.


“Mbak temenin deh!” ujar Mbak Winda duduk di samping Wardah.

__ADS_1


“Mbak Winda masih lama nggak stay di Jakartanya?” tanya Wardah.


“Kayaknya sih masih dek, Mas Rio lagi free habis nyelesaiin projek. Kenapa?” jawab Mbak Winda.


“Nanti bantuin Wardah ngurus si kecil ya Mbak? Wardah masih belum PD ngurusin balita,” lirih Wardah.


“Makasih ya Mbak, aku beruntung banget ketemu Mas Eza, semua keluarganya sangat welcome sama aku dan Bunda,” ujar Wardah.


“Hey, kami juga senang kamu yang jadi istri Eza dek… kamu tahu nggak Eza sempet kegirangan akan satu hal?” ujar Kak Winda. Wardah yang mendengar pancingan dari kakak iparnya tentu saja penasaran. Apa itu?

__ADS_1


“Saking senangnya, Eza bilang sama Mama dan Mbak kalau dia dapetin perawannya kamu! Padahal dia sudah sangat memantapkan diri saat tahu kalau kamu, maaf ya janda,” bisik Mbak Winda dengan gamblangnya. Wardah melongo dibuatnya. Bisa-bisanya Sang Suami menceritakan suatu hal yang sensitive seperti itu kepada kakak dan Mama-nya. Tapi justru cerita itu membuat Wardah semakin penasaran apa yang membuat Eza mau menikahinya.


“Dia dulu waktu di Bali atau dimana gitu pernah cerita kalau dia ketemu wanita anggun, cantik, dan menarik. Tapi ternyata sudah bersuami. Di sana dia benar-benar terpukul. Dia itu salah satu laki-laki yang susah jatuh cinta dek. Tapi sekalinya jatuh cinta malah sama orang yang sudah bersuami. Lha, pas kamu datang ke Jakarta dia senengnya masyaallah. Dia bahkan bersyukur waktu tahu kamu sudah kembali jumbo,” terang Mbak Winda.


“Mama sama Papa awalnya sempat menentang niat Eza yang ingin melamar janda, tapi setelah melihat kamu, Mama sama Papa justru sangat mendukung niat baik Eza. Jangan salah dek, dulu Mbak juga nggak setuju, hingga Mama menasehati Mbak akhirnya Mbak sampai sekarang bersyukur kamu yang jadi adik ipar Mbak,” sambungnya.


Wardah mendengarkan cerita kakak iparnya itu dengan seksama. Lika-liku hidupnya memang menyerupai rollercoaster, tapi ia mensyukuri hal itu. Satu hal yang ia takutkan, kembali kehilangan sosok laki-laki pujaannnya setelah sang Ayah. Tak baik memang terlalu berharap dengan manusia, atau bahkan mencintai makhluk Allah terlalu dalam, tapi itu yang ia rasakan semenjak bertemu sosok Eza. Ia terlalu mencintainya sampai ia sendiri tak tahu bagaimana caranya untuk mengontrol diri jika nantinya ada yang memisahkan mereka. Na’udzubillah,


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2