Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Keputusan Direksi


__ADS_3

Kak Winda langsung beranjak dari ruangan yang dipenuhi dengan kertas-kertas yang tertata rapi di rak yang berjejer. Kak Winda sengaja ke ruangan Rio lagi untuk memberitahu dua manusia tak beradab itu. Ia membuka ruangan itu langsung. Tampak dua sejoli itu tengah asik suap-suapan. Sukses membuat Winda mual mendadak.


"Kalian ditunggu di ruang direksi," ujar Kak Winda dan langsung keluar menuju ruang direksi.


Kak Winda menyempatkan diri ke toilet terlebih dahulu, benar-benar muak melihat mereka berdua. Baru setelah itu ia ke ruang direksi. Dilihatnya sudah ada Wardah yang sengaja menunggunya di depan ruangan.


"Kok kamu di sini dek?" tanya Kak Winda.


"Sengaja mau nemenin kakak, aku udah rela buat bolos kerja lhoo... Jadi Kak Winda harus semangat!" jawab Wardah.


"Iyaa, kekuatan terbesar sudah mode on ini, makasih ya sudah dukung kakak terus," ujar Kak Winda lagi.


Wardah tersenyum manis menimpali kakak iparnya itu. Ia mengelus lembut lengan Kak Winda dan memeluknya sayang.

__ADS_1


Tak tahan membendung air matanya, Kak Winda memeluk Wardah dengan eratnya. Sebenarnya ia tak ingin menangis, tiba-tiba dadanya bergemuruh ingin mengeluarkan semua amarahnya. Wardah mengelus lembut punggung kakak iparnya itu. Ia tak menghentikan tangisan kakaknya, ia tahu benar rasanya membendung air mata sangat menyesakkan. Biarlah kakak iparnya itu mengeluarkan semua agar lebih lega. Wardah mengajak Kak Winda menuju balkon yang tak jauh dari ruang rapat untuk menunggu kakaknya itu tenang.


“Sebenarnya kakak nggak mau nangis Dek, kakak sadar nggak ada gunanya nangisin orang kayak dia. Tapi kakak nggak kuat buat nahan tangisan ini,” ujar Kak Winda setelah tenang.


“Nggak papa, kita nggak salah kok buat nangis… Sekarang lebih lega kan?” jawab Wardah menenangkan.


Wardah menemani Kak Winda ke kamar mandi untuk membenarkan penampilannya. Barulah mereka siap ke ruang rapat para direksi.


Cklek! Kedatangan dua wanita cantik itu menyita perhatian orang-orang yang ada di sana. Jadilah perbincangan mereka terhenti. Wardah dan Kak Winda meringis, merasa tak enak telah mengganggu saat-saat fokus mereka. Tak sengaja manik mata Kak Winda melihat ke arah Rio yang didampingi sekretarisnya. Tampak raut wajah mereka yang sok polos di sana. Membuat Winda semakin geram. Wardah duduk di samping Eza dan Kak Winda di sampingnya dan juga di samping Papa sebagai pemegang direktur umum.


“Seperti kesepakatan kita tempo hari, kita semua sudah setuju dengan pemecatan Pak Rio dan menerima Bu Winda untuk mengatur manejemen perusahaan ini Pak!” sambung yang lain.


Wajah Rio sudah pucat pasi saat mendengar hal itu. Ternyata Papa dan Eza sudah mengatur pertemuan para direksi beberapa hari lalu dan sudah final. Sedangkan Ayu tampak bingung dan sibuk berbisik menanyakan maksud hal itu pada Rio.

__ADS_1


“Tidak bisa begitu Pak! Saya sebagai direktur umum dan pemilik sah perusahaan cabang ini tidak bisa semena-mena dipecat! Saya bisa tuntut kalian jika memperlakukan saya semena-mena. Toh saya juga memegang surat pernyataan kepemilikan perusahaan ini!” sanggah Rio.


“Kamu pikir saya tidak ada persiapan untuk mendepak kamu? Lalu, kamu lupa jika di atas jabatan Direktur Perusahaan itu masih ada Papa sebagai Direktur Utama seluruh anak perusahaan? Papa memang memberikan perusahaan ini kepada kamu sebagai suami Kak Winda dulu. Tapi sekarang kamu bukan suami Kak Winda,” jawab Eza.


Pada dasarnya dalam surat pernyataan itu disebutkan bahwa atas nama Rio merupakan suami sah dari Winda Gusrian. Dari celah itu dapat diurus kembali, dan dibatalkan surat pernyataan itu sebab Rio bukan lagi suami Kak Winda.


“Silakan jika Pak Rio ingin mengusung masalah ini ke pengadilan, dengan senang hati kami akan meladeninya,” sambung Kak Winda mimik setenang mungkin. Meski sebenarnya di balik meja, jemarinya tak henti meremas jemari Wardah.


Rapat selesai lebih cepat dari perkiraan ternyata. Tinggallah Rio yang masih diam membisu dengan Ayu yang sibuk mengoceh kepada Rio tanpa respon.


“Kamu diam bisa nggak sih! Biarin aku mikir dulu!” geram Rio menyentak Ayu yang dari tadi sibuk mengoceh.


Rio tengah berpikir keras kali ini. Bagaimana ia mengatur hidupnya setelah ini? Sudah pasti keluarganya tak akan menerimanya. Mungkin ada harapan diterima oleh keluarganya kembali. Tapi Ayu? Tak mungkin keluarganya akan menerima wanita itu.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2