Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
21+


__ADS_3

...Anak-anak minggir dulu yee!...


Masih di tempat yang sama. Tepatnya saat ini Wardah dan Eza selesai sholat maghrib berjamaah. Mereka berdua melantunkan ayat demi ayat yang menjadi bacaan rutin tiap malam jumatnya. Tepat waktu sholat isya' mereka selesai membaca Al-Quran. Dilanjutkan dengan sholat berjamaah.


Setelah mencium tangan Eza, Wardah memilih untuk merebahkan kepalanya di pangkuan Eza. Memeluk perut sispeknya. Aroma parfum Eza memang mampu menarik perhatian Wardah. Wardah sangat senang menikmati aroma ini. Apalagi ditambah dengan Eza yang mengelus kepala Wardah. Menjadikan Wardah mengantuk.


"Ay, Mas mau meeting bentar ya," ujar Eza.


"Kan cuti Mas, masak masih meeting?" tanya Wardah.


Eza meraih gawainya dan menunjukkan chatingan grub kantor tentang jadwal meeting dadakan malam ini.


"Ya udah aku mau mandi ajah," ujar Wardah.


"Malam-malam mau mandi?" tanya Eza.


"Iyaa, pengen berendam... Kan ada air hangat," jawab Wardah sembari membereskan peralatan sholatnya.


Eza berpindah ke sofa yang ada di sisi tempat tidur. On time sekali orang satu ini. Berhubung Eza sudah fokus dengan rekan kerjanya, kini saatnya Wardah melakukan aksinya. Wardah mengambil bingkisan yang diberikan Anisa. Ia juga membawa bingkisan yang diberikan Mama. Tak dapat dipungkiri, ia sangat penasaran dengan bingkisan itu.


Ntah mengapa Mama dan sahabatnya itu memberikan intruksi yang sama. Mereka meminta Wardah membuka bingkisan itu saat malam pertama di lokasi liburan. Di depan kaca wastafel Wardah membuka bingkisan dari Mama terlebih dahulu.


Betapa terkejutnya ia melihat baju haram dari bingkisan itu. Spontan Wardah kembali memasukkan baju itu. Melihat isi bingkisan dari Anisa, Wardah kembali syok melihat hal yang sama. Kenapa mereka memberinya bingkisan seperti itu? Wardah malu sendiri melihatnya.


Wardah memilih untuk berendam. Merelax-kan pikirannya. Wardah baru saja menelepon Anisa, siraman rohanilah yang ia dapatkan. Ia masih berkecamuk dengan dirinya sendiri. Mana mungkin ia memakai baju kurang bahan itu?


Setelah satu jam memantabkan diri, akhirnya Wardah memilih untuk memakai baju itu. Melihat dirinya di pantulan cermin saja sukses membuatnya merinding. Ia merasa bertransformasi menjadi wanita penggoda.


"Wuiihh! Mantab Dah!" celetuk Anisa.


Tiba-tiba saja Anisa video call Wardah. Tepat saat Wardah sudah mengenakan baju haram itu.


"Maluu," lirih Wardah sembari mengeringkan rambutnya.


"Tenang zeyeng, kamu sempurna pakai baju pilihan Mama. Hahaha," jawab Anisa.


"Mana kembar?" tanya Wardah.

__ADS_1


"Ada tuh lagi main sama Abinya. Nggak usah minta tunjukin ya. Elu lagi pakai baju kek gitu," jawab Anisa.


"Udah sana tunjukin ke Eza. Semangat zeyeng. Assalamu'alaikum," Anisa mematikan sambungan teleponnya sepihak.


Wardah menghembuskan napas beratnya. Kembali melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Jantungnya semakin bergemuruh. Jika tidak sekarang kapan lagi? Pikirnya. Ia sudah lama membiarkan Eza bersabar.


Dengan hati-hati Wardah membuka pintu kamar mandi melihat posisi Eza. Ternyata dia masih di posisi yang sama. Wardah menyambar jubah mandinya untuk menutupi tubuh ****nya. Keluar dengan perlahan, tapi sama sekali tak mengalihkan perhatian Eza. Wardah kembali melihat tatanannya di cermin. Perfect!


"Mas?" panggil Wardah dengan suara nan lembut.


"Hmmm," jawab Eza yang masih fokus kepada iPadnya.


"Mas..." panggil Wardah lagi dengan membuka tali jubah mandinya. Percayalah tangan Wardah kali ini gemetar.


"Merinding Ay denger Ayang manggilnya kek git..." jawab Eza yang kini terbengong melihat penampilan istrinya.


"Kita lanjutkan besok siang saja ya rapatnya! Kalian sambung dulu. Saya ada urusan. Assalamu'alaikum," pamit Eza langsung mematikan iPadnya.


Seringai Eza terpancar sudah dari bibirnya. Jangan lupakan tatapannya pula. Kerlingan dari matanya terlihat jelas sekali. Dengan tergesa Eza menghampiri Wardah. Memegang pinggang Wardah mendekatkan Wardah agar menempel dengannya.


"Kalau udah gini, berarti udah siap. Kitakan udah sholat plus ngaji," ujar Eza mengen*us telinga Wardah.


Sontak Eza mendorong Wardah ke dinding. Memulai aksinya dengan mel*mat bib*r Wardah. Wardah yang masih gagu mulai mengimbangi permainan suaminya. Eza melepaskan jubah mandi Wardah dan membimbing tangan Wardah agar melingkar di lehernya.


Dari bib*r manis Wardah, Eza kembali menelusuri leher dan telinga Wardah. Wardah tak sanggup mempertahankan kebungkamannya. Suara indah pun keluar dengan santainya dari bi*irnya. Eza semakin dibutakan dengan api ga*rah mendengar de*ahan Wardah.


Eza membimbing Wardah menuju tempat tidur mereka. Membaringkan Wardah pelan-pelan memastikan agar istrinya berbaring dengan nyaman.


...Tuutt... Tuuuttt... Tuut.......


...Sensoorrrr.......


Eza meraih gawainya yang ada di atas nakas.


"Mau ngapain Mas?" lirih Wardah. Jelas sekali terlihat jika Wardah sangat lelah.


"Kebutuhan konten Ay," jawab Eza.

__ADS_1


Digenggamnya jemari Wardah, dan mulailah ia memotret pemandangan indah itu.



Wardah memutar bola matanya jengah melihat tingkah suaminya.


"Terima kasih cantikku," ujar Eza sembari memeluk erat tubuh istrinya.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Eza tak membiarkan Wardah istirahat hingga menjelang pagi. Jelas saja Wardah kelelahan. Mereka hanya memiliki waktu dua jam menjelang sholat subuh untuk beristirahat.


"Mandi dulu aja deh Mas..." ujar Wardah.


"Kan masih capek Ay... Istirahat dulu ajah, nanti Mas bangunin sebelum subuh," jawab Eza menenggelamkan wajah Wardah ke dalam pelukannya. Wardah menganggukkan kepalanya tanda setuju. Nyaman sekali dipeluk Eza. Tak jarang jemari Wardah meraba kotak-kotak di perut Eza.


"Jangan gitu Ay, mau Mas terkam lagi ya?" tanya Eza.


Wardah meringis menanggapi Eza. Kemudian melanjutkan tidurnya.


Cuplikan Kekagetan Eza:


Tepat saat-saat yang dinantikan Eza. Wardah tampak meringis sembari mencengkeram lengan atas Eza.


"Sakit Ay?" tanya Eza mengusap lembut rambut Wardah, kemudian mencium mata Wardah yang mengeluarkan air mata. Wardah mengangguk lemah sebagai jawaban.


"Apa karena sudah lama tidak berhubungan?" batin Eza.


"Takut Mas... Pelan-pelan ya," lirih Wardah.


"Ay, Cak Ibil nggak nyentuh Ayang ya?" tanya Eza hati-hati. Wardah mengangguk dan memeluk erat leher Eza.


Dada Eza rasanya kini berkecamuk. Ia sungguh senang sekali. Tapi ia tak tahu harus berekspresi seperti apa.


"Iyaa sayang... Mas akan pelan-pelan," ujar Eza melanjutkan aksinya.


Eza memang sedikit benci dengan Cak Ibil. Tapi sepertinya ia juga harus berterima kasih. Karena ia diberikan janda tapi perawan.


🌾🌾🌾

__ADS_1


...Bersambung...


Maaf gaess, Lhu-Lhu udah up malam, tapi review dari pihak sananya yang lama. Maaf yaaa....


__ADS_2