Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Cauple


__ADS_3

“STOPPP!” TERIAK Wardah yang sudah geram dengan para santri yang mengerubungi Sakha dan Eza.


Sontak mereka semua diam membisu dan mulai menjauh dari Sakha yang masih menyembunyikan wajahnya pada Sang Ayah. Ning Vida dan Umi-nya sampai terkagum-kagum pada Wardah yang ternyata bisa geram juga. Mereka pikir Wardah sangat kalem. Keluar juga sisi Wardah yang lain.


“Kalau mengerubung begitu Sakha-nya jadi takut, pelan-pelan, kalau dia sudah nyaman baru diajak mainan,” ujar Wardah yang kini sudah di samping Eza.


“Kenapa di ajak ke sini sih Mas?” tanya Wardah pada suaminya.


“Sakha-nya yang ngeyel mau ikut…” bela Eza. Ia sudah persis kerupuk yang mimpes terkena air saat mendapat sorotan mata tajam dari istrinya.


“Hehehe, maaf nggeh Umi, Ning Vida, Mbak-mbak santri, jadi kelepasan teriaknya,” ujar Wardah yang langsung mengubak mimik wajahnya seramah mungkin.


“Kalau nggak gitu nggak diam Mbak-Mbak ini,” jawab Umi dengan senyumnya yang tak pernah luntur.

__ADS_1


“Nanti atau besok kita foto bareng sama Sakha ya Mbak-Mbak,” ujar Wardah pada para santri.


“Iyaa Ning,” lagi-lagi dipanggil Ning. Ini ulah Ning Vida, Wardah hanya diam menanggapi dan melanjutkan sesi Latihan.


Eza dan Sakha menunnggu Buna-nya yang tengah Latihan. Waktu demi waktu Sakha mulai mau turun dari pangkuan Eza. Anak itu bahkan kini sudah digendong oleh Ibunda Ning Vida. Ia juga sudah mengoceh dengan Umi yang terus tertawa mendengar kecedalan anak itu.


Latihan selesai tepat pada pukul 10. Wardah yang harus kembali liputan di awal dibukanya acara tak jadi karena sudah digantikan Faiz. Faiz memutuskan untuk tetap stay di tempat acara bersama seniornya yang lain. Momen langka seperti ini tak boleh ia lewatkan. Selepas Latihan mereka evaluasi bersama sembari berbincang ringan. Anggaplah ini sebagai jumpa fans untuk Wardah dan juga Sakha. Untung saja Sakha sudah dapat dengan cepat berbaur, dengan begitu Mbak-Mbak santri tak kecewa. Sakha kini juga tengah berada di tengah-tengah mbak santri yang mengajaknya bermain.


Bersabar sebentar memberi waktu untuk Sakha mengenali lingkungan baru memang perlu dilakukan. Melihat Sakha yang sudah enjoy dengan mbak-mbak santri membuat Wardah memiliki ide cemerlang. Kita tunggu saja besok.


Dengan girangnya Sakha membalas lambaian tangan itu meski matanya sudah lebih berat dibandingkan beberapa jam yang lalu. Sampai di kamar, Wardah dan Eza mandi terlebih dahulu. Karena mereka tadi sempat kehujanan. Jangan sampai badan mereka sakit besoknya. Barulah mereka beristirahat. Tak lupa Eza menelepon Faiz dan rekannya yang lain untuk memastikan kelancaran siaran langsung di stasiun tv mereka.


***

__ADS_1


Pagi-pagi buta setelah sholat subuh Wardah dan Eza sudah bersiap untuk kembali ke stadion. Setelah sholat subuh adalah jadwalnya sholawat akbar yang dipimpin langsung oleh Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf. Pasti di sana sudah seperti lautan manusia. Sakha yang semalam begadang tentu saja kini masih pulas di atas tempat tidur. Jadilah Kak Aisyah yang menunggu bocil itu.


Benar dugaan mereka, di area Glora Delta sudah dipenuhi oleh ribuan jamaah. Bahkan dari semalam semakin bertambah. Eza merangkul Wardah agar tetap bersamanya. Rawan berpisah jika melihat banyaknya orang seperti ini. Sampai di dalam Wardah langsung bersiap pada posisinya. Kembali Eza menemani istrinya liputan. Bukan hanya melihat, tapi juga kembali menjadi reporter lapangan lagi.


Suami istri itu sudah siap melaporkan kondisi terkini Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama. Mungkin hanya di sini para pemirsa bisa menemukan sepasang kekasih yang menjadi reporter bersama. Momen langka ini akan menjadi salah satu keuwuan mereka.


"Eza benar-benar di luar dugaan," celetuk salah satu rekan.


"Bucin akut Kak Eza sama Kak Wardah," jawab Faiz yang kebetulan ada di sampingnya.


"Pasti nanti banyak berita terkait mereka sebentar lagi,"


Dengan serasinya Wardah dan Eza mengabarkan kondisi terkini di sekitarnya. Tanpa latihan berdua mereka membawakan penyampaian dengan sangat lihai. Memang beda jika sudah dipegang langsung oleh ahlinya. Mereka sama sekali tak bingung atau belibet saat bergantian berbincang. Benar-benar hebat.

__ADS_1


"MARI SAKSIKAN GEBYAR SHOLAWAT BERSAMA HABIB SYECH BIN ABDULLAH ASSEGAF BERIKUT INI," ujar Wardah dan Eza bersamaan mengakhiri voice presenter.


...Bersambung ...


__ADS_2