
Masuk ke kamar, Cak Ibil sudah berbaring di tempat tidur. Sepertinya sudah tertidur. Wardah mengambil baju ganti untuk tidur malamnya yang masih tersusun rapi di koper.
"Dari mana Wardah?" Tanya Cak Ibil setelah Wardah keluar dari kamar mandi.
"Habis mancing," Jawab Wardah asal sembari membereskan baju kotornya. Esok mereka akan kembali ke Jombang.
Duduk dulu Wardah, saya ingin bicara," Ujar Cak Ibil.
"Huufft.." Helaan napas berat keluar dari pernapasan Wardah. Wardah menurut dan duduk di sofa yang ada di samping tempat tidur.
"Boleh saya mengajukan permohonan Mas?"Tanya Wardah lirih sambil menunduk.
"Silahkan," Jawab Cak Ibil.
"Ceraikan saya," Ujar Wardah.
Sontak Cak Ibil kaget dibuatnya. Tak menyangka jika Wardah akan mengajukan hal itu. Ia tahu, cepat atau lambat sang istri akan mengajukan hal itu, tapi Cak Ibil kelihatannya belum memikirkan hal itu.
"Jangan sekarang Wardah, saya mohon... Beri saya waktu untuk mencoba menata hati lagi," Ujar Cak Ibil dengan berjongkok menggenggam jemari Wardah.
"Berapa lama?" Tanya Wardah.
__ADS_1
"5 bulan!"
What! Lima bulan? Gila apa! Selama itu! Itupun belum tentu Cak Ibil luluh. Wardah benar-benar tak mau berharap lebih lagi terhadap Cak Ibil, khawatir akan menyakiti hatinya.
"4 bulan!" Sanggah Wardah.
"5 bulan!" Kekeh Cak Ibil.
"3 bulan!" Tegas Wardah.
"Oke-oke, 4 bulan," Cak Ibil mengalah.
"Fiks 3 bulan!" Tegas Wardah yang langsung berdiri dan keluar dari kamar mereka.
Wardah memilih untuk bermalam di kamar yang ada di lantai 1. Wardah harus bisa meluluhkan hati suaminya sendiri. Dalam waktu 3 bulan.
.
.
.
__ADS_1
"Saya akan berusaha mencintai kamu Wardah... Saya tidak akan menyentuh kamu seutuhnya sebelum saya benar-benar mencintai kamu. Jangan buka jilbab kamu sebelum saya menyatakan cinta untuk kamu... Biarkan itu sebagai hadiah jika saya berhasil melunakkan hati saya," Ujar Cak Ibil ketika mereka akan kembali ke Jombang.
Jika biasanya Cak Ibil akan menghindar dari Wardah, kali ini tidak. Cak Ibil makan di rumah mereka, memakai pakaian yang disiapkan Wardah, dan mereka sudah saling berbincang walaupun hanya membahas hal yang sangat penting. Wardah ataupun Cak Ibil sepertinya belum siap untuk saling terbuka.
Jika dahulu Cak Ibil lebih sering keluar rumah, kini ia lebih sering berada di rumah. Walaupun hanya sekedar menonton tv mungil yang sengaja di sediakan untuk asatidz pesantren. Beliau kadang juga lalaran kitab. Sesekali Cak Ibil menyimak Wardah yang lalaran Al-Quran ataupun Wardah yang mendengarkan suaminya membacakan kitab kuning yang ada di tangannya.
Tak terasa, rutinitas penyesuaian diri sudah berlangsung selama 1 bulan. Bahkan malam nanti merupakan universary.
"Assalamu'alaikum Bunda? Tumben telepon duluan, biasanya kan Wardah dulu yang telepon. Hehehe" Ujar Wardah pada wanita paruh baya di seberang sambungan telepon.
"Pulang? Kenapa?" Tanya Wardah bingung.
"Iya Bunda, lusa Wardah akan pulang... Besok Wardah harus izin pada Abah Kyai dan Umi terlebih dahulu," Jawab Wardah.
"Inggih Bunda, Wardah pulang sendiri,"
"Wa'alaikumussalam," Wardah menutup teleponnya.
Suaminya belum pulang dari mengajar, mau tak mau Wardah harus menunggunya untuk izin pulang ke rumah Bunda dan Kak Yusuf. Ntah kenapa Bunda tiba-tiba memintanya pulang. Suaranya juga tampak panik serta sedikit gemetar.
"Pulang besok! Jangan nunggu lusa!" Sebuah notif Whaatsap muncul. Ternyata dari Bunda.
__ADS_1
"Nggih Bunda" Jawab Wardah.
Bersambung....