Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Permohonan


__ADS_3

“Kak, tolong kak, maafkan papa saya… Apa kakak tega melihat saya dan Mama saya terlantar setelah papa saya ditangkap seperti ini?” mohon seorang gadis berusia sekitar 17 tahunan pada Wardah.


Tiba-tiba saja seorang anak perempuan menerobos masuk ke rumahnya pagi-pagi sekali. Ia mulai memohon pada Wardah untuk membebaskan ayahandanya. Kak Yusuf hampir naik pitam mendengar permohonan gadis itu. Sudah ia usir sedari tadi jika Wardah dan Kak Ina tak mencegahnya. Eza masih membaca kondisi bagaimana mengurus anak ini. Tenang, Eza tak berfikiran untuk melakukan tindakan criminal. Sudah banyak cerita-cerita dan ungkapan yang disampaian gadis itu. Mereka berempat hanya mendengarkan.


“Hey, anak kecil! Haiissh! Bagaimana saya bisa memanggil kamu?” geram Eza bingung sendiri bagaimana memulai pembicaraannya.


“Jangan gugup gitu dong di depan gadis manis ini,” goda Wardah.


“Ay… Jangan merendah untuk meroket buat kamu dong.” Jawab Eza.

__ADS_1


“Kamu lebih menggoda dari bocak ini tahu,” sambungnya dengan berbisik pada Sang Istri.


Bisa-bisanya mereka berdua bergurau di tengah dramatisasi pagi ini. Kak Yusuf memutar bola matanya jengah melihat kelakuan adik-adiknya itu. Setelah gombalan itu suasana kembali fokus.


“Anak manis, sebelum kamu mengatakan kemungkinan-kemungkinan menyedihkan yang akan terjadi setelah ayah kamu nggak ada, kamu ada nggak memikirkan bagaimana keadaan istri saya dulu saat tahu ayah tercintanya tiba-tiba terbunuh padahal tak melakukan kesalahan sama sekali? Bahkan dulu dia lebih kecil dari kamu, kalau nggak salah sekitar umur 13 tahun. Bener nggak Ay?” tanya Eza. Dibalas anggukan oleh Wardah.


“Kamu nggak salah dek, kakak tahu ketakutan kamu saat ini, yang perlu kamu lakukan hanya mendukung suatu hal yang seharusnya ada di jalannya. Jangan kamu dukung sesuatu yang salah,” ujar Wardah.


Anak itu terdiam mendengarkan ujaran Wardah. Ia tahu ayahnya salah di sini. tapi ia takut bagaimana kehidupannya setelah ayahnya tiada? Ia pasti malu berhadapan dengan orang-orang yang mengenalnya. Seluruh hartanya pasti akan disita. Bagaimana ia dan mamanya akan melanjutkan hidup nanti?

__ADS_1


“Kamu harus bisa melanjutkan hidup kamu, buktikan bahwa keluarga kamu tidak seperti ayah kamu. Ajak ayah kamu bertaubat sebelum terlambat. Mungkin dengan pengakuannya hukuman yang dijatuhkan nanti bisa lebih ringan,” ujar Kak Ina akhirnya bersuara meski sebenarnya yang ia ucapakan bisa terjadi ataupun tidak.


Wardah sempat meminta kepada Eza untuk mencari tahu kepribadian anak perempuan di hadapannya. Anak itu masih SMA, bersekolah di sekolah internasional di kota metropolitan ini. Kebiasaannya dapat dikatakan cukup bebas. Bagaimana tidak? Anak ini difasilitasi oleh harta yang berlimpah dan kebebasan bergaul. Anak ini sering menghabiskan waktunya di sebuah café dengan teman-temannya yang cukup bebas pergaulannya. Ia juga sering kali membolos dari jam les yang sengaja diatur oleh orang tuanya untuk sekedar nongkrong.


“Kemungkinan kamu bakalan pindah sekolah, jadi gaya hidup hedon-nya dikurangin ya, buat untuk hal yang bermanfaat,” saran Wardah sebelum anak itu pergi.


Wardah tadinya meminta Eza untuk memberikan sejumlah fasilitas untuk anak itu beserta ibunya. Setelah melihat kesehariannya yang tak sesuai dengan ekspektasinya, membuat Wardah mengurungkan diri memberikan hal itu.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2