Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Jalan-jalan


__ADS_3

Setelah sarapan, Wardah berkumpul dengan keluarga Eza di ruang keluarga. Wardah masih berusaha membujuk Papa dan Mama untuk mencabut titahnya. Titah untuk menetapkan Wardah menjadi presenter.


Ia belum siap untuk menjadi konsumsi publik. Baru pagi ini menjadi presenter saja, notif di gawainya sudah membeludak. Ntah tahu dari mana nama akun IG-nya. Banyak sekali yang menandai dirinya di story ataupun laman feed.


"Selamat pagi Tante! Om!" sapa seseorang yang tiba-tiba masuk. Menyalami Papa dan Mama dengan melewati Wardah yang ada di tengahnya.


"Pagi De, kamu dari mana? Tumben ke rumah," jawab Mama Sarah.


"Aku habis pemotretan Tante, terus dapet kabar kalau Mas Eza pulang ke sini. Jadinya aku langsung ke sini deh," jawabnya kemudian menggeser Alif yang duduk di samping Eza.


"Eh! Itu siapa?" tanya Dea, nama wanita itu.


"Ini Wardah, anak barunya Tante sama Om," jawab Mama Sarah. Sedangkan Wardah hanya tersenyum sopan pada wanita yang bernama Dea itu.


"Dedek, ini Dea. Sepupunya Eza sama Alif," ujar Papa. Wardah mengangguk dan tersenyum kepada Dea. Hendak menyalaminya, tapi Dea malah melengos. Mama mengelus lembut jemari Wardah mengisyaratkan agar tak kaget.


"Sayang, ikut Mama pergi sebentar yuk! Mama mau belanja bulanan," ajak Mama pada Wardah. Mama tahu betul suasana ini sangat mencekam bagi Wardah. Melihat Dea yang sok manja dengan Eza, membuat Mama eneg. Anak dari Kakaknya.


Wardah hendak menolak pun tak kuasa. Ia juga tak nyaman dengan tingkah sepupu Eza itu. Akhirnya Wardah mengangguk mengiyakan.


"Alif ikut Ma!" ujar Alif.


"Oke! Siap-siap sana! Mama mau ganti baju juga. Tunggu sebentar ya sayang," ujar Mama.


Alif bergegas naik ke kamarnya untuk bersiap. Sedangkan Mama ke kamarnya. Wardah masih stay di samping Papa.


"Jangan gitu dong De, sumpek tahu," keluh Eza mendorong Dea agar menjauh darinya.


"Tante, nggak mau ngajak Dea ta?" tanya Dea pada Mama Sarah yang baru saja datang.


"Nggak! Tante mau ke pasar besar, kamu mau?" tanya balik Mama. Pasalnya pasar besar itu merupakan pasar tradisional. Karena memang lebih hemat berbelanja bahan makanan atau sayuran di pasar besar.


"Ya udah, Dea di sini aja sama Mas Eza," jawab Dea.


"Ayo Ma!" ajak Alif. Ia berjalan menghampiri Wardah dan merangkul lengan Wardah dengan spontan. Mau tak mau Wardah terhuyung mengikutinya.

__ADS_1


Eza tersulut emosi seketika. Dirinya saja tak berani menggandeng Wardah, Alif tanpa meminta persetujuan seenak jidatnya menggandeng Wardah. Eza mengejar Alif dan meninggalkan Dea yang ada di sampingnya.


"Alif! Ngapain sih kamu?" Wardah mencoba melepaskan Alif. Serasa jadi bocil jika di samping Eza ataupun Alif.


"Syuuth, diem dulu Kak! Kalau Kak Eza marah, berarti Kak Eza beneran suka sama Kak Wardah," ujar Alif.


Benar dugaan Alif. Eza langsung menarik lengan Wardah dari Alif. Mendorong Alif kuat-kuat.


"Mas!" teriak Wardah. Alif sampai terjatuh di lantai akibat dorongan itu.


"Berani kamu megang-megang punya Kakak!" tegas Eza.


"Santuy Kak, lihat tuh, Kak Wardah takut," ujar Alif santai.


"Gak papakan Dek?" tanya Eza.


"Mas tuh yang kenapa? Main dorong-dorong ajah," jawab Wardah melepaskan tangan Eza yang memegang lengannya.


"Kan! Kak Eza bohong. Katanya nggak pacaran sama Kak Wardah, tapi kenapa marah kalau Alif gandeng Kak Wardah?" tanya Alif.


"Udah-udah, ayo berangkat!" ajak Mama Sarah melerai putranya.


"Dek, jangan dekat-dekat Alif yaa," lirih Eza menarik lengan baju Wardah.


"Nggak janji ya," ledek Wardah kemudian mengikuti Mama memasuki mobil.


.


.


.


Sampailah kini mereka di salah satu pasar tradisional Jakarta. Berhubung bahan masakan di rumah habis, makanya Mama mengajak Wardah pergi. Padahal biasanya ada si mbak dan mbok yang berbelanja, tapi kali ini mama memilih untuk terjun langsung.


"Alif di mobil aja Ma. Nanti kalau di Mall baru ikut," ujar Alif ketika mereka sampai di parkiran.

__ADS_1


"Nggak! Nggak ada! Kamu bantuin Mang Nurdi angkat barang belanjaan!" ujar Mama.


Hendak membantah pun percuma, akhirnya Alif dan Mang Nurdi mengikuti Mama dan Wardah yang berjalan terlebih dahulu.


"Dedek suka masak?" tanya Mama.


"Bisa dikit-dikit Ma," jawab Wardah merendah.


"Pernah beli di pasar begini?" tanya Mama lagi.


"Pernah Ma, biasanya ngantar Bunda di rumah. Kalau di Jakarta, sesekali aja kalau ada temennya baru berangkat." jawab Wardah.


Bunda manggut-manggut mendengar penuturan Wardah. Mama tampak memilih-milih sayuran di bantu Wardah. Wardah bertugas tawar menawar, hahaha. Jangan salah, Wardah tahu harga sayuran pada umumnya. Tak jarang para pedagang sengaja meninggikan harga jualnya jika berhadapan dengan orang kaya. Mecari kesempatan dalam lesempitan.


Maklumlah, Mama memakai pakaian branded-nya. Ditambah Alif dan Wardah yang mengenakan pakaian formal. Karena memang Wardah tak sempat berganti pakaian santai. Dan tujuan mereka yang akan ke Mall menuruti requests Alif.


"Dek, kamu nggak risih ke pasar kayak gini?" tanya Mama. Wardah memasang wajah bingung mendengar penuturan Mama. Risih? Apa sebenarnya Mama gak suka berbelanja di tempat ini?


"Hahaha, biasa aja mukanya. Mama dulu pernah ngajak Dea ke pasar, dia nggak mau sama sekali ikut ke dalam. Katanya bau, jorok, jijik, gitu... Saat Mama melihat kamu, Mama paham kalau kamu udah biasa keluar masuk pasar,hahaha," ujar Mama.


"Dulu sepeninggalnya Ayah, Bunda pernah jualan di pasar Ma... Kalau Dedek libur, ya bantuin Bunda jualan," jawab Wardah.


"Iya? Masyaallah, berapa lama Bunda jualan?" tanya Mama penasaran.


"Eemmm, sampai Dedek hampir lulus MA, setelah itu dibantu Kak Yusuf untuk melanjutkan usaha butik Bunda yang sempat berhenti, dan sampailah saat ini, alhamdulillah sukses," jawab Wardah.


.


.


.


Setelah ke pasar besar, tujuan mereka kali ini adalah Mall Plaza City. Menuruti kehendak bungsunya Mama. Sekalian Mama juga akan bertemu teman-teman arisannya. Perasaan Wardah mulai tak karuan. Pasti jika bertemu teman akan membutuhkan waktu lama. Akankah ia mampu menonton ibu-ibu itu bercakap ngalor-ngidul?


...Bersambung.... ...

__ADS_1


__ADS_2