Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
reuni


__ADS_3

Anyoong yarabuunmn! Lhu-Lhu kembali menyapa kalian nih!


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu. Pagi ini Wardah tengah bersiap untuk bertemu dengan Dita dan juga Fadhil. Minggu lalu mereka telah berencana untuk bertemu dengan teman-teman alumni pesantren yang ada di Jakarta.


"Yakin nggak aku anterin Ay?" tanya Eza.


Pasalnya Eza sebenarnya ingin ikut dengan Wardah sekaligus menjaganya. Tapi sang istri justru menolak. Ia khawatir jika nanti suaminya akan bosan di lokasi. Ditambah lagi Sang suami akan ada meeting penting juga hari ini. Membuat Wardah semakin kekeh untuk berangkat sendiri saja. Toh Dita dan Bang Fadhil nanti akan menjemputnya.


"Yakin Mas, tenang aja yaa.... Aku bakalan aman kok, kan ada Dita juga nanti," jawab Wardah.


Eza memang mencoba untuk tetap tenang. Meski sudah ada Dita dan Fadhil, tak dapat dipungkiri bahwa dirinya tetap khawatir. Mengingat jika pelaku teror mereka belum terpecahkan. Oh iya! Hari ini Eza juga akan ke tempat temannya. Infonya, sudah ada titik terang mengenai intaian mereka.


Eza berangkat ke kantor terlebih dahulu. Sekaligus mengantarkan Dinda, Naya, dan juga Sakha ke sekolah. Bunda beberapa hari yang lalu juga sedang di Jombang. Istri dari Kak Faisal sudah akan melahirkan.


Wardah yang juga sudah hamil besar tentu saja tak diizinkan orang-orang untuk bepergian jauh. Beruntung kakak dan kakak iparnya mengerti dengan keadaannya.


Setelah membantu Si Mbok beberes di dapur, Wardah segera bersiap untuk temu alumni. Tak perlu waktu lama, ia hanya berdandan simpel. Saat turun ke bawah ternyata Bang Fadhil sudah di sana bersama dengan Gita. Gita menghampiri Wardah dan menyambutnya dengan pelukan. Sepertinya memang sudah lama sekali mereka tak berkumpul seperti ini. Terakhir saat makan bersama di halaman belakang beberapa minggu yang lalu.


“Makin buncit, makin cantik aja sih bumil satu ini?” goda Gita.


“Bisa aja, oh iya! Aku denger kalian sudah menentukan tanggal tunangan?” tanya Wardah.


“Iyaa, dua minggu lagi,” bisik Gita dengan tersipu.


Alhamdulillah, akhirnya mereka benar-benar akan menuju jenjang yang lebih serius. Wardah dengar, mereka berdua sudah menjalin hubungan cukup lama. Bahkan saat mereka dipertemukan kembali, Gita dan Fadhil sudah menjalin hubungan.


Wardah berpamitan dengan Mama sebelum pergi. Karena memang yang lain sudah tak ada di rumah. Gita sampai meyakinkan Mama dan berjanji untuk menjaga Wardah. Maklumlah, ini adalah kali pertama bagi Wardah pergi tanpa pengawasan orang rumah terkhusu Eza.


Baru saja memasuki mobil, Wardah sudah bersiap untuk menghubungi Sang Suami. Beruntung saat dihubungi, Eza masih bisa break di tengah-tengh meeting-nya.


‘Pokoknya inget ya Ay, jangan sekali-kali lepas kalung kamu,’ ujar Eza sebelum benar-benar menutup teleponnya.


“Iyaa Mas Eza sayang, nggak akan aku lepas sama sekali,” jawab Wardah gemas.

__ADS_1


Gita hanya tersenyum gemas melihat temannya itu. Sesekali ia melirik ke arah Fadhil untuk melihat ekspresinya. Aneh! Ia hanya melihat ekspresi datar dari laki-laki itu. Padahal tadi tampak happy-happy saja saat akan berangkat.


Wardah kini tengah duduk di kursi belakang dengan Gita yang menemani Fadhil di jok depan. Gita sempat menawarkan diri untuk menemaninya duduk di belakang. Tapi Wardah tentu tahu diri, justru ia senang jika Gita duduk bersama dengan pacarnya.


Perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya sampai juga. Tibalah mereka di sebuah restoran yang menjadi tempat reunian. Gita dan Wardah bergandengan memasuki cafe itu. Fadhil? Laki-laki itu tentu saja berjalan di belakang dua wanita cantik tersebut. Banyak wajah yang tak asing bagi Wardah. Tapi ia tak ingat nama masing-masing mereka. Sepertinya yang seangkatan dengannya tak ada. Rata-rata adik tingkat dan beberapa ada yang kakak tingkat.


Wardah mengikuti Gita untuk menyapa mereka. Banyak yang menyapa Wardah, tapi ia sungguh tak ingat nama mereka. Percayalah, Wardah sungguh tak asing dengan wajah-wajah itu, tapi ingatannya sungguh payah mengenai nama. Satu yang sangat Wardah ingat selain Gita. Wardah mendekati seorang perempuan yang sangat familiar di pesantrennya dulu.


“Mbak Fitriii?” gumam Wardah.


“Tak kirain kamu udah ngelupain Mbak, Dek,” ujar perempuan itu.


“Beneran Mbak Fitri-kan?” tanya Wardah lagi memastikan.


Mbak Fitri mengangguk dan tersenyum gembira pada adik tingkatnya yang menggemaskan itu. Lama sekali mereka tak bersua. Bahkan selama beberapa tahun ini mereka sudah hilang kontak satu sama lain. Mbak Fitri merupakan salah satu kakak tingkat Wardah yang paling dekat dengannya saat di pondok. Bisa dibilang, mereka seperti kakak adik. Terakhir berkomunikasi secara langsung sepertinya saat Mbak Fitri hendak berangkat kuliah di Kairo. Setelah itu benar-benar tak pernah bersua setelah sibuk dengan urusan masing-masing.


Spontan Wardah memeluk Mbak Fitri dengan eratnya. Wardah masuk pesantren dan dekat dengan Mbak Fitri selama dua tahun, setelah itu dipisahkan dengan jarak yang teramat sangat. Rindu sempat berlabuh selama beberapa waktu, hingga sempat terobati dengan kehadiran orang-orang baru, dan kini dipertemukan kembali. Rindu itu seketika membuncah.


“Aku seneng banget ketemu sama Mbak Fit,” ujar Wardah. Tak sadar Wardah sampai terharu.


Tentu saja dua wanita itu menjadi pusat perhatian para alumni yang lain.


“Ehehe, aku nggak pernah ikut reuni, sekalinya ikut malah buat drama,” celetuk Wardah melepaskan pelukannya.


“Emang sukanya merebut perhatian orang kamu ini. Cak Ibil nggak ikut ke sini? Maaf ya Dek, Mbak nggak bisa hadir di pernikahan kamu,” pertanyaan Bom pun terlontarkan dari Mbak Fitri.


“Emm, kita duduk dulu yuk Mbak,” potong Gita menarik lengan sahabat dan juga mbak Fitri yang masih kebingungan tak mendapatkan respon. Alumni yang kebetulan ada di sana juga ada yang menantikan jawaban Wardah karena ingin tahu, ada juga yang terdiam karena ada yang sudah tahu.


Ketiga wanita itu duduk sedikit lebih jauh dari kerumunan orang-orang di sana. Wardah awalnya syok, tapi sudah terkendali. Kakak tingkatnya itu terlalu lama tak berkecimpung kembali dengannya. Tentu saja tak banyak kabar yang ia dapatkan. Mbak Fitri empat tahun lebih tua dari Wardah. Dan ternyata ia menikah dengan alumni mereka juga. Tapi Wardah belum pernah kenal dengan suami Mbak Fitri. Mas Cokro nama suaminya.


“Aku sudah lama nggak sama Cak Ibil lagi Mbak,” ujar Wardah mulai menjelaskan pada Mbak Fitri.


“Kamu serius dek? Udah pisahan?” tanya Mbak Fitri lagi lirih.

__ADS_1


“Iyaa Mbak, malah aku nggak sampai setahun barengan sama Cak Ibil. Jodohku bukan dia ternyata,” jelas Wardah.


“Ya Allah... Maafin Mbak ya Dek... Mbak beneran nggak tahu,” ujar Mbak Fitri menyesal.


“Nggak papa Mbak, namanya juga nggak tahu. Aku sekarang sudah bahagia banget kok,” jawab Wardah menenangkan.


“Tenang aja Mbak, suami Wardah yang sekarang itu benar-benar paket komplit! Udah baik, ganteng, sukses, sholeh, lulusan pesantren lagi!” celetuk Gita.


“Gita, nggak boleh muji-muji suami aku ya!” sanggah Wardah dengan wajah merah malunya.


Mereka berbincang dengan sepuas-puasnya. Melepas rindu satu sama lain. Mulai dari kata perwakilan sambutan, pengenalan alumni serta perbincangan santai satu sama lain, hingga sumbangan penampilan-penampilan jika ada yang mau. Dilanjutkan dengan makan-makan bersama.


“Suami kamu nggak kesini dek? Padahal mbak penasaran,” ujar Mbak Fitri.


“Kalau nggak sibuk biasanya ikut mbak, kebetulan lagi sibuk di kantor,” jawab Wardah.


Saat bertemu teman lama pasti pembahasan tak ada habis-habisnya. Tak terasa perbincangan mereka pun sudah sangat lama. Bahkan Wardah juga sudah selesai menyumbangkan lagu. Hampir seluruh alumni yang bertemu dengannya tahu jika dirinya dulu vokalis banjari bersama dengan Anisa.


Tak terasa adzan zuhur pun berkumandang. Mereka semua bertolak menuju ke masjid yang tak jauh dari cafe. Sholat jamaah bersama, setelah itu berpamitan satu sama lain.


“Gita, Fadhil, Wardah nanti pulangnya satu mobil sama Mbak aja ya... Mbak sama suami Mbak pengen mampir ke rumahnya sekalian,” ujar Mbak Fitri pada pasangan itu.


“Kalian juga ikut aja,” ujar Wardah.


“Sayang?” suara yang tak asing bagi Wardah.


“Mas Eza? Kok bisa di sini? Padahal aku udah mau pulang,” ujar Wardah yang terkejud melihat Eza sudah datang di sini. Di hadapannya.


“Sengaja mau ikut nimbrung temen-temen kamu, tapi kayaknya udah selesai ya?” jawab Eza dengan wajah kecewanya.


“Eh! Mbak Fitri, Mas Cokro, ini kenalin... Mas Eza suami aku,” ujar Wardah yang sadar jika di sini tidak hanya mereka berdua.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2