Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Mulai membuka kebenaran


__ADS_3

Ketika Aish dan suami pergi, Ibu Melin segera pulang. Dengan paksa, Beliau menarik tangan Rena cukup kuat untuk mengajaknya pulang.


"Rena, Mama peringatkan sekali lagi sama kamu, jangan kamu usik lagi si Aish. Lebih baik kamu itu cari kerja, ubah sifat burukmu itu. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari, ingat itu." Ucap Ibu Melin, berharap tidak akan ada lagi rasa cemburu pada putrinya.


"Mama tidak perlu memberi peringatan pada Rena, semua akan sia-sia." Jawab Rena, kemudian ia melepas tangan milik sang Ibu dengan paksa dan segera pergi dari Toko kueh milik Aish.


Sedangkan Ibu Melin mengusap dadanya, terasa sakit ketika mendapat perlakuan dari putrinya yang tidak sesuai harapan. Justru yang didapatkannya hanyalah kekecewaan semata. Ingin marah? marah dengan siapa? tidak ada lagi tempat yang bisa dijadikan tumpuan.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Sela yang mendapati Beliau tengah menitikan air matanya.


Ibu Melin menarik napasnya panjang, kemudian Beliau menoleh kearah Sela. "Ibu tidak apa apa, hanya rindu saja." Jawab Beliau dengan senyum pada kalimat terakhirnya.


"Rindu keluarga ya, Bu?" tanya Sela menebak.


"Iya, Ibu merindukan keluarga di Kampung." Jawab Beliau dan berusaha tersenyum.


"Kenapa Ibu tidak pulang kampung saja? sekarang kan Kak Aish sudah punya suami, Ibu Tidak perlu khawatir lagi." Kata Sela, Beliau hanya menggelengkan kepalanya.


"Ibu pamit pulang, karena masih ada pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan. Lebih baik kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu. Ibu titip Aish sama kamu, ya. Jangan lupa hubungi Ibu jika Rena datang ke sini, Ibu tidak ingin terjadi sesuatu pada Aish." Ucap Ibu Melin berpamitan, sekaligus memberi pesan pada Sela.

__ADS_1


"Ya Bu, Sela akan siap siaga untuk menjaga kak Aish." Jawab Sela meyakinkan.


Sedangkan ditempat lain, yakni di Rumah sakit Aish dan suami tengah menunggu nomor antrian. Cukup lama menunggu, akhirnya nomor panggilan yang ditunggu telah tiba.


"Sayang, kamu dipanggil." Panggil Rey pada istri, Aish pun langsung berdiri dan diikuti sang suami. Seperti biasa, Rey selalu menggandeng tangan istrinya. Kemudian keduanya berjalan menuju ruang pemeriksaan.


Sampainya di dalam ruang pemeriksaan, Aish tidak lepas dari dzikir nya. Ia berharap semuanya akan baik baik saja, antara dirinya dan janin yang sedang ia kandung.


"Sayang, jangan takut. Tenang, hanya di USG saja kok. Hanya untuk melihat perkembangan calon buah hati kita, tidak ada yang aneh aneh. Jugaan Dokternya perempuan, ada aku disamping mu." Ucap Rey mencoba meyakinkan istrinya agar tidak terasa panik.


Aish yang memiliki trauma, ia berusaha untuk tetap tenang. Entah kenapa, Aish begitu ketakutan ketika harus berada di rumah sakit. Berulang kali Rey mengusap pelan lengan istrinya, berharap tidak ada rasa ketakutan pada istrinya.


"Kalau boleh tahu, kenapa tiba tiba Nona mendadak ketakutan saat berbaring? apakah ada sesuatu yang membuat Nona trauma? katakan yang jujur, agar saya bisa memberi saran yang baik untuk Nona." Tanya Ibu Dokter, Aish menarik napasnya panjang. Berharap ia tidak menitikan air matanya, untuk tetap tegar sama juga kuat.


"Saya memiliki trauma karena tidak tertolong nya ayah saya di rumah sakit, Dok? terlihat jelas saat ayah saya berbaring lemah tanpa adanya saya disampingnya saat sakaratul maut itu datang." Jawab Aish tanpa sadar ia menitikan air matanya.


Rey yang tengah duduk di sebelah istrinya, ia meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Karena tidak ingin strinya banyak pikiran, Rey langsung segera meminta resep vitamin serta obat lainnya untuk perempuan hamil. Kemudian ia mengajak istrinya untuk segera pulang, Rey tidak ingin istrinya mengingat masa lalunya kembali dan menjadikan beban pikirannya.


"Jangan lupa, dijaga kesehatan istrinya, Tuan. Perbanyak makan sayur dan buah, serta vitamin dan juga susunya. Jam istirahat juga diperhatikan, jangan dibiarkan untuk banyak pikiran. Buat lah rilek dan bahagia, semoga selalu sehat calon bayi dan Bundanya." Ucap Ibu Dokter yang tidak lupa untuk mengingatkannya.

__ADS_1


"Baik Dok, kalau begitu saya permisi." Kata Fey, kemudian mengajak istrinya untuk pulang.


Sampainya berada dalam mobil, Aish bersandar pada dada bidang suaminya. Rey memeluknya dengan lajunya kendaraan.


"Sudah lah, jangan terlalu dalam kamu memikirkan Papa. Sekarang yang harus kita lakukan yaitu, mendoakan Beliau. Jangan pernah putus untuk memberikan doa pada Papa, itu jauh lebih baik daripada kamu harus menangis seperti ini. Aku tahu perasaan kamu, tapi apa ya kamu akan terus terusan menangis? tidak, 'kan? lebih baik kita fokus dengan masa depan. Untuk Orang tua yang sudah meninggalkan kita lebih dulu, yang harus kita lakukan yaitu mendoakan." Ucap Rey mencoba untuk menenangkan pikiran istrinya, berharap semuanya akan baik baik saja.


Aish menarik napasnya panjang, kemudian ia menenangkan pikirannya agar tidak terbawa emosinya.


"Kamu itu masih ada aku, sekarang dan selamanya. Aku tidak akan membiarkan mu terus terusan bersedih, kita harus bahagia." Ucap Rey, kemudian mencium pucuk kepala istrinya. Aish membalas pelukan suaminya dan menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya sampai tidak terasa tertidur dalam dekapan sang suami.


'Aku janji, sayang. Aku selalu menjagamu, aku tidak akan pernah membiarkan kamu terus terusan bersedih. Sudah waktunya untuk kita bahagia bersama, bukan untuk bersedih.' Batin Rey, kemudian ia ikut memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan penat dikepalanya.


Tidak hanya memikirkan soal istrinya, Rey juga memikirkan soal adik laki laki nya yang kini tengah marah besar terhadap dirinya. Tidak mungkin untuk Rey melepaskan istrinya dan menceraikannya. Itu tidak akan mungkin, sejatinya Rey juga sudah lama menyukai Aish dan juga ingin memilikinya.


Disaat Rey merasa takut untuk kehilangan seorang perempuan yang ia sukai, disaat itu juga Rey mempunyai kesempatan emas saat orang tua Aish menyerahkan sepenuhnya tentang Aish pada dirinya. Ditambah lagi dengan adanya persetujuan dari sang Kakek dan ayahnya sendiri, semakin yakin jika Rey bisa menjadi suami Aish sepenuhnya.


Dan kini, situasi sulit tengah menghantui pikirannya sendiri. Yang dimana seorang Rey harus bisa meluluhkan hati saudara kembarnya, yakni adik laki lakinya. Dulu Rey selalu menjadi penyelamat untuk sang adik ketika menginginkan sesuatu yang sulit untuk ia dapatkan. Tapi kini, justru harus menjadi pesaing untuk memenangkan hati seorang perempuan yang sama disukainya.


Ditempat Tuan Ganan, Zakia telah selesai menikmati sarapan paginya. Tidak didapati sang Kakak di ruang makan maupun di ruang lainnya. Suasana kembali sepi, tidak ada lagi dua bocah yang kini sudah mempunyai kehidupannya masing masing. Yakni, Neyla bersama suaminya bernama Seyn. Kemudian masih ada lagi, Rey yang sementara tinggal di sebuah Toko kueh bersama sang istri bernama Aishwa.

__ADS_1


Karena tidak ingin memakan waktu yang lama, Tuan Ganan mulai sibuk di ruangan kerjanya. Ada kakek Angga yang juga ikut menyibukkan diri untuk memperjelas pembuktian atas kebenarannya yang harus diperlihatkan kepada Zakka.


__ADS_2