Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Benar benar terkejut


__ADS_3

Tuan Ganan menjadi penasaran saat ada panggilan masuk dari nomor Polisi, segera Beliau menerima panggilan tersebut. Sedangkan Pak Erik selaku supir pribadinya tak melajukan kendaraannya.


"Apa!! Putra saya kecelakaan? tidak! Pak Polisi, sekarang ada dimana putra saya Pak Polisi." Setengah berteriak, Tuan Ganan tersentak kaget mendengar kabar yang tidak pernah Beliau menduganya.


"Baik Pak Polisi, saya akan langsung menyusul ke rumah sakit." Ucap Tuan Ganan dan langsung memutus sambungan telepon.


"Pak Erik, sekarang juga kita pergi ke rumah sakit." Perintah Tuan Ganan sangat panik, kabar yang seakan seperti sambaran petir tengah mengenai seluruh anggota tubuhnya.


Dengan gemetaran, Tuan Ganan langsung menghubungi putranya yang ada di rumah.


"Rey, Zakka kecelakaan. Sekarang juga kamu cepat ke rumah sakit, ajak Mama dan juga kakek. Istrimu di rumah saja ditemani Omma dan Neyla." Ucap Tuan Ganan lewat sambungan telpon ke ponsel putranya.


Sedangkan di kediaman keluarga Tuan Ganan mendadak terkejut ketika mendengar Rey setengah berteriak menyebut nama Zakka. Bunda Maura segera menghampiri putranya yang baru saja menerima panggilan telpon dari sang ayah.


"Rey, siapa yang kecelakaan?" tanya sang ibu langsung menatap putranya.


"Zakka, Ma. Zakka kecelakaan, sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit." Jawab Rey dengan cemas.


"Apa! Zakka kecelakaan? tidak! kamu pasti salah bicara, Zakka tak mungkin kecelakaan." Seketika, Bunda Maura tak percaya mendengarnya.


"Benar, Ma. Zakka kecelakaan, Rey tidak bohong." Kata Zakka meyakinkan sang ibu.


"Apa kamu bilang? Zakka kecelakaan? jangan ngaco, kamu ini." Timpal sang kakek yang tiba tiba datang, Beliau sendiri merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan cucunya.


"Apa! Zakka kecelakaan?" tanya Omma Qinan yang juga ikutan cemas mendengarnya.

__ADS_1


"Kak Rey bilang apa barusan? kak Zakka kecelakaan? tidak! tidak mungkin kecelakaan, kak Rey pasti bohong." Neyla yang merasa cemas, ia juga serasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak.


"Benar, kabar ini tidak bohong. Barusan Papa yang telpon, dan meminta Mama dan Kakek ikut ke rumah sakit. Untuk Omma dan Neyla temani istri Rey di rumah." Ucap Rey, sedangkan Bunda Maura langsung menyambar tas kecil yang ada didalam lemari tepatnya di ruang keluarga.


Aish yang mendengar kabar tersebut, ia ikut merasa sedih. Mau bagaimana pun, Zakka adalah teman sekolahnya dan sejak tidak melanjutkan lagi kuliah nya di luar Negri, Zakka sering mendatangi Aish di Toko kueh nya. Meski berkali kali menolak untuk bertemu, Zakka selalu menggunakan alasan membeli kueh di Toko Aish.


"Kita tidak mempunyai waktu lagi, kita harus segera berangkat ke rumah sakit. Kakek, Mama, ayo kita berangkat. Waktu kita tidak banyak, kita harus segera pergi ke rumah sakit." Kata Rey yang ingin cepat cepat berangkat ke rumah sakit.


Kakek Angga yang tidak membutuhkan bawaan apapun, Beliau langsung mengiyakan dan menarik tangan Rey segera pergi ke rumah sakit. Begitu juga dengan Bunda Maura, Beliau pun ikut tidak sabar ingin cepat cepat sampai dan bertemu dengan putranya.


"Sayang, aku berangkat. Jika kamu membutuhkan sesuatu, tanyakan saja sama Omma apa Neyla. Nanti akan ada pelayan yang akan melayani kamu, jaga diri kamu baik baik dirumah." Ucap Rey berpamitan dengan sang istri tercintanya.


"Ya, hati hati di perjalanan. Aku doakan semoga Zakka baik baik saja, berangkat lah." Jawab Aish, kemudian Rey segera berangkat mengajak ibunya dan sang kakek.


"Kita sudah sampai. Kakek, Mama, ayo kita turun. Ajak Rey sambil melepaskan sabuk pengaman nya. Sedangkan Kakek Angga dan Bunda Maura ikut turun.


Setelah turun dari mobil, Bunda Maura terburu buru segera masuk kedalam rumah sakit untuk menemui putranya. Begitu juga dengan Rey dan Kakek Angga yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Zakka.


"Papa, dimana Zakka?" tanya Rey dengan perasaan cemas.


"Ya Pa, dimana Zakka putra kita? Zakka baik baik saja, 'kan?" tanya Bunda Maura yang sangat mengkhawatirkan kondisi putranya. Sedangkan Tuan Ganan menunduk sedih, Beliau bingung untuk menjawabnya.


"Tenang, tenangkan dulu pikiran kalian. Ganan, bagaimana dengan Zakka? tidak ada yang cidera, 'kan?" kata Kakek Angga dan bertanya pada putranya.


Tuan Ganan masih diam, Beliau tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan dari sang istri, putra pertamanya, dan juga sang ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Kaki kanan Zakka yang katanya mengalami cidera, soal keadaan kakinya masih diperiksa. Semoga saja tidak menjalar yang lebih serius, semoga Zakka baik baik saja." Ucap Tuan Ganan dengan tatapan kedua matanya yang terlihat sangat sedih.


Kakek Angga segera duduk disebelah kanan Beliau, sedangkan Bunda Maura duduk disebelah kiri sang suami. Rey lebih memilih untuk duduk sebelah ibundanya.


"Bagaimana kronologinya? apakah kamu sudah meminta anggota polisi untuk menanganinya? takut nya ada sesuatu yang tidak beres. Mau bagaimana pun, kita tetap harus menyelidiki kasus yang tengah menimpa Zakka." Tanya Kakek Angga yang menyimpan sebuah kecurigaan atas terjadinya kecelakaan tunggal pada cucu keduanya.


"Sudah, Pa. Bahkan Ganan sudah meminta beberapa anak buah untuk ikut menyelidiki kasus kecelakaan Zakka, semoga saja tak ada yang berniat buruk terhadap Zakka." Jawab Tuan Ganan terasa tak berdaya ketika mendapati putranya yang tengah mendapati musibah.


"Semoga saja tak terjadi sesuatu pada Zakka, tak ada yang berniat menyakitinya. Kakek berharap, semua ini murni atas keteledoran dari Zakka sendiri." Kata kakek Angga dengan pendiriannya.


"Ma, jangan bersedih yang berkepanjangan. Percaya sama Rey, bahwa Zakka akan baik baik saja." Ucap Rey sambil merangkul ibundanya


Tidak lama kemudian, salah satu seorang Dokter tengah menghampiri Tuan Ganan beserta keluarganya sendiri.


"Orang tuanya Zakka yang mana?" tanya seorang Dokter sambil menatap satu persatu secara bergantian.


"Kita berdua orang tua kandungnya Zakka, Pak Dokter." Jawab Tuan Ganan yang dimana Beliau merasa tidak sabar untuk bertemu dengan putranya.


"Mari ikut kami ke ruang kerja saya, Tuan." Ucap pak Dokter mengajaknya masuk ke ruang kerjanya.


"Baik, Dok." Jawab Tuan Ganan, kemudian Beliau dan sang istri mengikuti langkah kaki Pak Dokter menuju ruang kerjanya.


"Duduk lah, ada yang ingin saya sampaikan mengenai putra Anda." Ucap sang Dokter, kemudian Tuan Ganan dan Bunda Maura segera duduk dihadapan seorang Dokter yang begitu mencemaskan atas keadaan putranya.


"Begini Tuan, Nyonya, bahwa putra Anda saya harapkan untuk dilakukannya operasi. Dikarenakan adanya pergeseran tulang pada bagian kakinya. Takutnya akan terjadi pembengkakan pada area pergelangan kaminya." Ucap Pak Dokter meminta persetujuan kedua orang tua Zakka.

__ADS_1


__ADS_2