
Perasaan yang sudah bercampuraduk menjadi satu, Rey langsung mencari keberadaan istrinya. Saat berada di dalam ruangan, Rey melihat Aish tengah sibuk dengan aktivitasnya. Dengan langkah kakinya pelan, Rey mendekati istrinya yang terlihat sibuk bersama karyawan lainnya.
"Bolehkah aku bantu?" tanya Rey dekat di telinga istrinya. Seketika, Aish terkejut mendengar suara suaminya yang tiba tiba datang mengagetkan dirinya yang tengah sibuk bersama yang lainnya.
Beberapa karyawan ikut menoleh kearah Rey yang tengah berdiri di belakang Aish, semua bertanya tanya dengan sosok Rey yang tiba tiba datang mengagetkan itu.
"Siapa dia?" tanya salah satu karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku rasa calon istrinya deh," sahut yang ada disebelahnya.
"Mungkin." Jawabnya, kemudian segera kembali melanjutkan pekerjaannya masing masing.
Aish yang tidak ingin menjadi bahan pembicaraan, ia segera menarik paksa lengan suaminya. Disudut ruangan yang cukup sepi, Aish menatap suaminya dengan lekat.
"Kenapa kamu datang lagi? kalau Zakka mengikuti mu, bagaimana?" tanya Aish penuh kekhawatiran. Mau bagaimana pun Aish belum berani bersiap diri untuk berterus terang akan status hubungannya dengan sang suami, takut jika persaudaraan akan bercerai berai karenanya.
"Kamu tidak perlu khawatir, 24 jam aku diawasi oleh keluarga. Jadi kamu tidak usah takut, semua akan baik baik aja. Aku datang kesini karena khawatir dengan keadaan kamu, dan aku tidak akan membiarkan kamu terus terusan bekerja keras seperti ini." Jawab Rey dengan tatapan penuh khawatir.
"Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan keras seperti ini, kamu tidak perlu takut dan khawatir tentang aku. Lebih baik kamu pulang saja, aku takut akan ada masalah yang semakin rumit dan runyam, bahkan masalah semakin besar." Ucap Aish dengan gelisah, ditambah lagi masalah dengan Rena. Aish benar benar ingin sendiri untuk menenangkan pikirannya.
"Katakan padaku, kenapa kamu pergi dari rumah Tante Melin? tolong jelaskan padaku." Tanya Rey ingin mendengar kejujuran dari istrinya, setidaknya dirinya mempunyai alasan yang kuat untuk mengajak istrinya untuk tinggal di rumah yang pernah ia janjikan sebelumnya.
__ADS_1
"Rena anak Tante Melin sudah pulang dari kota sebrang, aku hanya tidak ingin adanya kesalahpahaman diantara aku dan Tante Melin. Maka dari itu, aku memilih untuk pergi dari Rumah Tante Melin." Jawab Aish yang tidak ingin memperpanjang masalah yang menurutnya hanya sebatas rasa cemburu dari sebuah perhatian, pikir Aish sambil menatap suaminya.
Disaat itu juga, Rey langsung memeluknya dengan erat dan entah ada angin apa hingga membuat Aish merasa begitu nyaman saat berada didekapan suaminya.
"Kamu tidak perlu bersedih, ada aku yang akan selalu berada disisimu. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, jika aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Aku ingin mengajakmu untuk tinggal bersamaku seperti janjiku padamu." Ucap Rey sambil memeluk istrinya, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aish dengan senyum manisnya hingga membuat Aish tersipu malu.
Lagi lagi Rey mencium kening milik istrinya dengan lembut. Tanpa disadari, ada Sela yang tanpa sengaja melihat dan mendengarkannya langsung dengan apa yang telah diucapkan dari lelaki tampan bernama Reynan Wilyam.
Seketika, Rey dan Aish berubah salah tingkah ketika dirinya merasa tertangkap basah karena ulah Rey tanpa memeriksa situasi di sekelilingnya. Tanpa pikir panjang, Rey langsung menggandeng tangan istrinya dan mendekati Sela yang masih berdiri kaku karena ada rasa takut jika dirinya akan mendapatkan marah dari Rey maupun Aish.
"Kita berdua sudah menikah, kamu tidak perlu pusing untuk bertanya tanya mengenai status kita bedua. Yang jelas, status kita sudah sah di mata hukum dan agama." Kata Rey berterus terang dengan statusnya.
"Jadi ... Kak Aish sudah menikah? kenapa Sela baru mengetahuinya? Kak Aish mah, sudah menikah kenapa tidak bilang bilang sama Sela? hem." Ucap Sela dibuat cemberut, Aish tersenyum mendengarnya.
"Kakak ganteng serius nih? kalau ya, Sela mau kasih tau sama teman teman yang lainnya." Tanya Sela memastikan, takut apa yang ia dengar hanya sebuah gurauan semata.
"Kakak serius, cepat buruan kamu sampaikan sama teman teman kerjamu. Agar pekerjaannya segera terselesaikan, dan kita bisa makan bersama." Jawab Rey memastikannya, setidaknya ia berkata jujur. Setelah merasa yakin, Sela segera menemui teman temannya yang tengah bekerja.
Sedangkan Rey, ia segera menghubungi pihak Restoran untuk mengantarkan pesanan untuk semua karyawan istrinya.
Rey yang belum mendapatkan jawaban dari atas perasaan istrinya pun, ia tidak begitu memaksakannya. Biarkan waktu yang akan mengungkapkannya sendiri, pikirnya. Setidaknya sang istri dapat meresponnya dengan baik, itu sudah lebih dari cukup baginya
__ADS_1
Apalah arti sebuah pengakuan jika tidak diimbangi dengan bukti yang akurat. Setidaknya Rey mendapatkan respon dari istrinya, dan tidak semena mena terlihat kesal untuk dipandanginya.
Rey pun menatapnya dengan lekat, meraih kedua tangan milik istrinya. Lalu mengucapkan sesuatu padanya.
"Malam ini kita tidur di Hotel, bagaimana? karena rumah yang akan kita tempati masih dalam pengrajinan." Ajak Rey penuh harap jika istrinya tidak akan menolaknya.
"Aku mau tidur di Toko saja, aku tidak ingin merepotkan kamu." Jawab Aish, pikirannya kembali di pagi hari yang baru saja ia lewati. Ditambah lagi dengan rasa yang tidak karuan mulai dirasakannya setelah beberapa jam ia tidak begitu merasakan rasa sakit akibat banyaknya yang ia pikirkan, sampai sampai rasa sakitnya pun tidak dirasakannya.
"Aku tidak mengizinkan kamu untuk tidur di Toko ini, badan kamu pastinya sudah mulai merasakan sakit pada beberapa bagian anggota tubuh mu itu." Ucap Rey yang tidak menyetujui atas pilihan istrinya.
"Aku tidak ingin ...." seketika, ucapannya terhenti saat sebuah jari telunjuknya menempel pada bibir manis milik Aish.
Disaat itu juga, Aish mendongakkan pandangannya pada sang suami. Tanpa pikir panjang, Rey langsung menggendong istrinya. Dengan reflek, Aish langsung melingkarkan kedua tangannya ditengkuk leher suaminya. Keduanya saling menatap sama lain, kedua netranya kembali bertemu.
"Dimana tempat untuk istirahat? aku ingin bermanja manja denganmu, sebentar saja." Tanya Rey sambil menatap lekat wajah ayu istrinya.
Aish yang kembali terhipnotis karena ulah suaminya, Aish menunjuk ruangan yang dijadikan tempat untuknya istirahat. Dengan pelan Rey melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang akan dijadikan tempat tidur Aish sementara waktu, namun sepertinya akan gagal untuk bermalaman di Toko kueh.
Saat masuk kedalam ruangan, Rey meminta istrinya untuk mengunci pintunya. Dengan nurut, Aish pun mengunci pintunya dengan berdebar debar didalam dadanya.
Sesuatu yang sudah pernah ia lewati bersama suami, kini kembali terbayang bayang dalam ingatannya. Saat berada disebelah tempat tidur, dengan pelan pelan Rey menurunkan istrinya. Sambil menatap istrinya, Rey kembali mendaratkan sebuah ciuman ke kening milik Aish dengan lembut.
__ADS_1
Tidak hanya sampai disitu saja, Rey kembali mendaratkan ci*umannya tepat pada bibir ranum milik istri tercintanya. Setelah itu, ia meminta sang istri untuk membenarkan posisi duduknya sambil bersandarkan dikepala ranjang tempat tidurnya. Kemudian Rey memilih untuk tidur dalam pangkuan istrinya dan mendongakkan pandangannya pada sang istri.