
Usai menyaksikan langsung dari awal video diputar hingga akhir, Bunda Maura menoleh kearah putranya yang sudah jongkok disebelah ibunya. Kemudian Rey meraih kedua tangan ibundanya, lalu ia memeganginya dengan erat.
"Ma, maafin atas kesalahan Rey selama ini yang sudah membohongi Mama. Maafkan Rey, Ma. Rey siap menerima hukuman dari Mama, apapun itu. Tapi ... jangan suruh Rey untuk berpisah dengan perempuan yang sudah lama Rey cintai, Ma. Rey mohon, restui hubungan kami." Kata Rey penuh permohonan.
Hati sang Ibu cukup terluka saat mendengar pengakuan dari putranya yang menurutnya benar benar telah menggores hatinya. Bunda Maura masih diam, Beliau cukup kecewa dengan anak maupun suami dan juga ayah mertua.
Tuan Ganan yang melihat istrinya menyimpan perasaan kecewa, Beliau duduk disebelahnya. Sedangkan Rey masih dengan posisinya yang semula, tetap jongkok dan menggenggam kedua tangan ibunya.
Tuan Ganan merangkulnya dan mengusap lengan milik istrinya. "Putramu tidak salah, tapi aku dan Papa lah yang salah. Jangan salahkan putramu, Rey hanya ingin menjaga perempuan yang dicintainya." Ucap Tuan Ganan mencoba untuk berbicara baik baik dengan istrinya, berharap akan menerima istri Rey menjadi menantunya.
"Bagaimana dengan Zakka? apa yang harus kita katakan jika dia mengetahui Rey telah menjadi suami dari perempuan yang disukainya juga? bukannya aku melarang Rey menikah, aku hanya takut masa lalu Kakek dan Omma nya akan terulang kembali sama kedua putra kita. Aku takut akan ada dendam yang tidak ada hentinya." Jawab Bunda Maura dengan tatapan lurus kedepan, tidak menoleh kearah suami maupun putranya.
"Ma, Rey mohon sama Mama. Jangan pisahkan Rey dengan perempuan yang Rey sukai dan Rey cintai, Ma. Izinkan Rey untuk bersamanya, perempuan itu sangat berarti untuk Rey, Ma." Ucap Rey yang tidak tahu harus berkata apa lagi, hanya memohon dan memohon.
Bunda Maura yang mendengar putranya memohon pun, Beliau tidak tega mendengar dan menatap putranya. Pilihan yang benar benar sulit, pikirnya.
"Baik lah jika Mama tidak mau menjawab permintaan dari Rey, detik ini juga Rey akan tinggalkan rumah ini. Rey akan kembali jika Mama merestui hubungan Rey dengan perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya Rey." Ucap Rey dengan napasnya yang cukup berat, kemudian ia bangkit dari posisinya untuk segera berkemas kemas.
"Setega itukah kamu dengan putramu?" tanya Tuan Ganan pada istrinya.
Ucapan dari suaminya seakan menjadi tamparan keras untuknya. Bunda Maura langsung bangkit dari posisi duduknya dan mendekati putranya yang tengah mengemasi lagi barang bawaannya.
"Jangan pergi, Nak. Tetap lah tinggal di rumah ini, Mama merestui hubungan kamu dan istrimu." Ucap sang ibu, Rey pun menoleh kesamping dan menatap ibundanya.
__ADS_1
Bunda Maura yang tidak ingin berpisah dengan putranya, kemudian Beliau langsung memeluknya dengan erat. Cukup 6 tahun lamanya berpisah, dan kini tidak ingin berpisah hanya karena Beliau merasa dibohongi. Setelah cukup lama memeluk putranya, Bunda Maura melepaskannya dan menatapnya dengan lekat.
"Pertemukan Mama dengan istrimu, ajaklah kerumah dan tinggal lah di rumah ini." Ucap sang Ibu dengan tatapan memohon.
"Rey belum bisa mengajaknya pulang, Ma. Masih ada Zakka yang harus mencari waktu yang tepat, biarkan Rey sendiri yang akan mengatakannya langsung."
"Jangan lama lama, takutnya Zakka akan tahu lebih dulu sebelum kamu berterus terang." Ucap sang ayah mengingatkan.
"Ya, Pa. Rey akan atur waktu nya, Rey siap menanggung segala konsekuensinya." Kata Rey, sang ayah pun mengagguk.
"Takutnya Zakka akan curiga, lebih baik kita segera ke luar dari kamar ini." Ujar Bunda Maura yang takut akan ada konflik jika lama lama berada dalam kamar, pikirnya.
"Rey mau istirahat sebentar, Ma. Jika Mama dan Papa mau keluar, silahkan." Ucap Rey, kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sedangkan kedua orang tuanya pun segera keluar, takut putra keduanya akan menaruh kecurigaan terhadap ayah maupun ibunya, juga pada saudara kembarnya.
Rasa ketidaksabaran nya, Zakka maupun Nayla langsung bangkit dari posisi duduknya. Setelah itu, keduanya mendekati ayah dan ibunya.
"Ma, Kak Rey kenapa?" tanya Zakka penasaran.
"Tidak ada apa apa, biasa kecapekan." Jawab sang Ibu beralasan, sedangkan Ney tidak mudah percaya begitu saja. Ia tahu betul dengan sosok kakak nya itu, mesti terkadang tertinggal jauh dengan apa yang disembunyikannya.
"Oooh, kirain kak Rey ada masalah." Timpal Neyla yang sudah tidak sabar untuk menemui kakak pertamanya.
"Zakka, lebih baik sekarang ini kamu temani Papa ke Kantor. Ada banyak tugas untuk kamu, karena kamu akan dipindahkan di Kantor Papa. Sudah lama Papa ingin menikmati hidup bersama Mama, sekarang sudah waktunya anak anak Papa yang akan menjadi penerus selanjutnya." Ucap Tuan Ganan memberi perintah pada putranya.
__ADS_1
"Istri saja belum Zakka dapatkan, udah begitu disuruh pindah tempat. Kenapa bukan kak Reu saja yang menggantikan posisi Papa? hem." Kata Zakka dengan cemberut.
"Karena di Kantor Papa akan ada karyawan baru dan kamu yang akan memilih siapanya yang akan ditempatkan menjadi sekretaris barumu."
"Kenapa mesti Zakka, Pa? kenapa tidak Kak Rey saja. Jugaan Zakka sudah ada Afwan yang menjadi sekretaris, kenapa mesti pindah Kantor sih Pa? bikin pusing aja Papa ini." Tanya Zakka yang sudah mulai lupa dengan sosok saudara kembarannya sendiri.
"Afwan yang akan menjadi sekretaris kakak kamu, jangan banyak protes." Ucap sang ayah tetap pada pendiriannya yang tidak bisa goyah sedikitpun.
Zakka yang tidak bisa menolak, dirinya hanya pasrah untuk menerima keputusan dari ayahnya.
"Ya ya ya ya, Pa." Sahut Zakka pasrah, Neyla yang mendengar kakak keduanya seperti tengah mendapatkan hukumannya pun tertawa kecil.
"Tertawa, lagi. Senang ya, lihat kakak kamu ini dapat kesialan." Kata Zakka sambil berkacak pinggang.
"Bukannya yang senang itu Kak Zakka, secara kakak itu bisa dapat peluang untuk mendapatkan sekretaris perempuan yang cantik loh." Jawab Neyla sambil mengedipkan matanya, Zakka yang melihat ekspresi sang adik pun bergidik ngeri.
"Yang dikatakan adik kamu itu, ada benarnya loh. Siapa tahu saja kamu bernasib mujur, dapat perempuan yang sesuai keinginan kamu." Sahut sang ibu ikut menimpali, Zakka yang mendengarnya pun tersenyum getir.
"Mama sudah lupa ya, perempuan mana yang Zakka sukai dan Zakka cintai?"
Seketika, kedua orang tuanya saling pandang satu sama lain. Ingatannya kembali pada putra pertamanya yang sudah menjadikannya seorang istri.
"Mama dan Papa kenapa? ekspresinya kenapa begitu?" tanya Zakka merasa heran.
__ADS_1