Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Kehilangan


__ADS_3

Aish masih merasa sangat canggung ketika dirinya berhadapan langsung dengan lelaki yang sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu. Wajah tampan dan penuh kelembutan, membuat Aish malu malu bila berdialog dengannya.


"Cie ... cie ... jadi gak nih, acaranya?" ledek Yunda dan menanyakan rencana kumpul bersama.


"Apa apaan sih kamu, Yun. Soal acaranya sih ... Papa belum juga pulang sampai sekarang, Yun."


"Belum pulang? memangnya Papa kamu kemana?" tanya Afwan ikut menimpali.


"Kata Papa sih, katanya mau beli lauk. Soalnya di rumah tidak ada lauk, tadi pas waktu pulang lupa untuk mampir ke warung makan." Jawab Aish menjelaskan.


"Kamu sudah menghubungi Papa kamu?" tanya Yahya yang juga ikut menimpali.


"Sudah, tapi tidak diangkat. Berkali kali aku menghubunginya, tetap aja tidak ada respon. Apa mungkin sedang sibuk ngantri apa, ya. Atau ... sedang perjalanan pulang, seharusnya sih sudah sampai." Jawab Aish tertunduk sedih, rasa khawatir yang kini tengah ia rasakan. Lebih lebih tidak memiliki siapa siapa, kecuali adik dari sang ayah.


"Aish! Aish! Aish!" seru seorang perempuan tengah berlari sambil memanggil nama Aish cukup histeris.


"Tante Melin, ada apa Tante?" tanya Aish dengan gusar. Ketiga temannya pun mendadak ikut panik ketika melihat kegusaran dari seorang perempuan paruh baya.


Dengan napasnya yang terengah engah, Ibu Melin mencoba mengatur pernapasannya.


"Ada apa Tante? cepat katakan, Tante." Tanya Aish semakin gusar dan juga cemas.


"Papa kamu, Papa kamu, Aish."


"Iya, ada apa dengan Papa Aish, Tante. Kenapa dengan Papa Aish? cepat katakan, Tante." Tanya Aish semakin penasaran, begitu juga dengan ketiga temannya.


Ibu Melin kembali menarik napasnya dalam, berharap ia dapat menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Sambil menunduk, Ibu Melin memegangi dan meremat kedua tangan milik keponakannya. Pelan pelan, Ibu Melin menarik napasnya.


"Papa kamu, Papa kamu sudah meninggal, Aish."


DUAR!!!


"Innalillahi wa inna illaihi roji'un."


Ucap ketiga temannya Aish bersamaan, sedangkan Aish mendadak membisu dan tidak mampu untuk berucap.


Seperti BOM Atom yang Meledak, Dunianya seakan telah runtuh begitu saja. Langit terasa gelap, bahkan serasa tidak ada lagi cahaya yang menerangi. Matahari, bulan, bintang, kini telah redup bersamaan dengan sebuah kabar yang sangat dasyat untuk didengar oleh indra pendengaran milik Aish.


Tubuhnya yang tadinya dapat menopang tubuhnya, kini mendadak tidak lagi berdaya. Pandangannya yang awalnya sangat tajam, kini berubah seperti tak terlihat. Napasnya yang awalnya teratur, kini harus terasa sesak dan sulit untuk bernapas. Detak jantung yang awalnya normal, kini mendadak tidak beraturan.


Sepasang matanya yang awalnya indah untuk dipandang, kini harus dibanjiri dengan air mata.


Sekujur tubuhnya kini mendadak tidak dapat beropasi seperti awal. Lemas, lemas, dan akhirnya terjatuh.


Aish yang tidak mampu untuk menahan apa yang ia rasakan, akhirnya kedua kakinya menyerah dan tidak mampu untuk menjadi penyangga tubuhnya sendiri. Yahya yang berada dihadapannya pun segera menahannya. Kemudian ia menggendong Aish untuk masuk kedalam rumahnya.


"Aish! Aish, bangun Aish, bangun." Panggil Yahya dan kedua temannya.


Sedangkan Ibu Melin segera meminta bantuan para tetangga untuk mengurus pemakaman jenazah serta mengurus sesuatu yang lainnya. Begitu juga dengan Yahya dan Afwan yang juga ikut membantunya. Sedangkan Yunda menemani sahabatnya yang juga belum sadarkan diri dibantu sepupu Aish.


"Kak Aish, bangun Kak." Panggilnya sambil mmengusapkan minyak angin pada area yang dapat memberi reaksi yang cepat.


"Papa ... Papa dimana? dimana Papaku? aku ingin bertemu." Tanya Aish dengan kondisi tubuhnya yang sangat lemah dan tidak berdaya. Ingatannya kembali dengan sebuah ucapan dari Tantenya, Aish masih terus bergeming memanggil ayahnya. Sedangkan di rumahnya kini sudah dipadati orang orang yang bertakziah.

__ADS_1


"Aish yang mendapati keramaian di rumahnya semakin lemah, napasnya terasa berat. Sesak didalam dadanya benar benar sangat hebat.


"Aish, kamu yang sabar, ya. Kamu harus ikhlas untuk menerima kenyataan ini, iklankan Papa kamu. Semua ini sudah takdir, dan kita tidak bisa untuk menghalanginya. Kita pun juga akan menyusulnya, entah kapan waktunya. Kamu masih ada aku yang akan selalu ada untukmu, kamu tidak sendirian." Ucap Yunda mencoba untuk menenangkan sahabatnya yang sedang berduka.


"Aku ingin melihat Papa, aku ingin melihatnya." Pinta Aish masih dengan menangis, Yunda yang menjadi sahabat dekatnya pun terasa tidak tega melihat kesedihan yang begitu mendalam pada sahabatnya.


Yunda yang juga tidak mampu untuk menahan kesedihannya, akhirnya ia memeluk Aish dengan erat.


"Aku Tidak mempunyai siapa siapa lagi, aku sudah tidak mempunyai orang tua." Ucap Aish dengan tangisnya, seseorang yang baru saja datang ikut merasakan kesedihan yang Aish rasakan.


"Kamu masih punya aku, Afwan, dan Yahya yang siap untuk menerimamu." Jawab Yunda yang terus mencoba untuk membuat sahabatnya tenang.


Setelah itu, Yunda melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


'Andai saja Umi dan Abi tidak memberiku syarat untuk menyelesaikan pendidikan ku, aku pasti akan segera menikahi Aish. Tapi ... apakah dengan kondisi seperti ini aku akan mendapatkan restu untuk menikahinya terlebih dahulu, dan aku akan membawanya ikut denganku.' Batin Yahya yang ikut bersedih ketika melihat kondisi Aish yang tidak lagi mempunyai siapa siapa selain adik dari ayahnya.


"Aku ingin melihat Papa, aku ingin melihatnya." Pinta Aish yang mengulangi kata katanya.


"Iya Aish, aku akan menemanimu untuk melihat Papa kamu." Sahut Yunda, kemudian ia menuntun sahabatnya sampai didepan jenazah ayahnya.


Dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan, Aish terasa rapuh saat melihat sosok ayah yang kini sudah terbujur kaku dengan wajahnya yang terlihat pucat.


Napasnya semakin sesak, air mata yang sulit untuk ia bendung akhirnya tumpah juga. Yunda yang berada di dekatnya segera merangkul sahabatnya, takut jika Aish akan terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi.


Dengan sekuat hatinya untuk tetap bersabar dan ikhlas, Aish berusaha untuk mampu menghadapinya. Meski hakikat yang sebenarnya Aish sangat lah rapuh dan sulit untuk menerima kenyataannya yang begitu pahit.


Karena tidak ingin melihat Aish semakin bersedih, Yunda mengajak Aish untuk kembali ketempat semula.

__ADS_1


Semua orang yang melihat kondisi Aish yang begitu memprihatinkan, membuat para takziah tidak tega melihatnya. Satu persatu orang orang telah memberi ucapan bela sungkawa padanya. Tidak hanya sebuah bela sungkawa saja yang ia berikan, tetapi juga memberi banyak bantuan untuknya yang kini tidak ada lagi yang mencarikan nafkah untuknya. Ditambah lagi yang sekarang ini sudah tidak lagi mempunyai kedua orang tua, membuat warga sekitar merasa empati terhadapnya.


Setelah sudah tidak ada yang kurang, jenazah ayah Aish kini akan dibawa ke pemakaman untuk segera dimakamkan. Ditambah lagi waktu yang hampir mendekati waktu maghrib, jadi sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu.


__ADS_2