Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Teringat masa lalu


__ADS_3

Usai baikan satu sama lain diantara kedua putra Tuan Ganan dan Bunda Maura, senyum bahagia walaupun ada susa luka luka yang tertinggal. Sebisa mungkin untuk melupakannya, meski itu berat dan sakit sekalipun.


"Pa, Ma, Rey pulang duluan, ya. Dan buat kamu Zakka, semoga lekas sembuh dan kembali ke rumah." Ucap Rey berpamitan.


"Tinggal di rumah dulu malam ini, kamu dan Aish belum pernah menginap di rumah utama, 'kan?"


"Ya Ma, malam ini Rey akan menginap di rumah utama. Ya sudah kalau begitu, Rey pamit pulang." Jawab Rey, kemudian ia segera pulang bersama Omma Qinan.


Kini tinggal lah Tuan Ganan dan Bunda Maura yang menemani Zakka di rumah sakit.


"Ma, Zakka sudah bosan nih. Zakka pingin pulang bareng kak Rey, Zakka pingin kumpul bareng kek dulu lagi." Ucap Zakka yang merasa kesepian.


"Kamu harus sehat dulu, sayang. Kalau kamu sudah sehat dan Dokter sudah mengizinkan pulang, kamu pasti akan pulang. Bersabar lah, palingan beberapa hari lagi." Kata Bunda Maura sambil membantu putranya mengganti posisi duduknya untuk berbaring.


"Yang dikatakan Mama kamu itu ada benarnya, Zakka. Kamu itu harus sehat dulu, baru bisa pulang." Sahut Tuan Ganan ikut menimpali.


"Ya sih, tapi berasa lama banget tau, Ma." Ucap Zakka sambil tiduran.


"Sabar dikit kenapa, Zakka. Pulihkan dulu kesehatan kamu, ok." Kata Bunda Maura menyemangati.


"Ok deh, Ma." Ucap Zakka dengan senyum nya yang ceria, begitu juga Bunda Maura yang tak lepas tersenyum seperti putranya.


"Karena ada Mama disini, Papa mau pamit pulang dulu. Nanti malam Papa kesini lagi, tidak apa apa, 'kan? tidak lama kok." Kata Tuan Ganan berpamitan untuk pulang.


"Ya, Pa. Tidak apa apa, ada Mama jugaan." Ucap Zakka.


"Kalian berdua itu dari selalu kompak dan selalu ceria, Papa suka itu."


"Hem, rupanya Papa baru menyadarinya." Timpal Bunda Maura, Tuan Ganan tersenyum mendengarnya.


"Ya nih, Papa mah udah kompak banget sama Kakek Angga dan juga Kak Rey. Pantas aja kaku dan dingin, susah ketawa, tapi perhatian." Kata Zakka tanpa ada rasa takut ketika berkomentar, tak lupa diakhiri nyengir kuda.

__ADS_1


"Hem! begitu, ya. Biarin ah, penting jadi lelaki idaman, ya gak? ya dong." Sahut Tuan Ganan tak lupa dengan tawa kecil.


"Ya ya deh, ngalah." Kata Bunda Maura pasrah.


"Ya sudah, Papa pulang dulu." Ucap Tuan Ganan berpamitan.


"Ya, Pa. Hati hati di perjalanan." Jawab Bunda Maura, setelah itu Tuan Ganan segera pulang.


Kini, tak ada lagi yang menemani Zakka di rumah sakit selain ibundanya tercinta.


"Sudah waktunya makan malam, sayang. Mama suapin, ya." Kata Bunda Maura sambil meraih piring yang ada diatas meja yang tidak jauh dari ranjang pasien.


Namun sebelumnya, Bunda Maura membantu Zakka mengganti posisinya kembali seperti semula. Yakni membantu putranya untuk duduk dan bersandar, agar memudahkan untuk menikmati makan malamnya.


"Terus, Mama makan sama apa?" tanya Zakka sambil memperhatikan diatas meja yang tak ada apa apapun selain piring yang sudah berada ditangan ibundanya.


"Papa yang akan memesankannya nanti, lebih baik kamu makan ini aja dulu. Biar cepat sembuh, kamu dilarang makan sembarangab jenis makanan." Jawab Bunda Maura mengingatkan, Zakka pun hanya bisa mengangguk dan juga nurut.


"Ya dong, kamu harus semangat. Sudah waktunya kamu harus bahagia, jangan murung terus dong. Sayangi kesehatan kamu, jangan siksa diri kamu sendiri. Yang ada kamu akan mendapatkan kekecewaan, bukan kekuatan." Ucap Bunda Maura menyemangati.


"Ya, Ma. Zakka akan semangat untuk sembuh, Zakka akan memulai dari nol lagi." Kata Zakka berusaha untuk menyemangati diri sendiri. Meski semua itu tidak mudah, Zakka terus menyemangati diri sendiri untuk bisa menggapai harapannya yang baru.


"Nah, begitu dong. Kamu harus bersemangat, tidak boleh menyerah." Ucap sang Ibu yang tak henti menyemangati putranya.


"Sayang, buka mulutnya." Perintah sang ibu yang sudah menyodorkan suapannya didepan putranya, Zakka pun menerima suapan dari ibundanya.


"Bagaimana? enak, 'kan?"


"Enak, tapi hambar." Jawab Zakka dengan ekspresinya seakan dibuatnya bengong.


"Hambar? maksud Zakka?"

__ADS_1


"Ya, bukan istri Zakka yang menyuapi." Jawab Zakka, kemudian ia tertawa karena berhasil membuat ibunya telah dikerjain oleh putranya sendiri.


"Kamu ini, hem. Awas ya, nanti Mama bilangin sama Papa loh. Kalau Zakka menginginkan seorang istri, bisa bisa nanti dicarikan istri sama Papa nih."


"Mama, apa apaan sih. Tadi itu, Zakka kan cuman bercanda."


"Tidak baik ngomongin kek gitu, nanti beneran dicarikan istri sama Papa, bagaimana? kamu tidak akan bisa menolak loh."


"Mama jangan nakut nakutin Zakka, dong. Mama tidak perlu khawatir, Zakka pasti bakalan nikah kok. Tapi ... entah kapan deh, Ma."


'Kasihan sekali nasib kamu, sayang. Mama tahu, bahwa kamu sedang menghibur diri. Kamu berpura pura bahagia, padahal hatimu sangat lah hancur. Mama doakan, semoga kamu segera dipertemukan dengan seorang perempuan yang begitu tulus mencintai mu dan menyayangimu.' Batin Bunda Maura yang begitu sedih melihat kondisi putranya sakit dan berusaha untuk menghibur diri sendiri.


"Mama, kenapa melamun?"


"Tidak, Mama hanya ingin melihatmu segera sembuh. Mama ingin mengajakmu untuk jalan jalan seperti dulu, berdua sambil menikmati udara dipagi hari yang sangat sejuk itu." Jawab Bunda Maura beralasan.


"Ah ya, Zakka jadi teringat masa lalu itu. Zakka jadi ingat sama gadis kecil itu, yang sempat menyelamat nyawa Zakka. Jadi penasaran deh Ma, sampai sekarang belum juga ditemukannya gadis kecil itu. Mungkin sekarang sudah tumbuh besar." Ucap Zakka yang tiba tiba teringat dengan masa lalunya.


"Hem, kamu masih mengingatnya?" tanya sang Ibu.


"Ya, Ma. Zakka masih ingat. Bocah kecil, tapi sangat pemberani." Jawab Zakka yang kembali terlintas dengan gadis kecil dimasa lalunya.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu fokus aja dulu dengan kesembuhan kaki kamu. Setelah sudah sembuh, Mama akan membantumu mencari keberadaan gadis kecil itu." Ucap Bunda Maura meyakinkan putranya.


"Mama serius nih?" tanya Zakka untuk memastikannya lagi, takut ia akan kecewa.


"Tentu saja, kan kita yang suka berpetualang liburan jalan jalan. Nanti kalau kamu sudah sembuh, Mama akan mengajakmu ke tempat yang dulu." Jawab Bunda Maura untuk menyemangati putranya.


"Zakka akan berusaha untuk sembuh, Ma." Kata Zakka yang juga menyemangati diri sendiri.


"Ya sudah, dihabiskan dulu makanannya. Yang paling penting itu, kesehatan kamu. Soal untuk mencari keberadaan gadis kecil itu, gampang. Papa kan mempunyai banyak suruhan, jadi sangat mudah untuk mencari keberadaan gadis kecil itu." Ucap Bunda Maura menasehati, Zakka pun mengangguk dan nurut.

__ADS_1


__ADS_2