
Setelah Rey tidak lagi berada di rumah, melainkan sudah berangkat untuk ke Luar Negri. Kini didalam rumah sudah berkurang anggota keluarganya, yakni Rey yang tidak lagi tinggal di rumah.
Zakka yang baru saja membersihkan diri, ia segera bersiap siap untuk menemani sang ibu yang hendak berbelanja.
BRAK BRAK BRAK
"Kak Zakka, buka pintunya dong." Panggil Neyla sambil menggedor pintunya.
"Berisik amat sih, mau ngapain?" tanya Zakka ssetelah membuka pintunya.
"Dipanggil Mama dari tadi, tau." Jawab Neyla sambil berkacak pinggang.
"Iya ya ya, nih juga lagi mau keluar. Ngagetin saja kamu ini, minggir." Kata Zakka yang langsung keluar dari kamar.
"Dibilangin juga, huh." Ucap Ney berdecak kesal, kemudian langsung kembali ke kamarnya.
"Mama, sudah siap nih?" tanya Zakka pada sang ibu.
"Iya, sudah dari tadi Mama nungguin kamu. Sudah lah, ayo kita berangkat. Hari ini Mama mau berbelanja, sudah lama Mama tidak pernah keluar sama kamu. Apa lagi Kak Rey, tidak pernah di rumah. Mama kesepian selama tidak ada kalian bertiga, terasa sepi." Kata Bunda Maura sambil berjalan beriringan dengan putranya.
"Kenapa Mama tidak ajak Neyla? itu anak kan suka belanja." Tanya Zakka, kemudian masuk kedalam mobil dan diikuti sang Ibu.
"Neyla sedang sibuk dengan tugas tugasnya, karena besok sudah dibuka pendaftaran untuk karyawan baru." Jawab Bunda Maura.
"Memangnya Kantor Papa kekurangan Karyawan baru?" tanya Zakka lagi.
"Selama ini kamu kemana saja? hem, Papa sudah membuka lowongan pekerjaan yang cukup banyak penerimaan karyawan baru. Karena ... tidak hanya satu perusahaan yang membutuhkan karyawan baru, ada 3. Satu, kamu yang pegang. Dua, Papa kamu yang pegang, dan yang ketiga Neyla yang akan memimpin." Kata sang Ibu yang akhirnya berterus terang.
"Jadi, Zakka mimpin sendiri tanpa adanya Neyla? duh! jangan dong Ma. Zakka sama Ney aja, biar Ney menjadi sekretaris Zakka." Kata Zakka penuh harap.
"Tidak bisa, kamu sudah mendapatkan sekretaris baru." Ucap sang Ibu dengan keputusannya.
__ADS_1
"Sekretaris baru? jadi ... Papa sudah mencarikan sekretaris baru? yang benar saja, padahal Zakka ingin mencarinya sendiri." Kata Zakka dengan perasaan kecewa, karena rencananya harus gagal.
'Setidaknya jika Ney yang menjadi sekretaris, aku bisa memintanya untuk berhenti. Tapi ... jika sudah dipilihkan oleh Papa, maka ... aku tidak mempunyai cara lain untuk merubahnya.' Batin Zakka yang akhirnya memilih untuk diam, seakan sudah tidak bersemangat.
Tidak lama kemudian, akhirnya Zakka dan ibundanya telah sampai di pusat perbelanjaan.
"Ma, mau beli apaan sih? kan ada pelayan, kenapa tidak pelayan rumah saja yang berbelanja sih, Ma? kalau gini kan bikin Zakka trauma."
"Trauma kenapa?" tanya sang Ibu.
"Trauma karena Kak Rey meninggalkan Zakka di Mall segede gini, tau tau pulang dia." sambil mengingat, Zakka menggerutu kesal.
"Tenang saja, Mama tidak akan menghilang. Lagian juga kamu sudah besar sekarang, mana mungkin kamu akan tersesat."
"Bukan itu, Zakka hanya kesal saja." Ucap Zakka sambil berjalan dan membantu ibunya mengambil barang yang akan dibeli.
BRUK
"Aw! maaf."
"Iya, kamu siapa ya?" tanya Zakka balik bertanya.
"Aku Yevi, teman sekolah mu. Masih ingat aku, 'kan? bagaimana kabar kamu?"
"Ooh Yevi, aku sampai lupa. Kabar aku baik, kamu sendiri?" Zakka balik menyapa.
"Kabar aku juga baik, kerja dimana sekarang?" tanya Yevi dan senyum ramah pada Bunda Maura.
"Tante, ibunya Zakka?" tanya Yevi malu malu.
"Iya, ibunya Zakka. Kalau kalian ingin mengobrol, Ibu tinggal dulu. Dan buat kamu Zakka, jika sudah cukup mengobrolnya, kamu bisa temui Mama disudut sana, ok. Jawab Bunda Maura dan menunjukan arah pada putranya, Yevi pun tersenyum pada Beliau.
__ADS_1
'Dilihat dari penampilannya sih, sepertinya orang tajir. Jangan jangan Zakka ini anak orang tajir nih, tambah keren aja sekarang. Aku harus dekatin Zakka, apapun itu. Soal Rey yang tidak pernah muncul, buang aja. Dan aku rasa lebih tajir Zakka ketimbang Rey, aku yakin itu." Batin Yevi dengan rasa percaya dirinya.
"Zakka, kita duduk disana aja. Aku yang traktir deh, bagaimana?"
"Boleh, boleh." Kata Zakka dan menuju tempat yang ditunjukkan Yevi, teman sekolahnya.
Setelah memesan minuman, Yevi dan Zakka duduk berhadapan.
"Zakka, apa kesibukanmu?" tanya Yevi sedikit menyelidik.
"Kesibukanku hanya belajar dan belajar, kenapa?" jawab Zakka dan bertanya.
"Dari dulu kamu itu selalu belajar dan belajar, tapi tidak kamu dapatkan rangkingnya. Kasihan banget kamu ini, tapi aku salut sama kamu. Karena kamu itu tidak pernah menyerah untuk berhasil, meski kamu didahului si Rey sama si cewek norak itu, siapa namanya? Aaaaa Aish, iya si Aish. Herannya itu, norak tapi ota*knya jenius juga itu anak." Kata Yevi, sedangkan Zakka yang mendengar atas penghinaan pada perempuan yang ia sukai, ot*aknya seakan terasa mendidih. Ingin rasanya mena*mpol mulut Yevi, namun Zakka mencoba untuk menahannya.
Minuman yang di pesannya pun telah datang, setidaknya Zakka bisa mendinginkan suasana hatinya.
"Oh iya Zakka, usaha kamu sekarang apa?" tanya Yevi yang terus menyelidik.
"Aku tidak punya usaha, aku masih nganggur." Jawab Zakka sambil mengaduk minumannya.
"Tidak mungkin kamu seorang pengangguran, dari penampilan kamu saja sudah terlihat. Apa lagi dengan penampilan ibu kamu, kamu pasti sudah sukses." Ucap Yevi tanpa rasa malu sedikit pun, Zakka yang mendengarnya pun semakin risih dan kesal tentunya.
"Jangan menilaiku dengan penampilan, siapa tahu aja aku ini bohongan. Yang jelas aku belum terjun ke dunia pekerjaan, aku masih nganggur. Kamu sendiri? kesibukan kamu apa?" jawab Zakka dan balik bertanya.
"Aku dulunya sih jadi karyawan biasa, dan akhirnya sekarang ini aku jadi sekretaris. Lumayan lah hasilnya, setidaknya aku bisa berbelanja dengan puas. Oh iya, biasanya kemana mana kamu sama Rey. Apa kabarnya itu anak? sudah sukses, ya?" kata Yevi dengan rasa percaya dirinya. Zakka yang mendengarkannya pun terasa kesal dan ingin mena*mpol mulutnya yang asal bicara.
"Syukur lah kalau kamu sudah sukses, jangan bersikap boros, nanti kamu bisa rugi. Karena jatuh sakit tidak menunggu kapan dan disaat apa, yang jelas gunakan penghasilan kamu itu sebaik mungkin. Karena bisa saja, tempat kerjamu akan mengalami kebangkrutan atau kamu mempunyai pesaing dan kamu disingkirkan." Ucap Zakka yang seakan akan memberi ancaman untuk nya, Yevi sendiri tidak peduli dengan ucapan dari Zakka.
Karena tidak mau lama lama mengobrol, akhirnya Zakka memilih untuk angkat kaki dari tempat duduknya.
"Yev, maaf ya. Sepertinya aku tidak bisa lama lama disini, aku takut ibuku marah karena lama menungguku." Ucap Zakka berpamitan.
__ADS_1
Mau tidak mau, Yevi hanya bisa mengalah. Meski ada rasa kecewa karena tidak sesuai yang diharapkannya.
"Iya Zak, salam aja buat ibu kamu. Sampai bertemu lagi, bye ...."