
Aish hanya melempar senyumannya pada salah satu pelayan Restoran.
Yunda yang menyimpan rasa penasarannya pun segera menarik tangan Aish untuk menyingkir dari hadapan seorang pelayan yang baru saja menyapa sahabatnya. Sedangkan Afwan dan Yahya segera pergi mengikuti Aish dan Yunda.
"Aish, tolong jawab pertanyaan ku. Kenapa pelayan tadi memangil kamu dengan sebutan Nona? apakah kamu mengenalnya? apakah kamu ada hubungan dengannya? maksudku, kakak nya atau bagian keluarga yang lainnya." Tanya Yunda memberondong berbagai macam pertanyaan.
"Iya Aish, pelayan tadi itu siapa?" timpal Afwan yang juga ikut penasaran.
"Bukan siapa siapa, kebetulan aja kita pernah bertemu dan saling mengenal, itu aja sih." Jawab Aish beralasan.
'Maafkan aku, teman. Jika aku mulai banyak beralasan dan berbohong pada kalian. Maafkan aku yang tidak bisa untuk berterus terang pada kalian bertiga, karena aku masih belum siap untuk berkata jujur di hadapan kalian.' Batin Aish penuh rasa bersalah, ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk berterus terang dan masih sering berbohong pada ketiga temannya.
"Oooh kirain ada apa, rupanya teman baru. Ya sudah kalau begitu, ayo kita mencari tempat duduk. Aku sudah sangat capek dan juga lapar, ayo." Kata Yahya yang berusaha untuk mengerti dengan kondisi perempuan yang ia cintai.
Disaat itu juga, sepasang mata Yahya tertuju pada bangku kosong yang tidak jauh dari pandangannya. Setelah itu tanpa basa basi Yahya mengajak ketiga temannya termasuk Aish, kemudian keempatnya segera ia menunjukkan pada arah bangku kosong yang dimaksudkan dan segera berjalan menuju bangku kosong tersebut.
"Yahya, kamu yakin nih untuk mentraktir kita di Restoran semegah ini? nanti uang kamu habis, bagaimana?" tanya Afwan merasa tidak enak hati.
"Iya nih, nanti tabungan kamu ludes loh Yah. Mendingan kita pindah tempat yang lainnya aja, bagaimana? Restoran yang biasa biasa aja, atau warung makan yang biasa kita datengin." Kata Yunda ikut menimpali.
"Yang dikatakan Yunda itu ada benarnya, Jika kamu merasa keberatan katakan saja. Jangan kamu paksakan diri untuk mentraktir kita kita." Aish pun ikut menimpali.
"Sudah lah, kalian jangan khawatir. Ini uang 1/0% persen jerih papahku, sedikit sedikit aku mengumpulkan uang untuk mentraktir kalian. Ayo lah, terima traktiran dariku." Ucap Yahya meyakinkan ketiga temannya.
"Iya iya iya, kita percaya sama kamu." lagi lagi Afwan menimpali nya.
Setelah itu, keempatnya memilih untuk memesan menu kesukaannya masing masing. Saat pesanannya sudah tersaji diatas meja dan dihadapannya, Yahya maupun ketiga temannya memulai untuk menikmati makan siangnya. Suapan demi suapan, suasana tidak pernah berubah adanya Yunda dan Afwan yang selalu membuat tidak sepi.
Usai menikmati makan siangnya, akhirnya Yahya dan Aish maupun Yunda dan Afwan membersihkan mulutnya masing masing dengan tissu.
Disaat itu juga, tiba tiba sebuah benda pipih milik Yahya tengah mengagetkan ketiga temannya. Aish menoleh ke arah Yahya, begitu juga dengan Yunda dan Afwan.
__ADS_1
Dengan cepat, Yahya langsung merogoh ponselnya dan menerima panggilan masuk.
"Apa!!! di rumah sakit? iya iya ya ya, baiklah." Ucap Yahya dan langsung mematikan panggilan masuknya.
"Yahya, siapa yang sakit?" tanya Aish.
"Abi aku, Abi aku masuk ke rumah sakit. Sepertinya aku tidak bisa pulang dengan kalian, aku harus peegi ke rumah sakit. Kalian tidak apa apa kan jika aku tinggal? ini sangat darurat." Jawab Yahya.
"Kita ikut, boleh 'kan?" kata Afwan menimpali.
"Terserah kalian." Jawab Yahya dan segera meninggalkan Restoran tersebut.
Tanpa pikir panjang, Yahya langsung mengendarai mobilnya cukup kencang. Bahkan ia tidak peduli dengan banyaknya kendaraan kendaraan yang lalu lalang kesana kemari, Yahya tetap bisa untuk melakukannya dengan kecepatan tinggi.
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Yahya telah sampai di rumah sakit yang dimana orang tuanya sedang ditangani oleh Dokter.
"Umi, dimana Abi?" tanya Yahya dengan gelisah.
"Abi sedang ditangani oleh Dokter, Nak. Untung saja tadi ada kedua orang tua Maula, kalau tidak, Umi tidak tahu nasib Abi." Jawab ibunya. Dengan perasaan gelisah dan cemas, Yahya terus mencoba untuk menenangkan ibunya.
"Pak Yai, terima kasih banyak atas pertolongan dari Pak Yai." Ucap Yahya berterima kasih.
Sedangkan Aish dan kedua temannya hanya berdiri bak patung hidup. Seketika, pandangan Aish tertuju pada sosok perempuan yang menurutnya sangat lah tidak asing sedang duduk di sebelah orang tuanya.
'Maula, kenapa perempuan itu ada rumah sakit?' batin Aish bertanya tanya. Tidak hanya itu, Yunda dan Afwan pun pandangannya tertuju pada perempuan yang menurutnya sangat asing.
"Yun, perempuan itu siapa? perasaan Yahya tidak mempunyai adik perempuan deh." Bisik Afwan yang juga pemasaran.
"Iya, aku sendiri juga tidak tahu." Kata Yunda yang ikut menyimpan rasa penasarannya.
"Ah sudah lah, doakan saja untuk orang tua Yahya agar cepat sembuh." Ucap Yahya untuk mengalihkan topik yang belum jelas kebenarannya.
__ADS_1
"Permisi, maaf sebelumnya. Adakah disini yang bernama Yahya dan Maula?"
"Ada Bu, saya orangnya dan itu Maula."
"Ooh, mari silahkan ikut saya." Ajaknya, Yahya pun hanya bisa nurut.
DUAR!
Bagai tersambar petir ketika mendengar dan melihatnya secara langsung, Aish merasa tersentil hatinya. Begitu juga dengan Afwan dan Yunda, kedua sahabat Aish seperti tidak percaya mendengarnya. Ketiga nya pun tercengang melihat serta mendengarnya.
Disaat itu juga, Yahya menatap Aish yang tengah berdiri disebelah Yunda dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Sedangkan Aish berusaha untuk bersikap tetap tenang, bahkan dirinya masih sempat untuk menganggukkan kepalanya.
Sedangkan Yahya dan Maula segera masuk ke ruangan yang dimana orang tua Yahya tengah ditangani oleh Dokter.
Sampai didalam ruangan tersebut, dilihatnya nafas orang tuanya yang terlihat sangat sesak dan berat. Pelan pelan, Yahya mendekati sangat ayah. Kemudian meraih tangannya dan diciumnya.
"Abi ..." panggil Yahya dengan lirih.
"Yah - ya,"
"Iya, Abi." sahut Yahya mendekati daun telinga ayahnya.
"Ab bi ada per min taan," kata sang ayah sambil menahan sesak didadanya.
"Apa permintaan Abi, katakan saja Bi." Tanya Yahya sambil membusungkan badannya.
"Me ni kah lah dengan Mau la."
DUAR!
Kini Yahya yang serasa tersambar petir disiang bolong dengan ucapan serta permintaan dari orang tuanya.
__ADS_1
"Tapi ... Aaaaa ..."
"Abi ti-dak mem-punyai wak-tu lama la-gi, Yah. Se-karang ju-ga ka-mu a-kan me-nikah di rua-ngan ini, A-bi ingin menya-ksikan lang-sung un-tuk yang tera-khir kali-nya." Kata sang Ayah penuh harap dan terbata bata untuk mengucapkan nya.