
Bunda Maura yang tengah duduk termenung, Beliau tersadar jika putranya baru selesai membersihkan diri dibantu oleh asisten orang kepercayaan Tuan Ganan.
"Permisi, Nyonya. Maaf, saya ingin memakaikan baju untuk Tuan Muda."
"Ah ya, maaf. Ini, bajunya. Kalau begitu saya keluar dulu. Jika sudah selesai mengganti pakaian, ajak Zakka ke ruang keluarga." Pesan Bunda Maura pada asisten yang merawat putranya.
"Baik, Nyonya." Jawabnya, kemudian ia segera membantu Zakka untuk mengenakan pakaiannya. Sedangkan Bunda Maura bergegas keluar dari kamar Zakka.
Cukup lama membantu Zakka mengenakan pakaiannya, akhirnya selesai juga. Meski kakinya yang bermasalah, tetap saja tidak mengurangi fisik yang lainnya.
Berat badan Zakka masih tetap, postur tubuhnya tidak ada perubahan apapun. Zakka tetap terlihat seperti dulu, berisi dan masih terlihat tampan. Bahkan ia tidak mempunyai perasaan malu sedikitpun mengenai sakitnya pada kaki yang mengakibatkan dirinya sulit untuk bereskan. Tidak hanya sulit untuk berjalan, kenyataan yang memang tidak bisa berjalan.
Selesai mengenakan pakaian dan tidak ada lagi yang kurang, Zakka diajak keluar dari kamar. Sampainya di ruang keluarga, terlihat jelas jika Bunda Maura tengah menunggu putranya sendirian.
"Mama, kenapa melamun?" tanya Zakka sambil mendekati bundanya.
"Mama sedang tidak melamun, sayang. Cie ... Anak Mama yang satu ini tambah ganteng saja nih." Ledek Bunda Maura.
"Wah ... ada yang bau bau senyum senyum tidak jelas nih, bagaimana pagimu hari ini, cucuku?" Omma Qinan pun ikut menimpali.
"Mama, Omma, sama aja deh suka ngeledek." Kata Zakka, kemudian ia mendekati Bunda Maura untuk ikut duduk bersama Omma dan Ibundanya.
"Oh ya, nanti malam Rey dan Aish akan datang, 'kan?" tanya Omma Qinan yang sengaja untuk menguji Zakka. Bukan untuk membuatnya sakit hati, tapi ingin mengetahui reaksinya sebelum acara dimulai.
Disaat itu juga, Zakka hanya diam membisu tanpa ikut menimpali sepatah kata pun.
"Rey akan datang bersama teman temannya, termasuk dengan istrinya." Jawab Bunda Maura sambil menoleh kearah putranya yang juga ingin melihat reaksi putranya.
Mau bagaimana pun harus diuji coba untuk memastikan seberapa besar rasa itu telah pudar, pikir Bunda Maura dan Omma Qinan.
"Ma," panggil Zakka.
"Ya Nak, ada apa?" tanya sang ibu.
"Carikan perempuan yang bisa dijadikan pacar sementara untuk Zakka malam ini saja." Jawab Zakka sambil menatap lurus kedepan.
Omma Qinan dan Bunda Maura terkejut mendengarnya, bahkan saling menatap satu sama lain.
"Pacar sementara, maksud kamu?" tanya Bunda Maura mengulangi ucapan dari puteranya itu.
__ADS_1
"Ya, pacar sementara. Setidaknya ada perempuan disamping Zakka, titik." Jawab Zakka yang masih juga tidak menoleh ke Arab ibundanya.
"Untuk apa? bukankah kamu bilang jika kamu telah siap untuk menerima kenyataan ini. Jika kamu tidak mampu, kita bisa batalkan. Kita bisa ganti acaranya, yakni untuk berbagi." Kata Bunda Maura yang takut atas permintaan dari putranya yang sangat mengkhawatirkan.
"Mama jangan banyak tanya, sekarang juga Mama dan Omma carikan perempuan yang mau menjadi pacar sementara Zakka. Tidak perlu dari kalangan orang kaya, penting dia nurut ikutin rencana Zakka. Soal kecantikan itu gampang, Mama punya salon kecantikan dan tentunya bisa dirubah secantik mungkin." Jawab Zakka yang tetap dengan pendiriannya.
Bunda Maura pun bingung untuk menanggapi permintaan dari putranya yang menurutnya sangat lah aneh dan benar benar sulit untuk mencarikan nya.
Pelan pelan Bunda Maura menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Pikirkan baik baik lagi, Zakka." Ucap Bunda Maura untuk meyakinkan putranya yang jelas jelas terlihat menyimpan kecemburuannya pada saudara kembarnya sendiri.
"Ya, cucuku. Jangan kamu turuti egomu, ada hati yang harus kamu jaga. Jangan sampai kamu masuk dalam perangkap kamu sendiri. Omma percaya kok sama kamu, jika kamu bisa melewatinya." Timpal Omma Qinan yang juga mencoba untuk memberi nasehat kepada cucunya.
Sayang disayang, Zakka tidak akan goyah dengan cara pikirnya itu. Apapun yang sudah menjadi pilihannya, sedikitpun dia tidak akan mengabaikannya. Cukup mengalah dari saudara kembarnya sendiri walau itu sangat menyakitkan baginya, pikir Zakka disela sela mencari ide.
"Pokoknya carikan saja orangnya yang mau menjadi pacar sementara. Untuk soal bayaran, itu gampang." Kata Zakka tetap pada pendiriannya.
Karena tidak mempunyai pilihan lain, Bunda Maura dan Omma Qinan akhirnya menuruti apa yang diinginkan dari Zakka.
"Baik lah, nanti Mama dan Omma akan meminta bantuan Seyn, Papa, Kakek, dan juga Neyla." Ucap Bunda Maura yang akhirnya menyanggupinya.
Kini tinggal lah Omma Qinan dan Bunda Maura yang berada di ruang keluarga. Sama sama penat, bahkan sulit untuk mencerna maksud dari seorang Zakka.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Kakek Angga memergoki.
"Ini loh, kita berdua tuh sedang di buat pusing sama Zakka." Jawab Omma Qinan sambil memijat pelipisnya. Baru kali ini mendapatkan permintaan yang sangat aneh, pikir Omma Qinan.
"Memangnya Zakka sudah berbuat apa pada kalian? kok sampai pusing segala." Tanya kakek Angga dan ikut duduk didekat Omma Qinan.
"Zakka tuh minta kepada kita berdua untuk mencarikan pacar sementaranya Zakka buat acara nanti malam. Yang benar saja, dari mana kita temui perempuan yang mau dijadikan pacar sementara nya Zakka, Pa?" Jawab Omma Qinan sedikit penat untuk memikirkannya.
"Zakka bilang begitu?" lagi lagi kakek Angga tidak kalah herannya dan juga seperti tidak percaya.
"Dimana Zakka?" tanya sang kakek tentang keberadaan cucu keduanya.
"Katanya sih di ruang kerjanya, Pa. Soalnya tadi Zakka bilangnya mau ke ruangan kerjanya." Timpal Bunda Maura.
"Dari pada Papa ikutan pusing seperti kalian, lebih baik Papa temu Zakka langsung. Jika memang pusing beneran, Papa bisa mengeluh langsung sama Zakka." Ucap Kakek Angga.
__ADS_1
"Ya, Pa. Kita berdua nurut aja, yang terpenting tidak membuat Zakka semakin banyak pikiran." Kata Omma yang khawatir dengan kesehatan cucunya.
"Tenang saja, semua akan baik baik saja dengan Zakka. Ya sudah kalau begitu, Papa mau menemui Zakka sebentar." Ucap Kakek Angga, kemudian Beliau bergegas untuk menemui cucunya.
"Ya Pa, Maura hanya takut saja jika Zakka akan mengalami trauma yang cukup berat." Jawab Bunda Maura dengan pikirannya yang tidak karuan mengenai kesehatan putranya.
"Tidak, tidak akan hal buruk terjadi pada Zakka. Percayalah sama Papa, jika Zakka mampu menghadapinya." Ucap kakek Zakka meyakinkan.
"Ya, Pa. Maura nurut saja sama Papa, selebihnya hanya berdoa dan berusaha." Jawab Bunda Maura, kakek Angga pun langsung menuju ke ruang kerja cucunya.
Sampainya didepan pintu, kakek Angga memastikan jika cucunya baik baik saja. Dengan pelan, kakek Zakka membuka pintu nya dan dengan hati hati agar tidak kedengaran suaranya.
Naas, kakek Angga tertangkap basah oleh cucunya dengan posisi pandangannya mengarah pada pintu.
"Kakek, ngapain kakek ngendap ngendap begitu?"
"Ah, kamu ini. Kakek kan mau mengagetkan kamu, hem. Sedang apa kamu? tidak sedang menangis, 'kan?"
"Menangis? nangisin apaan kek? tidak ada yang perlu ditangisi. Zakka hanya ingin menjernihkan pikiran yang sudah ketumpuk kenangan palsu." Kata Zakka setengah bergurau.
"Kenangan palsu? kenangan macam apa, itu? ada ya kenangan palsu. Kamu ini, ada ada saja. Oh ya, nanti malam kamu sudah siap, 'kan?"
"Tentu saja, Kek. Zakka sudah siap dari kemarin, serius." Kata Zakka, sedang kakek Angga memilih menarik kursi rodanya menuju sofa. Kakek Angga pun duduk disebelahnya, hanya saja Zakka duduk di kursi rodanya.
"Kakek dengar kalau kamu itu minta dicarikan pacar sementara sama Omma dan Mama. Apakah permintaan kamu itu serius?" tanya kakek Angga yang akhirnya membuka suara.
"Ya, Kek. Setidaknya Zakka tidak dipandang hina didepan teman teman Zakka, itu saja." Jawab Zakka yang lagi lagi pandangannya lurus kedepan.
"Kenapa mesti pacar sementara? kenapa tidak istri selamanya?"
Seketika, Zakka menoleh kearah sang kakek. "Istri selamanya? jangan bermimpi yang berlebihan deh Kek. Zakka hanya minta pacar sementara, bukan istri selama lamanya."
"Lah ya, kenapa kamu tidak meminta sama Mama kamu untuk dicarikan istri selama lamanya? bukankah kamu akan mempunyai teman tidur, teman bergurau, teman bermanja, teman keluh kesah, teman hidup untuk selamanya." Ucap Kakek Angga yang langsung pada pokok intinya. Tidak peduli jika Zakka menolaknya, yang terpenting Kakek Zakka berusaha untuk mencobanya.
"Kek, menikah itu bukan hal yang mudah. Apa lagi dengan kondisi Zakka yang seperti ini, sangat mustahil jika Zakka akan mendapatkan perhatian dari seorang perempuan yang tulus ikhlas menerima keadaan Zakka. Biar lah, semua berjalan bagaikan air mengalir. Zakka sadar diri, tidak ingin ada harapan lebih. Zakka cukup kecewa sekali, itupun sangat menyakitkan." Jawab Zakka dengan lesu.
"Kakek tahu, menikah itu bukan hal yang mudah. Tapi, apa ya kita akan menyudutkan diri kita sendiri dari sebuah penyesalan? tidak, 'kan? jangan kamu menghukum diri kamu sendiri. Ingat, ada hati yang harus kamu jaga. Jika kamu masih ingin menyakiti hati kamu sendiri, sampai kapan pun kamu sulit untuk mendapatkan kebahagiaan. Percayalah sama Kakek, luka kakimu tidak jauh beda dengan luka hati dan luka fisik yang Kakek rasakan." Ucap Kakek Angga tidak lupa untuk menasehati cucunya panjang lebar.
"Kakek mending ada Omma Qinan yang begitu menyayangi Kakek, dan juga memberi perhatian penuh. Kalau Zakka? mana ada perempuan yang mau, sehat saja Aish selalu menolak." Kata Zakka bercampur emosi.
__ADS_1
"Aish? bagaimana mau menerima kamu, Zakka? Aish berawal sudah ada hubungan dengan teman kecilnya sampai lulus sekolah, sedangkan selesai sekolah Aish sudah ada ikatan pernikahan dengan saudara kembarmu sendiri. Terus ... kamu mau masuk ke hati Aish lewat mana? hati seorang perempuan tidak semudah itu untuk menyelesaikan masalahnya. Jika Aish memilih Rey, itu hal yang sangat wajar. Satu atap, satu kamar. Perhatian dari suaminya ia dapatkan, perlakuan kasar tidak pernah dilakukan oleh suaminya. Wanita mana yang tidak jatuh hati jika lelaki yang ada didekatnya tidak pernah memberi luka pada pasangannya. Terkecuali suaminya kejam, angkuh, dan penyiiksa. Mungkin saja Aish akan mencari lelaki yang menurutnya bisa membuatnya nyaman." Ucap Kakek Angga panjang lebar.