Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Mengingatkan


__ADS_3

Karena tidak ada lagi yang dipikirkan, Aish segera kembali masuk kedalam kelasnya.


"Hei Aish, belum masuk?" tanya Zakka basa basi. Aish yang merasa namanya dipanggil, ia langsung menoleh hanya sesaat.


"Belum, baru aja aku ambil buku dari kantor." Jawabnya, kemudian tatapannya kembali lurus kedepan sambil berjalan.


"Aish, kamu kenapa sih! setiap aku ajak ngobrol, kamu seperti buang muka kek gitu."


"Tidak, aku hanya menjaga pandanganku aja. Maaf, kita bukan mukhrim. Papaku melarangku untuk berdekatan dengan laki laki yang bukan mukhrim ku, maaf." Jawabnya, kemudian mengatupkan kedua tangannya.


Zakka masih terdiam, ia mencoba menerkanya.


"Aneh, tapi kenapa berteman dengan Afwan? hem." Gerutunya sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal karena merasa bingung.


Karena tidak ingin berpikir terlalu lebih panjang, Zakka segera masuk ke kelasnya.


Sesampainya didalam kelas, Zakka melihat Aish tengah menghampiri saudara laki lakinya. Zakka tidak berani mendekat, ia memilih hanya untuk memperhatikannya.


"Ini, buku kamu tertinggal ditanganku. Kamu pasti mencarinya, maaf." Ucap Aish sambil memberikan bukunya pada Rey.


"Terima kasih," jawabnya dengan dingin. Kemudian, Aish langsung kembali ke tempat duduknya.


'Syukur lah, kak Rey tetap pada kejutekannya. Aku yakin, Aish tidak bakal mendapat gaya tarik sama kak Rey. Lihat lah, pria tampan dengan sejuta sifat dinginnya. Mana ada perempuan yang akan tertarik, palingan juga hanya terpesona.' Batin Zakka dengan yakin, kemudian ia segera kembali ke tempat duduknya.


Dengan kasar, Zakka membuang nafas kasarnya.


"Dari mana aja, kamu?" tanya Rey hanya sekilas melirik.


"Dari ngobrol bareng sama Aish, gadis pujaan hatiku itu." Jawabnya dengan rasa percaya dirinya.


Ctak!! "aw! sakit, tau Kak." Maksud aku, Bro." Sambil mengusap keningnya yang baru saja mendapat sentilan dari sang kakak, lagi lagi Zakka senyum lebar dan garing.


"Awas! kalau sampai kamu bikin ulah lagi, tidak segan segan aku akan menghubungi Papa." Ancam Rey dengan tatapan tajam, Zakka hanya tertawa kecil mendengarnya. Sedangkan Rey memalingkan wajahnya dari sang adik.


Setelah melewati jam pelajaran satu demi satu mata pelajaran, tidak terasa sudah waktunya untuk pulang.


"Yes! akhirnya jam pelajaran sudah habis." Ucap Zakka penuh semangat, kemudia menoleh kearah Aish yang tengah sibuk dengan tas sekolahnya.


'Pujaan hatiku, lope lope dah gua sama lu, Aish.' Batin Zakka sambil memperhatikan Aish yang begitu seriusnya, lagi lagi Zakka kepergok kembali.


"Zakka!!"


"What!!" sontak kaget dibuatnya.

__ADS_1


'Ketahuan lagi, ma*mpus gua.' Batin Zakka sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal dan nyengir lebar pada sang Guru.


"Ampun! Tuan, eh maksud saya itu Pak Guru ..." ucap Zakka sambil menjewer telinganya sendiri.


"Mulai besok, kamu duduk dengan Dani. Kamu tukar tempat duduk dengan Delon, ngerti."


"Jangan dong Pak ... saya tidak bisa lepas dari kakak saya, eh kenapa salah lagi gini sih. Maksud saya, saya tidak bisa jauh dengan sahabat saya ini Pak." Rengek Zakka merayu.


"Tidak! keputusan Bapak sudah bulat, kamu dan Rey tidak akan satu bangku lagi. Kalian berdua akan terpisah, ngerti."


"Iya ya, Pak ..."


"Bro, tolongin aku dong." Rayu Zakka pada Rey.


"Sudah saatnya kamu mandiri, agar kamu tidak ketergantungan lagi." Jawab Rey datar.


"Bah! segitunya kamu denganku, Bro." Ucap Zakka dengan cemberut layaknya sang adik tengah merajuk pada sang kakak dengan berbagai rayuan.


"Sudah sudah! sekarang waktunya berdoa sebelum pulang. Dan kamu Zakka, pimpin doa sebelum pulang."


"Apa? pimpin doa sebelum pulang?"


"Sudah, cepetan. Tinggal pimpin doa aja tidak punya mental, payah kamu."Ucap Rey sambil menatap lurus kedepan.


Sekilas, Aish diam diam tengah memperhatikan kakak beradik yang sangat jauh perbedaannya.


'Mereka sangat berbeda, namun sepertinya saling melengkapi.' Batin Aish tanpa ia menyadarinya.


"Zakka! cepat kamu pimpin doanya." Perintah sang Guru dengan suaranya yang keras.


"Iya, Pak Guru ..." jawab Zakka dengan pelan.


Namun tidak untuk Aish dan Rey, justru keduanya nampak saling beradu pandang. Dengan sigap, Rey dan Aish membenarkan posisi duduknya.


Aish yang tersadar dari lamunannya, segera ia memperbanyak istighfar dengan menggerakkan kedua bibirnya tanpa bersuara.


Usai dipimpin doa oleh Zakka, semua murid keluar dengan tertib. Sedangkan Zakka dan Rey memilih untuk keluar paling belakang. Keduanya masih dengan posisinya duduk ditempat duduknya.


"Kak,"


"Hem."


"Dih! cuman jawab, hem."

__ADS_1


"Terus ..."


"Tidak jadi, wek ..." sambil bangkit dari posisi duduknya, Zakka menjulurkan lidahnya dan lari keluar meninggalkan sang kakak didalam kelas sendirian.


BRUG!!!


Tanpa sengaja, Zakka tengah menabrak seseorang yang hendak masuk ke kelas.


"Maaf, maaf, aku tidak sengaja." Seketika, Zakka tercengang melihat perempuan yang ada dihadapannya.


"Aish ..." panggil Zakka terpesona pada perempuan yang ada dihadapannya.


"Maaf, aku mau lewat." ucap Aish sambil menunduk.


"Apa ada yang tertinggal?" tanya Zakka sambil bergeser dari posisinya.


"Buku aku ketinggalan, permisi." Jawab Aish, kemudian berjalan menuju tempat duduknya. Tanpa sengaja, lagi lagi pandangan Aish tertuju pada Rey yang masih duduk di tempatnya.


Kemudian, Aish menundukkan pandangannya dan mengambil bukunya yang tertinggal.


Karena tidak ada lagi sesuatu yang dipikirkan, Rey langsung bangkit dari posisi duduknya dan segera keluar dari kelas.


"Ayo, keluar." Ajak Rey pada Zakka dan mendorongnya keluar.


"Kak, aku ingin mengantarkan Aish pulang." Ucap Zakka sambil meninggikan satu alisnya


"Aish tidak perlu diantarkan pulang oleh kamu, bocah tengil." Sahut Afwan yang sudah berada dihadapan Zakka.


"Eh! reseh banget sih, lu itu. Siapa tahu aja, Aish bersedia aku antarkan pulang. Dih, kamu kan bukan cowoknya." Jawab Zakka.


"Heh! asal kamu tahu, ya. Aish sudah ada yang punya, yang jelas tidak sebanding dengan kamu. Ilmumu tidak sebanding dengan cowok yang disukai Aish dan ayahnya. Gua kasih tahu sama kamu, ya. Tipe Aish itu laki laki yang berasal dari pondok, ngerti. Bukan sepertimu yang belagu, sok kaya anak Sultan." Ucap Afwan yang sudah mulai geram melihat tingkah Zakka yang menurutnya tidak mempunyai etika terhadap perempuan.


"Iya, tuh diingat." Sahut Yunda ikut menimpali.


Zakka yang mendengarnya pun hatinya terasa panas dan juga geram ketika mendengar ucapan dari Afwan. Seketika, Zakka langsung pergi begitu saja tanpa berucap. Begitu juga dengan Rey yang langsung pergi tanpa berucap.


"Kalian berdua kenapa sih? tidak baik jika kalian berbicara seperti itu, Afwan, Yunda. Kalau Zakka mempunyai dendam dengan kalian, bagaimana? jangan diulangi lagi." Sahut Aish.


"Habisnya Zakka itu sangat keterlaluan. Dia itu selalu memperhatikan kamu, dan kita tidak ingin jika kamu diganggu sama Zakka." Ujar Afwan.


"Andai saja ada Yahya, pasti ada yang menjaga kamu." Sahut Yunda menimpali.


"Sudah lah, kita jangan terlalu membenci seseorang. Walaupun orang itu tidak baik sekalipun, karena kita tidak tahu akhir dari sosok kepribadian setiap orangnya. Begitu juga dengan menyukai seseorang jangan berlebihan, karena hati seseorang bisa berubah ubah jika Tuhan sudah berkehendak." Ucap Aish mengingatkan, sedangkan Afwan dan Yunda hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2