
Usai menikmati makan malamnya, Bunda Maura membantu putranya untuk mengganti bajunya.
"Ma, Papa belum juga dateng loh. Mama serius nih tidak lapar? Zakka tadi lupa tidak ikutan nyuapin Mama." Ucap Zakka merasa bersalah, Bunda Maura tersenyum mendengarnya.
"Bentar lagi Papa juga datang, kamu istirahat saja. Sudah malam ini loh, kasihan dengan kesehatan kamu. Katanya ingin cepat cepat sembuh, hem." Jawab Bunda Maura sambil menaruh baju kotor yang sudah dipakai putranya.
"Zakka belum ngantuk kok, Ma. Jugaan Zakka masih ingin mengajak Mama ngobrol bareng seperti biasanya. Entah kenapa, Zakka kangen banget Mama yang dulu. Yang selalu menyemangati Zakka, dan juga yang selalu penuh perhatian." Kata Zakka tak lupa memuji ibundanya.
"Hem, sudah malam ini loh. Kalau kamu maunya ngobrol terus, kapan istirahatnya? hem."
"Nunggu Papa dateng dong, Ma. Zakka tidak mau melihat Mama sendirian seperti ini, sedangkan Zakka tidur dengan pulas.
"Serius amat kedengarannya, ngomong ngomong kalian berdua sedang ngomongin apa saja, hayo. Nih, Papa bawakan makanan untuk kalian berdua." Kata Tuan Ganan yang tiba tiba mengagetkan anak dan istrinya.
"Papa, ngagetin aja deh. Ini apaan, Pa? jadi penasaran nih? wah ... aromanya keknya benar benar menggoda deh." Kata Bunda Maura sambil menerima pemberian dari suaminya, kemudian Beliau segera membukanya.
"Zakka, sudah makan?" tanya sang ayah sambil melepas jaketnya.
"Sudah tadi, Pa. Tinggal Mama yang belum makan, habisnya tadi Mama menolak diajak makan bareng sama Zakka." Jawab Zakka sambil menunjukkan keceriaannya, meski kenyataannya masih butuh waktu untuk melupakan dengan sepenuhnya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu makan aja duluan. Papa mau menemani Mama makan malam sebentar, ok." Kata Tuan Ganan, Zakka pun mengangguk.
"Tidak apa apa kan, sayang? tidak lama kok. Mama cuman sebentar saja, lagian juga di ruangan ini. Kalau begitu Mama makan dulu, ya." Jawab Bunda Maura mencoba berpamitan.
__ADS_1
"Ya, Ma. Tidak apa apa, silahkan." Kata Zakka, setelah itu Bunda Maura ditemani Tuan Tanah menikmati makan malam diruang rawat putranya.
Tidak berlama lama ketika menikmati makan malamnya, akhirnya Bunda Maura selesai juga.
Zakka yang sudah merasa mengantuk, dia dibantu oleh sang ibu untuk menggosok giginya. Kemudian setelah itu ia beristirahat, tidur dengan pulas.
Selanjutnya, tinggal Tuan Ganan dan istrinya yang belum terasa mengantuk. Karena tidak tahu harus ngapain, Bunda Maura akhirnya memilih duduk di sofa sambil bersandar pada suaminya yang masih terlihat gagah itu.
"Pa, kira kira berapa hari Zakka bisa pulang, ya? kasihan Zakka kalau berlama lama di rumah sakit." Tanya Bunda Maura yang masih kepikiran dengan kesembuhan putranya.
"Papa kurang tahu, semoga saja tidak lama lama di rumah sakit." Jawab Tuan Ganan.
"Pa, bagaimana kalau Zakka dirawat di rumah saja. Papa nyari salah satu perawat untuk membantu kesembuhan Zakka, bisa 'kan? Mama kasihan sama Zakka, Pa."
"Kan ada Mama yang bisa menemani dan menyemangati Zakka." Jawab Tuan Ganan yang lupa dengan sakit yang dimiliki oleh putranya sendiri.
"Ah ya, Papa sampai lupa kalau Zakka tidak bisa mengganti pakaiannya. Hem, kan ada orang kepercayaan di rumah. Kita bisa memberi perintah pada salah satu mereka untuk merawat Zakka." Jawab Tuan Ganan.
"Tapi ... Mama pinginnya itu perempuan, tapi ...."
"Tapi kenapa, Ma?"
"Harus menjadi istrinya, tapi tapi tapi ... Mama bingung untuk menjelaskannya sama Papa." Kata Bunda Maura sedikit bingung untuk memberi penjelasan kepada suaminya.
__ADS_1
Tuan Ganan tersenyum mendengarnya, Beliau pun akhirnya mengerti apa yang dimaksudkan dari sang istri.
"Bilang saja kalau kamu mau mencarikan istri untuk putra kita, ya 'kan? Aku bisa menebaknya sekarang." Jawab Beliau sambil menggengam tangan milik istrinya.
"Kalau kita ingin mencarikan istri untuk putra kita, lihat dulu perasaannya. Zakka sedang tidak baik baik saja, hati dan kakinya. Jadi, kita harus pikirkan matang matang untuk menentukan sesuai yang kita inginkan. Jangan sampai kesalahan berakibat fatal, aku tak ingin Zakka akan terasa tertekan batinnya." Ucap Tuan Ganan kembali memberi penjelasan pada istrinya, tak lupa juga nasehat nasehat kecilnya.
"Benar juga kata Papa, Mama ikut saja saran dari Papa. Oh ya, Mama ada sesuatu yang ingin disampaikan. Boleh, 'kan? ini juga permintaan putramu si Zakka."
"Memangnya permintaan apa yang diinginkan putra kita? apa perawat lelaki yang kamu maksudkan tadi? atau ada yang lainnya, katakan saja."
"Tadi waktu Mama sedang menyuapi Zakka, tiba tiba dia teringat dengan seorang gadis kecil di masa lalunya. Yakni di puncak yang sering Mama datangi. Nah, Zakka ingin sekali bertemu dengan gadis kecil itu. Gadis yang pernah menyelamatkan Zakka dikala putra kita hampir saja tertabrak mobil. Papa masih ingat, 'kan? waktu yang dimana kita pergi ke puncak bersama Zakka. Tapi tidak dengan Neyla dan Rey, mereka berdua pergi bersama Omma dan Kakeknya." Kata Bunda Maura panjang lebar untuk bercerita serta mengingatkan masa lalu.
"Oh ya, sekarang Papa baru ingat. Jadi, Zakka ingin mencari gadis itu? kamu sedang tidak bohong, 'kan?"
"Tidak lah, Pa. Bagainana? Papa bisa melakukan penyelidikan untuk mencari keberadaan gadis kecil itu, 'kan? demi Zakka dan kesembuhan putra kita."
"Masalahnya sudah sangat lama, apakah kita bisa mencari gadis kecil itu? Papa rasa sangat lah sulit." Kata Tuan Ganan sambil mencari ifa dan berpikir.
"Ya juga sih, tidak ada bukti untuk dijadikan alat pencarian. Apa salahnya jika Papa mencobanya, setidaknya putra kita tidak merasa kecewa. Ya .... walaupun hasilnya tidak ada sama sekali, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencoba mencarinya." Ujar Bunda Maura, Tuan Ganan mengangguk karena mengerti maksud dari istrinya. Mau bagaimana pun, Tuan Ganan akan menyetujui permintaan putranya.
Karena malam semakin larut, Tuan Ganan dan Bunda Maura mulai terasa mengantuk. Kedua matanya sama sama terasa berat untuk diajaknya bergadang.
"Sudah malam nih, kita istirahat dulu. Masalah yang barusan saja kita bahas, kita lanjutkan lagi besok. Mama tidak perlu khawatir, Papa akan selalu melakukan yang terbaik untuk putra kita, Zakka." Ucap Tuan Ganan meyakinkan istrinya dan mengajaknya untuk segera beristirahat.
__ADS_1
"Ya, Pa. Mama nurut saja dengan apa yang Papa perintahkan. Mama percaya, jika kita pasti bisa untuk membuat anak anak kita bahagia." Jawab Bunda Maura dengan semangat.
"Ya sudah, ayo kita cuci muka dan menggosok gigi dulu sebelum tidur." Ajak Tuan Ganan.