Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Perpisahan


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun tidak secerah harapan seorang gadis muda yang penuh harap. Namun kini harapan nya seakan berbanding terbalik yang dimana dirinya harus bisa bersabar untuk menjalaninya. Pahit, itu pasti. Mau tidak mau, demi sebuah cita cita dan amanah dari orang tuanya, Aish menuruti permintaan dari mendiang ayahnya.


"Aish, kamu sudah siap Nak?" tanya Ibu Melin dari ruang tamu.


"Iya Tante, sebentar lagi." Sahut Aish dari dalam kamar.


"Ingat, jangan sampai lupa dengan berkas berkas yang akan kamu bawa ke Kampus." Ucap Ibu Melin mengingatkan.


"Iya Tante, Aish sudah menyiapkannya tadi malam." Sahut Aish sambil mengenakan khimar nya, setelah itu ia segera berangkat ke Kampus sendirian tanpa kedua sahabatnya.


"Aish, tunggu." Panggil ibu Melin menghentikan langkah keponakannya.


"Iya Tante, ada apa?" tanya Aish sambil mengenakan jam tangannya.


"Semangat ya, Nak. Kamu pasti bisa, jangan dijadikan semuanya beban. Tetapi jadikanlah batu loncatan untuk menuju kesuksesan mu, semangat sukses." Jawab Ibu Melin menyemangati, Aish langsung mendekati Beliau untuk memeluk nya dan mencium punggung tangan milik Ibu Melin.


"Hati hati diperjalanan, semangat." Kata Ibu Melin yang terus memberikan semangat sama keponakannya.


Sampai di depan rumah, Aish menatap bingung dengan adanya sebuah mobil mewah yang terparkir didepan rumahnya.


Sedangkan di sebrang jalan sana, ada sosok Yahya yang tengah berdiri sambil memperhatikan keadaan didepan rumah Aish. Niat hati ingin berpamitan, namun niatnya terhalang adanya sebuah mobil yang datang lebih dahulu.


"Apakah laki laki itu pacar Aish? tapi ... kenapa lelaki tua yang keluar dari mobil? jadi penasaran, aku samperin aja apa ya. Dari pada aku pergi dengan membawa rasa penasaran, lebih baik aku menemui Aish untuk memastikannya." Gumam Yahya yang semakin penasaran.


Sambil lari kecil, Yahya akhirnya berhasil menyebrang jalan.


"Aish, tunggu." Seru Yahya memanggil sambil lari kecil, Aish pun menoleh ke arah sumber suara.


"Aish, kamu mau kemana? apakah mobil ini milik ... pacar baru kamu?" tanya Yahya menyelidik.


"Pacar?"


"Iya, apakah kamu mempunyai pacar baru?" Yahya terus mendesak karena penasaran.


"Maaf Nona, waktu kita tidak lama. Karena saya harus mengantar Tuan Muda ke Bandara."


"Iya Pak, tapi ... izinkan saya untuk berbicara dengan teman saya sebentar saja. Tidak lama kok Pak, palingan juga lima menit aja." Kata Aish memohon.


"Baik lah, silahkan jika hanya lima menit."

__ADS_1


Setelah mendapat izin, Aish segera berbicara empat mata dengan Yahya disudut teras rumah.


"Aku sudah tidak mempunyai waktu lama untuk berbicara dengan mu, aku harus berangkat ke Kampus. Dan aku tegaskan, aku bukan pacarnya Rey. Sudah cukup jelas, 'kan? kalau begitu aku berangkat."


"Tunggu, Aish."


"Ada apa lagi?" tanya Aish yang takut jika dirinya akan terlambat.


"Janji ya, tunggu aku sampai pulang."


"Aku tidak bisa janji, dan aku tidak memaksamu untuk berjanji. Jalani saja seperti air mengalir, jika berjodoh kita akan dipertemukan lagi di akad nikah. Jika tidak, aku berharap kita berdua bisa ikhlas untuk menerimanya." Sahut Aish disertai anggukan.


"Apa kamu marah dan masih menyimpan rasa cemburu pada Maula?" tanya Yahya mencoba untuk memastikannya.


"Lupakan saja, aku berangkat. Sampai jumpa, semoga sukses untuk mu." Sahut Aish sambil berjalan mundur.


"Sampai bertemu kembali, semoga kamu sukses juga." Ucap Yahya, sedangkan Aish kino sudah masuk kedalam mobil.


Setelah bayangan mobil yang dinaiki Aish sudah tidak terlihat lagi, Yahya akhirnya memutuskan untuk menemui Ibu Melin agar rasa kecurigaannya tidak berujung kesalahpahaman.


"Assalamu'alaikum ..."


"Yahya, ada apa Nak? mari silahkan masuk." Tanya Ibu Melin.


"Tidak perlu, Bu. Saya hanya ingin memastikan saja, tidak ada hal lainnya."


"Ooh begitu, memangnya apa yang ingin Nak Yahya tanyakan?" tanya Ibu Melin.


"Begini Bu, sebenarnya mobil yang datang tadi itu ada hubungan apa ya, antara Aish dan pemilik mobil mewah tadi?" tanya Yahya dengan rasa penasarannya.


"Ooooh nak Rey, maksud nak Yahya?"


"Iya Bu, saya penasaran. Ada hubungan apa antara Aish dan laki laki yang bernama Rey itu, Bu?"


"Oooh, Aish mendapatkan bantuan untuk melanjutkan kuliahnya. Kamu tahu 'kan? jika Aish anak yatim piatu, nah disitulah Aish mendapat kuliah gratis oleh keluarga nak Rey. Makanya, Aish harus didaftarkan oleh pihak keluarga nak Rey." Jawab Ibu Melin sebaik mungkin, berharap Yahya tidak akan salah paham ketika Beliau menjelaskan nya.


"Memangnya siapa Rey itu, Bu? apakah anaknya orang konglomerat? atau ... ada sesuatu yang Ibu sembunyikan?" tanya Yahya yeng terus mendesak karena rasa tidak percayanya yang hanya mendapat kuliah gratis secara cuma cuma.


"Tidak ada yang Ibu sembunyikan, yang jelas Nak Rey dari keluarga yang berpunya, itu saja. Sudah lah, simpan saja rasa cemburu mu itu. Jika kalian berdua berjodoh, pasti akan dipertemukan lagi di dalam pernikahan." Jawab Ibu Melin mencoba untuk meyakinkan Yahya.

__ADS_1


"Semoga saja ya, Bu. Saya hanya takut jika Aish ... ah sudah lah, saya permisi. Sampai ketemu lagi Bu, Assalamu'alsikum." Ucap Yahya berpamitan di kalimat terakhirnya.


"Wa'alaikumsalam, hati hati diperjalanan. Semoga selamat sampai tujuan dan pulang membawa kesuksesan." Kata Ibu Melin sembari memberi doa untuk nya, Yahya pun mengangguk dan pergi meninggalkan rumah Ibu Melin.


'Kenapa perasaanku tiba tiba serasa sakit seperti ini? apa karena aku terlalu takut kehilangan, atau ... aaah! kenapa pikiranku menjadi kacau seperti ini. Kenapa juga, aku harus bertemu Maula. Andai saja aku tidak bertemu dengan nya, semua tidak akan menjadi seperti ini. Maafkan aku, Aish.' Batin Yahya sambil berjalan menuju ke rumahnya.


Sedangkan tempat lain, kini Zakka dan saudara perempuannya tengah menunggu kakak pertamanya yang juga tidak kunjung datang.


"Kak Zakka, mana kak Rey? dari tadi kenapa tidak muncul muncul juga sih? capek tau! nunggunya."


"Sabar dikit kenapa Ney, siapa tahu aja sedang kena macet dijalanan." Jawab Yahya sambil merogoh sebuah ponselnya.


Karena bosan menunggu, akhirnya Zakka membuka galerry yang ada di ponselnya. Senyum merekah terlihat jelas di kedua sudut bibirnya, Ney yang melihatnya pun hanya melihatnya dengan heran.


"Kakak kenapa senyum senyum tidak jelas begitu? hem, pasti sedang memikirkan perempuan yang ada didalam galerry."


"Biarin aja, anak nya cantik, anggun, pintar dan berprestasi. Memangnya kamu, yang sukanya berkelahi dan balap liar."


"Hem, buktikan pada Ney, jika pulang nanti Kakak bisa mendapatkannya. Kalau sampai gagal, berarti kak Zakka harus memberikan kado spesial buat Ney, bagaimana? mau atau tidak nih?"


"Siapa takut, Kakak kamu ini apa sih yang tidak bisa."


"Cih! buktikan kalau kamu bisa." Sahut Rey yang tiba tiba datang dan ikut menimpali.


Maaf ya, jika masih ada yang bingung. Ini novel lanjutan dari novel "Menikah Karena Perjodohan"


Anak dari Tuan Ganan dan Maura yang memiliki anak kembar tiga, yakni Reynan anak pertama, Zakka anak kedua, Neyla anak ketiga.


Ganan adalah putra semata wayang dari Angga dan Qinan.


Sedangkan Neyla di novel ini tidak masuk dalam cerita secara detail, karena sudah dimasukkan di novel "Suamiku Anak Yang Terbuang"


Yakni, berpasangan dengan Seyn. Hanya saja tidak masuk dalam kategori tokoh utama. Tetap panjang kisah Neyla dan Seyn.


Sedangkan sekuel "Suamiku Anak Yang Terbuang" yaitu masuk di novel "Pernikahan Bayaran"


Sekali lagi, Novel author semua saling berkaitan, hanya novel "Terjebak Sang Duda" yang benar benar nol tanpa ada kaitannya dengan novel yang lainnya.


Terimakasih. 😘

__ADS_1


__ADS_2