Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Merasa ada kesempatan


__ADS_3

"Aish," panggil Ibu Melin dan memeluknya kembali. "Bersabarlah, semua akan baik baik saja." Ucap Beliau penuh rasa kasihan dengan apa yang tengah dialami keponakannya.


"Lebih baik sekarang ini kamu mandi, setelah itu istirahat lah. Kamu pasti capek dan butuh istirahat, agar pikiran kamu juga jauh lebih tenang." Ucap Ibu Melin, Aish pun mengangguk dan bangkit dari posisi nya.


Ibu Melin yang tidak ingin menggangu keponakannya, Beliau melilih untuk pergi kedapur membuat cemilan yang bisa dijadikan teman santai diwaktu malam hari.


Berbeda dengan Zakka yang masih sibuk membereskan tugasnya di Kantor. Tidak memakan waktu lama, akhirnya Zakka dapat menyelesaikan tugasnya untuk menyeleksi karyawan baru di Kantornya.


"Sepertinya aku masih ada waktu untuk menemui Aish di rumahnya, semoga saja belum pindah rumah." Gumam Zakka penuh harap.


Tidak ingin membuang buang Waktu, Zakka segera bergegas pergi meninggalkan Kantor. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendekati perempuan yang sudah lama ia sukai.


"Kamu mau kemana? hah." Tanya sang ayah memergoki.


"Mau ... mau kerumah teman, Pa. Bayangkan loh Pa, sudah 4 tahun Zakka belum pernah bertemu dengan teman sekolah." Jawab Zakka sedikit ragu.


"Awas! kalau sampai kamu bohong, kamu akan tetap diawasi." Ancam sang ayah.


"Ya ya ya ya, Pa." Sahut Zakka dan pergi begitu saja, bahkan dirinya tidak peduli dengan ancaman dari orang tuanya.


Justru itu, Zakka ingin mengambil kesempatan yang menurutnya sangat tepat. Sebab itu lah tujuannya untuk menunjukkan perasaannya kepada perempuan yang disukainya dihadapan kedua orang tua nya.


Dalam perjalanan, Zakka tidak ada henti hentinya untuk membayangkan sesuatu yang selalu diharapakannya itu.


"Tunggu tunggu tunggu, rumahnya dulu arah kemana ya? belok kanan atau kiri ya? atau yang lurus saja. Entar dulu, aku ingat ingat saat Aish menunggu mobil. Aaah! ya, sekarang aku sudah ingat. Belok ke kiri, sepertinya sih." Gumam Zakka sambil mengingatnya kembali.


Dengan pelan, Zakka mengendarai mobilnya. Sepasang matanya pun ikut jeli mencari sebuah rumah yang pernah ia datangi secara diam diam. Karena semakin banyak perubahan, Zakka dibuatnya bingung.


"Semakin padat aja nih rumahnya, kira kira rumah Aish yang mana ya?" Zakka masih terus berpikir.

__ADS_1


Merasa tidak mendapatkan jawaban, Zakka mulai prustasi dan memijat pelipisnya. Pusing, itu pasti. Namun tidak membuat Zakka mudah menyerah, justru semakin semangat untuk mencari tempat tinggal Aish.


Sedari tadi sudah mencarinya, Zakka tidak dapat menemukannya juga. Karena sudah menyerah, akhirnya Zakka memutuskan untuk keluar dari mobil. Kemudian ia celingukan dan mendapati seseorang yang tengah berada didepan rumah sambil mengobrol, Zakka pun menghampirinya.


"Permi Pak, Bu. Maaf sebelumnya, saya mau bertanya mengenai rumah teman saya, namanya Aishwa Zahra. Kalau boleh tahu, rumah nya sebelah mana ya, Bu? soalnya sedari tadi saya mencarinya tidak juga ditemukan rumahnya." Tanya Zakka yang mulai sudah menyerah.


"Oooh Aishwa, yang sudah tidak mempunyai orang tua?"


"Aishwa tidak mempunyai orang tua? sejak kapan, Pak?" tanya Zakka seperti tidak percaya.


"Sudah lama, Nak. Sekarang rumahnya sudah dikosongkan, sedangkan Aish tinggal di rumah Tantenya." Jawabnya.


"Kalau boleh tahu, alamatnya dimana ya Pak?" tanya Zakka yang tidak mau menyerah.


"Kamu tinggal lurus aja, nanti kalau ada pertigaan, belokan ke kanan. Rumah nya tidak jauh dari pertigaan itu, kamu tanya aja rumah Ibu Melin." Jawabnya sambil menunjukan arah dimana rumah Ibu Melin berada.


"Kalau begitu terima kasih banyak ya, Pak. Saya permisi, Bu, Pak." Kata Zakka dengan ramah dan langsung pamit pergi.


Sampainya di pertigaan Zakka mulai kebingungan, Zakka memilih untuk menepikan mobilnya dan memilih untuk turun. Berharap dirinya menemukan orang yang dapat dipercaya.


Saat turun dari mobil, sepasang matanya seperti melihat seseorang yang tidak begitu asing oleh Zakka.


"Bukankah lelaki itu yang juga menyukai Aish? siapa namanya, aaah! si Yahya. Aku tanya aja sama dia apa, ya. Tapi ... aku sedikit tidak yakin jika itu anak mau mengasih alamatnya untuk ku. Em ... jangan jangan cincin nya dari itu anak, lagi. Wah ... bisa berabe ini, yang ada gua dicin*cang halus nanti." Gumam Zakka setengH ragu ragu.


Karena tidak mempunyai cara lain, akhirnya Zakka nekad untuk bertanya pada Yahya.


Saat hendak mendekati, Yahya terkejut melihat pemandangan sedikit tidak percaya. "Mesra banget itu perempuan, kalau adiknya tidak mungkin. Samperin aja kalau begitu, siapa tahu aja aku mendapatkan informasi. Cih! kenapa aku berasa udah kek emak emak tukang gosip." Gumam Zakka yang menyimpan sejuta rasa penasaran.


"Yahya, ya." Tanpa basa basi, Zakka memanggilnya.

__ADS_1


"Ya, kamu ... teman sekolahnya Aish, bukan?"


"Ya, benar sekali. Aku teman sekolahnya, aku mau tanya soal rumah nya Ibu Melin dimana ya?" tanya Zakka langsung pada pokok intinya.


"Kamu ikuti saja tanda panah itu, jarak tiga rumah sampai kok. Rumahnya cat berwarna ungu. Kalau kurang jelas, kamu bisa tanya lagi di situ." Jawab Yahya sambil berusaha melepas tangan istrinya yang sedari tadi menggandeng tangan miliknya.


"Perempuan ini istri kamu?" tanya Zakka yang menyimpan rasa penasaran.


"Ya, perempuan ini istriku. Aku permisi, sampai jumpa." Jawab Yahya terasa berat dan langsung pergi begitu saja, sedangkan Zakka tersenyum mendengarnya.


"Kalau jodoh memang tidak kemana. Yahya yang sudah menikah, Kak Rey yang pergi jauh. Aku lah pemenangnya, kesempatan emas berpihak pada ku." Batin Zakka penuh dengan rasa percaya diri.


Karena sudah tidak sabar ingin bertemu Aish dengan leluasa, akhirnya Zakka segera mendatangi rumah milik Ibu Melin.


Sambil melajukan mobilnya, Zakka celingukan mencari rumah yang berwarna cat ungu. Senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya. Mobilnya pun memasuki halaman rumah milik Ibu Melin yang luasnya tidak begitu lebar.


Aish yang hendak keluar rumah, ia dikagetkan dengan sebuah mobil yang sangat dikenalinya. Yakni, mobil yang sering dibawa Pak Dirwan ketika datang ke rumah. Tidak hanya itu saja, Rey yang berstatus suaminya pun menggunakan mobil yang sama.


Zakka yang melihat Aish berdiri didepan rumah, lagi lagi Zakka tidak bisa lepas dari senyumnya yang terasa bahagia. Sedangkan Aish masih berdiri mematung, takut jika Pak Dirwan yang datang.


Zakka yang sudah tidak dapat menahan kesabarannya, segera ia turun dari mobilnya.


DUAR!!


Seketika, Aish tercengang ketika melihat siapa orangnya yang telah datang secara tiba tiba. Zakka masih dengan senyumnya yang berseri sambil berjalan mendekati Aish.


"Zakka!" Aish masih tidak percaya dan menyebut nama Zakka.


"Aish, kamu tinggal disini sekarang?" tanya Zakka yang sudah berada dihadapan Aish.

__ADS_1


"I.... ya, aku tinggal di rumah Tanteku. Maaf, kalau boleh tahu ada perlu apa kamu datang kemari?" jawabnya dan bertanya.


__ADS_2