
Didalam perjalanan, ketiga teman Aish saling salah menyalahkan satu sama lain karena hilangnya jejak Aish yang tidak kunjung ditemukan.
"Bagaimana ini? kalau Tante Aish mengetahui jika kita tidak pulang bersamanya. Kalau Aish diculik orang, bagaimana?" Yunda yang merasa mendapat pesan dari Ibu Melin, pikirannya mulai di selimuti dengan rasa ketakutan jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap sahabatnya.
Yahya yang merasa mengajak Aish pun hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Tidak hanya itu saja, Yahya pun merasa bersalah besar jika dirinya telah mengabaikannya. Ditambah lagi dengan nada bicara Aish yang terlihat menyimpan rasa cemburu, sedikitpun Yahya tidak mencurigainya.
"Aku yang akan bertanggung jawab di hadapan Tante nya Aish, sepenuhnya karena kesalahan aku yang tidak memperhatikan gelagat dia. Aku mengira Aish tidak menyimpan rasa cemburu, rupanya dugaanku salah besar." Sahut Yahya merasa bersalah.
"Terus ... kita mau pulang nih? atau ... kita cari lagi di sekitaran Mall, bagaimana?"
"Boleh, tapi ... aku rasa Aish sudah keluar. Lihat lah jam tangan kalian, sudah hampir larut malam." Ucap Yahya yang merasa jika Aish sudah pulang lebih dulu.
"Kamu yakin? jika Aish sudah pulang?" tanya Afwan mencoba mengingatkan kembali, agar kedua sahabatnya bisa berpikir kembali untuk mencari keberadaan Aish yang telah hilang jejak dalam Mall.
"Ikuti saja apa yang menjadi keputusan ku, jika Aish sebenarnya sudah pulang." Sahut Yahya dengan pendiriannya.
"Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau kita coba cek di rumah Tante nya. Jika Aish tidak juga ditemukan, aku yang akan mencarinya hingga ketemu." Kata Yahya sambil meremat kedua tangannya penuh kecemasan.
"Baik lah, aku percayakan semuanya pada kamu. Kalau begitu ayo kita pulang, keburu kita akan mendapatkan amarah serta omelan dari Ibu Melin." Ucap Yunda yang sudah tidak lagi sabar untuk segera pulang.
Yahya yang tidak mempunyai cara lain, akhirnya memilih untuk segera pulang agar dapat memastikan keberadaan perempuan yang disukainya. Begitu juga dengan Afwan dan Yunda yang juga memilih untuk segera pulang.
Sedangkan dalam perjalanan pulang, Aish sama sekali tidak bergeming. Dirinya memilih untuk diam sambil bersandar di jendela kaca mobil.
Rey yang tengah mengendarai mobilnya pun ikutan tidak bergeming sepatah kata pun. Namun sesekali Rey menoleh ke arah Aish meski hanya sekilas, seenggaknya dapat memastikan Aish tidak kenapa napa.
__ADS_1
Setelah cukup lama dalam perjalanan pulang, tidak terasa Aish dan Rey sudah sampai di depan rumah Ibu Melin. Disaat itu juga, Ibu Melin langsung membuka pintu rumahnya karena mendengar suara mobil yang terdengar sangat halus suaranya.
Disaat itu juga, senyum merekah terlihat di kedua sudut Ibu Melin ketika melihat mobil siapa yang telah datang ke rumahnya.
Namun senyumnya tiba tiba menjadi pudar tatkala melihat keponakan berada disebelah pemilik mobil.
"Nak Rey, kok sama Aish?" tanya Ibu Melin penasaran.
"Kebetulan, tadi Aish terpisah di Mall dengan ketiga temannya. Jadi saya mengajak Aish untuk pulang bareng, hanya itu." Jawab Rey menjelaskan, sedangkan Aish sendiri bingung untuk memberi penjelasan yang tepat kepada Tante nya.
"Ooooh, kok bisa terpisah?"
"Tadi Aish berpamitan ke toilet untuk buang air kecil, tapi rupanya Aish lupa jalan untuk kembali ke tempat semula." Jawab Aish beralasan.
"Ooh begitu, memangnya kamu tidak meminta Yunda untuk menemani kamu? hem."
Sambil menatap keponakan dengan lekat, Ibu Melin memeriksa Aish dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan rupa rupanya tidak ada barang apapun yang menempel pada diri keponakannya itu.
"Mana belanjaan kamu? kata kamu si Yahya mau mentraktir kamu, kenapa tidak ada barang satupun yang tertinggal di rumah kamu? hem. Tante bukannya matre, hanya ingin menilai seseorang dari prilaku dan tanggung jawab dalam segi apapun itu." Tanya Ibu Melin mendesak, Rey yang mendengarnya pun hanya diam tanpa berkomentar apapun. Baginya tidak penting untuk ikut berkomentar, hanya membuang buang waktu saja, pikirnya.
"Em ... tadi sih mau berbelanja. Tapi karena Aish salah jalan, jadinya kita berempat terpisah." Jawab Aish penuh alasan, karena tidak mungkin jika dirinya bercerita sejujurnya. Mau bagaimana pun, Aish berusaha untuk menutupinya.
"Ibu tidak perlu khawatir, kebetulan tadi saya berbelanja ada sebagian barang yang saya beli. Tunggu sebentar, saya mau ambil dulu di bagasi mobil." Ucap Rey yang teringat akan belanjaannya, entah ide dari mana hingga dirinya sudah berbelanja layaknya ibu ibu pada umumnya.
"Tidak perlu repot repot, Nak Rey. Ibu hanya tidak menyukai jika ada yang memandang remeh pada keponakan Ibu. Oh iya, nanti kamu langsung masuk aja kedalam rumah. Ibu mau membuat teh manis untuk kalian berdua. Dan kamu Aish, nanti ajak nak Rey untuk masuk kedalam rumah." Jawab Ibu Melin berusaha memperketat dalam segi apapun tentang keponakannya sendiri, sedangkan Aish memilih untuk diam dari pada untuk bersuara.
__ADS_1
Rey yang malas membahasnya pun memilih untuk diam, dan akan berbicara dengan sesuai kebutuhannya. Setelah mengambil beberapa belanjaan yang ada didalam bagasi, Rey langsung masuk kedalam rumah tanpa Aish mempersilahkannya untuk masuk.
Bagaimana mau mempersilahkannya untuk masuk? jika kenyataannya Rey langsung slonong boy masuk kedalam rumah.
Karena Rey sudah masuk ke rumah duluan, akhirnya Aish mengikutinya dari belakang.
Sampainya di ruang tamu, Rey meletakkan beberapa belanjaan.
"Silahkan duduk, aku mau ke kamar dulu untuk mengganti pakaianku." Ucap Aish, Rey hanya mengangguk dan ia segera duduk.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil dari luar. Rey tetap duduk santai dan tidak memperdulikannya siapa orangnya yang datang.
Sedangkan di depan rumah Ibu Melin ada Yahya dan kedua temannya yang baru saja sampai.
"Kok seperti mobil yang di pakai Zakka dan Rey deh, iya 'kan?" tanya Yunda sambil memperhatikan mobil yang tidak asing bagi dirinya.
"Jangan jangan Zakka dan Rey yang menganantar Aish pulang, bagaimana ini?" kata Afwan menebak.
"Siapa tahu aja ini mobil punya orang lain yang pas kebetulan sama dengan yang dipakai Zakka dan Rey." Ujar Yahya dengan yakin.
"Ya sudah, ayo kita lihat ke dalam." Ajak Yunda yang sudah tidak sabar, kedua temannya pun mengiyakan.
"Assalamu'alaikum ..." ucap salam oleh ketiga temen Aish.
"Wa'alaikumsalam ..." sahut dari dalam rumah, Ibu Melin pun yang menemuinya.
__ADS_1
"Yunda, Afwan, Yahya, kalian bertiga baru pulang?"
"Iya Tante, kedatangan kita kesini sebelumnya mau meminta maaf. Jika kita pulangnya tidak bersama Aish, karena kita terpisah. Dan kita datang kesini mau memastikan apakah Aish sudah pulang, Tante? soalnya tadi kita kehilangan jejak." Dengan perasaan gugup dan juga takut, Yunda memberanikan diri berkata jujur serta meminta maaf karena yang telah lalai dengan amanat yang diberikan oleh Ibu Melin.