Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Kaget


__ADS_3

Saat Aish berpamitan untuk keluar, Zakka mengikutinya dari belakang secara diam diam. Aish yang merasa tidak diikuti, dirinya tetap berjalan dengan santai.


"Aish, bagaimana tes nya? mudah 'kan? oh ya, kamu ditanyain apa saja, tadi?" tanya Yunda penasaran.


"Em ... ada deh, nanti kamu juga bakal tahu sendiri, kok." Jawab Aish yang mulai kebingungan ketika mendapat pertanyaan dari sahabatnya.


"Aish mah payah, tidak mau berbagi sama kita." Sahut Afwan ikut menimpali.


"Serius, pertanyaan nya gampang banget kok." Kata Aish terpaksa berbohong, meski pada akhirnya bakal ketahuan juga siapa yang melakukan penyeleksian, pikir Aish.


"Sudah waktunya makan siang nih, kita cari kantin dulu yuk." Ajak Aish sambil memegangi perutnya.


"Tapi Kantin nya dimana? perasaan di depan Kantor tidak ada kantin deh, kita tanya pegawai yang lainnya aja, bagaimana? aku sudah lapar nih." Jawab Yunda sambil celingukan.


"Mau ke Kantin? di sebelah sana Kantin nya." Ucapnya ikut menimpali, lalu menunjukkan arah Kantin yang dimaksudkan. membuka maskernya.


"Zakk - Zakka!" teriak Afwan dan Yunda tidak percaya.


"Hai, apa kabarnya kalian? bertemu lagi kita." Sapa Zakka dan mengulurkan tangannya, Afwan ikut mengulurkan tangannya dan keduanya saling bersalaman. Sedangkan Aish sedikitpun tidak ada respon kaget maupun yang lainnya.


"Kabar kita baik baik seperti yang kamu lihat, kamu sendiri?" jawab Afwan mewakili dan balik menyapa.


"Aku sangat baik, tadi aku dengar bahwa kalian mau pergi ke Kantin."


"Ya, Benar. Kita bertiga mau makan siang, karena sudah sama laparnya. Kalau boleh tahu, Kantin nya disebelah mana, ya?" Afwan pun memberanikan diri untuk bertanya. Meski pernah membenci seorang Zakka, kini Afwan sudah mulai menyadari arti sebuah teman.


"Ayo ikut aku, nanti akan aku tunjukkan dimana Kantinnya." Jawab Zakka, sedangkan Yunda sedikit ada rasa malu ketika harus berjumpa ditempat yang sama.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, apakah Kantor ini tempat kerjamu?" tanya Afwan memberanikan diri karena penasaran.


"Ya! betul sekali, Kantor ini tempatku bekerja. Mulai besok, semua karyawan baru maupun karyawan lama sudah aktif untuk bekerja." Jawab Zakka sambil berjalan beriringan. Sedangkan Aish masih terus diam, dia berjalan bersebelahan dengan Zakka.


'Semoga seterusnya aku dan Aish akan terus bersama, dan tidak ada satupun yang bisa menghalangiku, termasuk Kak Rey. Sebelum pulang, aku harus bisa mendapatkannya. Tidak lama lagi, aku akan memperkenalkan Aish pada keluarga. Aku yakin jika Mama akan memberi dukungan untuk ku.' Batin Zakka penuh harap.


Sampainya di kantin, Zakka memulai untuk memberi perhatian pada Aish, termasuk menarikkan kursi untuknya. Sedikit ada rasa takut, Aish terpaksa menerimanya. Yunda dan Afwan pun tersenyum ketika melihat Aish mendapatkan perhatian dari Zakka.


"Cie ... yang mulai mendapatkan perhatian, aku juga mau." Goda Yunda sambil mengedipkan matanya dengan tatapan menggoda. Zakka sendiri hanya tersenyum mendengarnya.


Kesempatan yang dulunya selalu terhalang, kini sudah bisa dapatkan. Zakka semakin terlihat bahagia ketika harapannya sudah ada dihadapannya.


Afwan yang merasa dulunya suka mengejek Zakka, kini dirinya mulai merasa bersalah besar. Dengan tekadnya, Afwan berusaha untuk meminta maaf pada teman sekolahnya dulu.


"Zakka, aku mau minta maaf atas kesalahan yang sudah pernah aku lakukan terhadap kamu. Aku menyesal, rupanya perbuatan aku itu benar benar tidak baik. Maafkan aku ya, Zakka." Ucap Afwan penuh sesal, Yunda pun ikut terpanggil untuk meminta maaf pada Zakka yang juga pernah ia ejek.


"Zakka, Aku juga mau meminta maaf atas kesalahanku pada kamu, sekarang aku menyesalinya dan tidak akan mengulanginya lagi. Kamu masih mau berteman denganku, 'kan? aku sangat menyesalinya." Ucap Yunda ikut menimpali.


"Terima kasih banyak ya, Zakka. Kamu sudah mau memaafkan kesalahan kita berdua yang dulu." Ucap Afwan yang masih merasa sangat bersalah.


"Sudah lah, lupakan saja yang dulu. Yang terpenting sekarang ini kita tetap masih bertema. Oh ya, aku sampai lupa. Aku mau pesan makanan dulu, kalian bertiga tunggu saja disini. Tenang saja, hari ini aku mau mentraktir kalian. Anggap lah, kita sedang memulai pertemanan." Kata Zakka.


"Tidak usah repot repot, aku masih bisa untuk membayarnya." Timpal Aish merasa tidak enak hati, sedangkan Zakka membalikkan badannya dan kembali duduk disebelah Aish.


"Untuk kamu, aku merasa keberatan jika kamu tidak mau menerima pemberian dariku." Ucap Zakka, kemudian ia segera memesan makanan.


Selesai memesan makanan serta minumannya, Zakka kembali lagi ke tempat duduknya. Sambil bercerita, sambil menunggu pesanannya datang.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, pesanannya pun datang dengan menu makanan yang sama. Aish dan ketiga temannya menikmati makan siangnya. Bukannya fokus dengan makanannya, justru Zakka lebih fokus memperhatikan Aish yang tengah menikmati makan siangnya.


'Aish, andai saja kamu tahu perasaanku selama ini, apakah kamu bersedia untuk menerima cintaku? serta menerima ajakanku untuk menikah? aku tidak akan pernah putus asa untuk mendapatkan mu, sampai kapanpun akan aku perjuangkan. Aku akan meminta Papa untuk mencarikan jodoh Kak Rey, dengan cara itu aku bisa memiliki Aish sepenuhnya.' Batin Zakka penuh harap untuk menjadikan Aish pendamping hidupnya.


Usai menikmati makan siangnya, Zakka langsung berpamitan untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya mengenai penyeleksian karyawan baru.


"Afwan, Yunda, Aish, aku harus melanjutkan pekerjaan ku. Maaf ya, sebelumnya. Soalnya pekerjaanku hari ini sangat padat, dan aku diminta sama Pak Bos harus menyelesaikannya hari ini juga." Ucap Zakka berpamitan.


"Ya, tidak apa apa. Lanjutkan saja pekerjaan kamu, lagian juga masih ada hari besok untuk bertemu lagi." Sahut Afwan menimpali.


"Aish, aku pamit." Ucap Zakka dengan suara yang lembut dan dengan tatapan yang penuh arti. Sedangkan Aish sendiri hanya mengangguk dan tersenyum tipis padanya.


Setelah itu, Aish dan kedua temannya segera beranjak pergi dari kantin tersebut. "Aish, ayo kita sana lagi." Ajak Yunda, Aish pun mengiyakan dan berjalan beriringan dengan kedua temannya.


Sambil menunggu nomor antrian, Aish dan Yunda maupun Afwan memilih duduk bersama dengan peserta yang lainnya. Disaat itu juga, Afwan dan Yunda mendapatkan panggilan. Keduanya segera masuk ke ruangan penyeleksian masing masing.


Sedangkan Aish tengah duduk sendirian sambil menunggu kedua temannya yang sedang melakukan penyeleksian.


"Permisi," panggil salah satu karyawan di Kantor mengagetkan Aish yang tengah fokus dengan pandangannya pada dua ruang yang didalamnya ada kedua sahabatnya.


Aish pun menoleh kebelakang, dilihatnya seseorang yang sama sekali tidak dikenalinya.


"Maaf Mbak, ada apa ya?" tanya Aish penasaran.


"Nona dipanggil oleh Pak Bos untuk segera menemui Beliau ke ruangan kerjanya. Mari ikut saya, Nona." Jawabnya sedikit membungkuk dengan hormat.


"Pak Bos?"

__ADS_1


"Iya Nona, Tuan Ganan."


"Apa!" seketika, Aish terkejut ketika mendengar ucapan dari karyawan tersebut menyebutkan ayah mertuanya adalah Pak Bos, pikirnya.


__ADS_2