
Sedikit ada rasa takut, Aish berusaha untuk tetap tenang.
"Loh, ada tamu kok tidak dipersilahkan masuk." Ucap Ibu Melin memergoki.
"Eh, ada Ibu. Permisi Bu, saya temannya Aish. Nama saya Zakka, satu kelas dengan Aish. Kedatangan saya kemari ingin bertamu dan ingin bertemu Aish, Bu." Ucap Zakka sambil memperkenalkan diri.
"Oooh temannya Aish, ayo silahkan masuk." Ajak Ibu Melin, kemudian memberi kode pada keponakannya.
Aish yang tidak tahu apa apa hanya bisa menurutinya, ia takut jika Zakka akan menaruh kecurigaan terhadap dirinya.
"Silahkan duduk, Nak." Kata Ibu Melin mempersilahkan Zakka untuk duduk.
Rasa takut, cemas, gelisah, was was, kini telah menguasai pikiran Aish. Diam, hanya itu yang dilakukan Aish.
"Aish, kenapa kamu mendadak jadi diam? apakah kedatanganku ini tengah mengusik ketenangan mu?" tanya Zakka yang merasa tidak mendapatkan respon dari Aish.
"Tidak, aku hanya sedang tidak enak badan saja. Tumben kamu sendirian, biasanya kemana mana kamu selalu bersama Rey."
"Sedang menuntut ilmu dia nya, soal pulangnya aku tidak tahu kapan pulangnya. Aku berharapnya sih menetap di luar Negri, kenapa? kamu kangen ya." Jawabnya dan memberi sebuah pertanyaan karena ada rasa penasaran.
"Oooh, kirain kemana. Kamu tidak ikut ke luar negri?" tanya Aish basa basi.
"Aku bosan di luar Negri."
"Kenapa? bukankah di luar Negri apa apanya terjamin?" Aish kembali bertanya.
"Karena tidak ada kamu, aku sengaja pulang dan menetap di Tanah Air hanya ingin bisa bertemu dengan mu setiap hari." Jawab Zakka setengah mengutarakan perasaannya.
Aish yang mendengarnya hanya bisa menarik napasnya terasa sesak. Dua saudara laki laki yang sulit untuk di percaya, Aish hanya bisa pasrah sambil mengikuti skenario jalan hidupnya.
__ADS_1
"Awas loh, nanti lupa konsentrasi mengobrolnya. Ini, minumannya di minum dulu. Agar tenggorokan kalian berdua tidak terasa kering, ngobrol pun tidak terasa panas." Ucap Ibu Melin sambil menyodorkan dua gelas minuman untuk keponakannya dan Zakka.
"Terima kasih, Bu." Jawab Zakka disertai anggukan.
"Sama sama, Nak. Kalau begitu Ibu permisi ya, Ibu mau kembali ke dapur. Ada pekerjaan yang belum Ibu selesaikan, jangan sungkan sungkan di rumah Ibu." Ucap Ibu Melin, Zakka pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Setelah Ibu Melin berpamitan untuk kembali ke dapur, kini tinggal Aish dan Zakka. Keduanya nampak canggung dan malu.
"Aish, besok kamu berangkat ke Kantor 'kan?" tanya Zakka ingin memastikan.
"Em ... bagaimana, ya? sepertinya aku ingin membuka usaha baru saja deh." Jawab Aish sambil meremat ujung kerudung yang ia pakai.
"Kenapa? apa karena ada aku?" tanya Zakka semakin penasaran.
"Bukan, entah kenapa aku tidak bisa. Aku ingin usaha dengan caraku sendiri, walau hasilnya sedikit sekalipun." Jawab Aish setelah mempertimbangkan untuk memutuskan pilihannya.
"Memangnya kamu mau usaha apa?" Zakka masih bertanya lagi.
"Kamu mempunyai kerajinan tangan, ya? wah ... baru tahu akunya. Bagaimana kalau aku yang mendanai nya, kamu tinggal mengelola." Ucap Zakka yang tidak mau lepas dari perempuan yang disukainya.
"Tidak perlu, aku masih mempunyai modal. Aku ingin bekerja keras dengan caraku sendiri. Untuk tawaran darimu, aku ucapkan terima kasih banyak. Sebelumnya aku minta maaf, jika aku tidak bisa menerima bantuan darimu." Kata Aish yang tetap dengan pendiriannya.
Zakka yang mendengarnya pun ada rasa sedikit kecewa, tetapi dirinya tidak mampu untuk memaksakan nya.
'Apa kamu ingin menjauhiku, Aish? padahal aku ingin lebih dekat lagi denganmu. Apa sikapku ini terlalu berlebihan? sampai sampai terasa enggan untuk mengenaliku lagi.' Batin Zakka dengan hilangnya rasa semangat yang membara disaat dirinya bertemu dengan Aish.
'Maafkan aku, Zakka. Aku tahu maksud dari sikapmu itu, tapi sekarang aku sudah mempunyai ikatan pernikahan. Aku tidak berani untuk melawannya, walaupun status yang tidak jelas untukku sekalipun.' Batin Aish sambil menunduk.
"Jadi, kamu serius mau mengundurkan diri menjadi sekretaris?" tanya Zakka tidak bersemangat.
__ADS_1
"Ya, aku mengundurkan diri. Maafkan aku, jika aku sudah mempermainkan pendaftaran di Kantor tempatmu bekerja." Jawab Aish dengan setengah menunduk.
"Oh, tidak apa apa. Mungkin keputusan kamu itu yang terbaik untuk menjadikan mu sukses, aku hanya bisa mendukungmu dan mendoakan kamu." Ucap Zakka yang tidak bisa untuk memaksakan nya.
"Terima kasih atas pengertiannya, semoga kamu juga sukses." Jawab Aish yang kini mulai berani menatap Zakka.
"Meski kamu tidak bekerja di Kantor, apakah aku masih diperbolehkan untuk main ke rumah?" tanya Zakka untuk memastikan tanggapan apa yang akan Aish katakan.
"Tentu saja boleh, aku tidak melarangmu untuk datang ke rumah." Jawab Aish yang tidak ingin melukai perasaan Zakka, cukup mengundurkan diri yang sudah membuatnya kecewa.
"Loh, minumannya belum di minum? nih, ada kueh buatan Ibu Melin, bisa dijadikan teman minum kalian berdua. Jangan malu malu, nanti rugi loh tidak bisa mencicipi kueh buatan Ibu Melin." Ucap Beliau yang tiba tiba datang membawakan beberapa potong kueh dalam wadah satu piring.
"Terima kasih Bu, jadi merepotkan." Jawab Zakka sedikit malu.
Karena tidak ingin mengecewakan Aish dan Ibu Melin, akhirnya Zakka memberanikan diri untuk mengambil satu potong kueh untuk dinikmati bersama teh hangatnya.
"kueh nya enak, pantas saja Aish mau membuka usaha sendiri." Puji Zakka pada kueh buatan Ibu Melin.
Ibu Melin yang mendengarnya pun, Beliau langsung menoleh ke arah keponakannya. "Aish mau membuka usaha sendiri?" tanya Ibu Melin pada Aish.
"Ya, Tante. Aish sudah mengundurkan diri dan memilih untuk membuka usaha sendiri, sebelumnya Aish mau kursus belajar terlebih dahulu, Tante." Jawab Aish tanpa ragu ragu, jawabannya terdengar serius dan juga tidak sedang bermain drama.
"Jadi kamu sudah putuskan untuk membuka usaha sendiri?" tanya Ibu Melin untuk memastikannya lebih jelas lagi.
"Benar, Tante. Aish tidak bohong, ini sudah menjadi keputusan yang tidak bisa di rubah. Tidak hanya itu saja, Aish mau membuka tempat pembelajaran kerajinan tangan untuk siapapun yang ingin memulai belajar. Aish tidak akan memungut biaya sepeserpun, semua murni gratis." Jawab Aish dengan yakin, Zakka pun tersenyum bangga pada sosok yang selama ini diidam idamkan.
"Aku bangga dengan mu, Aish. Jiwa semangatmu tidak diragukan lagi, semoga sukses dan berhasil." Ucap Zakka ikut menimpali.
"Terima kasih, apa yang akan aku lakukan semata mata hanya untuk menyalurkan ilmu yang aku punya pada orang lain. Jika menghasilkan, berarti ada rizki untuknya. Jika tidak, mungkin ada rizki dijalan yang lain." Sahut Aish, Zakka pun tersenyum.
__ADS_1
"Ah ya, sepertinya sudah sore nih. Kalau begitu saya pamit pulang ya, Bu. Aish, aku pamit pulang. Aku doakan kamu, semoga berhasil dan sukses." Ucap Zakka berpamitan.