
Sampainya dihalaman rumah, Sela masih duduk termenung di dalam mobil.
"Sela, ayo kita turun."
"Din, serius nih aku disuruh turun." Kata Sela serasa enggan untuk turun dari mobil.
"Ya ya lah, aku kan udah jadi supirnya. Jadi sekarang tugas kamu untuk mengantarkan kuehnya kedalam. Tenang, nanti akan ada bantu kamu." Jawab Didin sambil melepas sabuk pengamannya.
"Gini amat lah, ngapain juga mesti aku sih Din. Aku tuh malu, tau. Duh! mana kebelet, lagi. Aaah, sial amat lah aku ini." Gerutu Sela sambil melepas sabuk pengamannya.
"Tenang, di rumah segede ini pasti banyak kamar mandinya. Jadi, ayo kita turun." Sahut Didin dan mengajak Sela untuk segera turun.
Karena tidak ada cara lain, mau tidak mau Sela terpaksa segera turun. Saat turun dari mobil, Sela sudah disambut oleh beberapa suruhan dari keluarga Wilyam.
"Pak, bisa bantu saya untuk membawakan kueh ulang tahunnya?" tanya Sela tanpa basa basi dan langsung pada pokok intinya.
"Baik, mbak. Sini, saya bantu. Oh ya, Mbak nya diminta untuk masuk kedalam sebentar." Jawabnya, kemudian meminta Sela untuk masuk kedalam rumah.
"Maaf Pak, memangnya ada apa ya?"
"Udah deh Sel, tinggal turuti perintah dari Bapak ini. Palingan juga mau dibawakan oleh oleh, sudah sana." Sahut Didin ikut menimpali.
"Didin, apa apaan sih. Malu maluin aku aja, kamu ini. Maap ya, Pak. Teman saya lagi tidak stabil omongannya, biasa ngelantur soalnya Pak."
"Ya Mbak, tidak apa apa. Mari, ikut saya." Ucapnya, kemudian kembali mengajak Sela untuk masuk kedalam.
"Din, kamu aja sana yang masuk." Perintah Sela sama Didin.
"Kok aku, orang kamunya yang diminta untuk masuk kedalam jugaan. Sudah sana pergi, aku tunggu disini." Jawab Didin sambil mengibaskan tangannya seolah mengusir Sela.
"Ayo Mbak, mari ikut saya masuk ke dalam untuk tanda jika Mbaknya yang mengantarkan pesanan kueh milik Tuan." Ucapnya, sedangkan Sela tidak mempunyai pilihan lain selain mengikutinya dari belakang.
Sambil berjalan menuju rumah Utama, sepasang matanya memperhatikan disekelilingnya dengan nuansa yang sangat mewah dan elegan.
'Ternyata suaminya kak Aish orang yang sangat kaya raya, ya. Baru tahu akunya, norak banget sih aku. Beruntung banget ya kak Aish, tidak sepertiku yang hanya bisa bermimpi dan menghayal.' Batin Sela sambil berjalan mengikuti orang kepercayaan keluarga Wilyam.
"Mbak, ayo ikut saya untuk menemui pemilik rumah."
"Ya Pak," jawab Sela dengan singkat.
__ADS_1
"Permisi Nyonya, saya sudah mengajak orang yang mengirim pesanan kueh ulang tahun Tuan Muda dan Nona Muda." Ucapnya setengah membusungkan badannya.
"Terima kasih, silahkan lanjutkan pekerjaan kamu." Perintah Omma Qinan, sedangkan bunda Maura berjalan mendekati Sela. Sedangkan Neylaa tetap pada posisinya.
"Rupanya kamu, Sela. Terima kasih banyak ya, kamu sudah mengantarkan pesanan kueh ulang tahun anak anak Ibu. Oh ya, bagaimana kabar ayah kamu? apakah masih sering kambuh?" ucap Bunda Maura dan tidak lupa menanyakan kabar orang tuanya.
"Kabar Papanya Sela sudah lebih baik, Bu. Sekarang sudah tidak lagi kambuh, dan Papa sudah mulai bisa beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja Sela masih melarang Papa untuk bekerja, supaya benar benar sembuh." Ucap Sela dengan polos, Bunda Maura tersenyum mendengarnya.
Disaat itu juga, tiba tiba perut Sela kembali terasa mulas tidak karuan. Dengan susah payah, Sela tidak mampu menahannya dan tanpa disengaja Sela memperlihatkan ekspres seseorang yang ingin cepat cepat pergi.
"Kamu kenapa, Sela?" tanya Bunda Maura sambil memperhatikan ekspresi dari Sela.
"Maaf Bu, Sela pingin buang ..." ucapnya pun menggantung. Bagi Sela ucapannya itu tidak lah sopan jika dikatakan di hadapan orang yang lebih tua darinya, ditambah lagi dari keluarga yang terhormat. Seketika wajah Sela berubah menjadi pucat pasi, pasalnya dirinya bingung untuk berterus terang.
Neyla yang dapat menangkap ekspresi dari Sela, ia ikut angkat bicara karena dirinya yang paling muda diantara ibu dan Omma nya.
"Ney tahu, kamu ingin buang air besar atau kecil, 'kan?" tanya Neyla pada pokok intinya.
Sela tersenyum malu, dan juga sambil memegangi perutnya.
"Oooh, mau ke toilet? kamu lurus aja, habis itu belok kanan. Nah, disitu ada tulisannya. Kamu tidak perlu khawatir, untuk laki laki dan perempuan sudah terpisah." Kata Omma Qinan sambil menunjuk kearah yang ditunjukkan.
"Silahkan, jangan takut. Di rumah ini tidak ada orang penjahat." Timpal bunda Maura, setelah itu Sela segera bergegas pergi ke toilet.
Sambil berjalan cepat, Sela tidak lupa untuk menahan rasa sakit pada bagian perutnya.
Dengan terburu buru, Sela langsung masuk kedalam dan melepaskan sesuatu yang sudah membuatnya sakit perut yang tidak tertahan lagi.
Tidak memakan waktu lama karena tengah berada di rumah orang, Sela buru buru menyelesaikan hajat besarnya.
"Akhirnya lega juga, untung saja tuan rumahnya pengertian. Ah ya, Didin. Aduh! kenapa aku sampai lupa sama itu anak, bisa berabe akunya." Gumam Sela yang tiba tiba teringat dengan rekan kerjanya.
Karena dirinya tidak ingin tertinggal, Sela segera keluar dan pulang.
Seketika, Sela terkejut ketika mendapati sosok laki laki yang ada dihadapannya itu. Sela seperti mimpi disiang bolong ketika ada sosok laki laki yang sudah berada dihadapannya itu.
"Kak Zakka?" sebut Sela penuh tanda tanya.
"Apakah kamu tidak membaca tulisan? apakah kamu tidak bisa membedakan mana laki laki dan perempuan? apakah kamu sengaja?" tanya Zakka memberondong berbagai banyak pertanyaan. Sela pun bingung dibuatnya, seolah olah dirinya tengah tertangkap basah.
__ADS_1
"Maksud Kak Zakka, apa? eh tapi maaf, Sela harus pulang." Tanya Sela penasaran.
"Coba kamu baca tulisan itu dipintu," kata Zakka sambil menunjuk kearah pintu toilet yang ada tulisan yang cukup besar itu.
"Toilet laki laki." Ucap Sela dan langsung bengong, setelah itu ia hanya bisa nyengir kuda.
"Tuh bisa baca, bisa lihat. Kenapa kamu sampai salah masuk? hah."
"Maaf Kak, Sela tidak tahu. Soalnya tadi tidak bisa nahan, ya udah asal masuk aja." Kata Sela mengakui atas kesalahannya.
Disaat itu juga, Zakka langsung teringat akan sebuah rencana untuk dihari ulang tahunnya. Apa lagi kalau bukan mencari pacar sementaranya. Tanpa pikir panjang, Zakka langsung menahan Sela dengan cara mencengkram lengannya.
"Kak, lepasin dong. Aku harus pulang, temanku sudah menungguku."
"Karena kamu sudah membuatku menunggu, maka kamu harus mengganti ruginya." Kata Zakka, Sela pun dibuatnya heran.
"Hanya karena Sela salah masuk toilet, terus disuruh ganti rugi? yang benar saja." Protes dari Sela, Zakka sendiri tidak mempedulikannya. Dirinya tetap bersikukuh sesuai rencananya itu.
"Aidan, bawa perempuan ini ke ruang perawatan. Ubah perempuan ini secantik mungkin, dan jangan biarkan lolos. Kalau sudah selesai, kamu antarkan ke ruangan yang dimana aku menghabiskan waktuku." Perintah Zakka pada Aidan, Sela semakin bingung dibuatnya.
"Kak Zakka, ada apa ini? jangan ngerjain Sela dong. Aih, Sela ingin pulang. Eh tunggu, perasaan aku tidak salah masuk toilet deh. Kak Zakka, aku mau pulang." Rengek Sela sambil mengingatnya kembali.
Sampainya didalam ruangan khusus perawatan, Sela semakin bingung memikirkannya. Ingin memberontak, itu tidak akan mungkin, pikir Sela dalam bayang bayang ketakutan.
"Mbak, Mbak, saya mau diapain? jangan bilang kalau saya mau dijual. Duh! sebenarnya keluarga suaminya Kak Aish ini kek mana sih? kenapa jadi begini, tempat apaan lagi." Gerutu Sela sambil berdecak kesal.
"Nona, mari silahkan duduk sebentar."
"Aduh Mbak, saya ini mau diapain?" tanya Sela yang juga tidak mengerti apa maksud dari semuanya.
"Nona mau dirubah menjadi cantik, seperti cinderella." Jawabnya sambil mempersiapkan perlengkapan.
"Jadi cantik? saya sudah cantik loh, Mbak. Saya ini cantiknya sangat natural, serius. Jadi, biarkan saya keluar dari ruangan ini. Mbak tidak susah susah untuk merubah saya menjadi cantik, serius saya Mbak." Kata Sela sambil merayu segudang jurus untuk bisa kabur dari rumah keluarga Zakka, pikirnya.
"Kalau Nona pergi dari sini, maka saya tidak mampunyai penghasilan. Jadi, biarkan saya merubah Nona menjadi lebih cantik lagi." Jawabnya sambil mengimbangi Sela.
"Aduh Mbak, udah deh biarkan saya pergi dari ruangan ini." Lagi lagi Sela terus merayu, berharap dirinya bisa pergi dengan cara yang mudah.
"Maaf Nona, saya tidak bisa melakukannya. Lebih baik Nona itu nurut saja." Ucapnya, sedangkan Sela hanya bisa pasrah dengan nasibnya itu.
__ADS_1