Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Sebuah pilihan


__ADS_3

Ibu Melin yang mendengar tangisan Aish, Beliau segera menemuinya. Dilihatnya Aish tengah meringkuk dibawah tempat tidur terlihat memegangi sesuatu.


Ibu Melin yang begitu khawatir melihat keponakannya yang tengah menangis sesenggukan, segera mendekatinya dan memeluknya.


"Aish, kamu kenapa Nak? apakah ada seseorang yang telah menyakitimu? katakan pada Tante. Jangan kamu simpan kesedihan mu pada Tante, ceritakan saja. Tante siap mendengar keluhan kamu, dan juga siap membantumu." Kata Ibu Melin sambil memeluk keponakannya, Aish masih menangis sesenggukan. Bibir pun sulit untuk berucap, tatapannya seakan berubah menjadi kosong.


"Apakah ada yang menyakiti kamu?" Ibu Melin bertanya kembali. Aish pun menggelengkan kepalanya.


"Terus ... kenapa kamu menangis? apakah kamu merindukan Papa?" tanya Ibu Melin yang masih menyimpan rasa penasaran pada keponakannya. Aish akhirnya menganggukkan kepalanya, Ibu Melin yang mengerti dengan jawaban Aish. Beliau mengusap punggung milik keponakannya pelan pelan.


"Katakan pada Tante, perasaan yang seperti apa yang sedang kamu rasakan? ceritakan lah pada Tante. Agar beban yang kamu pikul, tidak terlalu berat. Ada Tante yang siap untuk menjadi orang tua kamu sendiri." Ucap Ibu Melin yang berusaha untuk menenangkan pikiran keponakannya.


Aish yang tidak ingin menahan beban yang ia rasakan, sebisa mungkin dirinya untuk berbagi cerita. Setidaknya beban yang ia punya sedikit berkurang, meski tidak sepenuhnya hilang.


"Tante, mau sampai kapan Aish akan terus terusan seperti ini? Aish seperti kehilangan semangat. Bahkan hari hari Aish serasa jenuh dan membosankan. Ingin rasanya Aish pergi jauh dan tak kan kembali, tapi ...." Jawab Aish masih dengan sandaran pada Tante nya.


Ibu Melin pun merasa kasihan ketika mendengar keluhan pada keponakannya. Ingin membantunya, namun dengan cara apa? Ibu Melin pun tidak bisa berbuat apa apa.


"Jangan berbicara seperti itu, Nak. Mungkin ini semua sudah menjadi jalan hidupmu yang masih penuh lika liku, dibalik kesabaran mu pasti akan kamu temui kebahagiaan yang tidak pernah kamu sangkakan." Sahut Ibu Melin sedikit memberi nasehat pada keponakannya.


"Tapi Tante, mau sampai kapan Aish akan terus terusan seperti ini? sekarang Aish sudah tidak bersemangat lagi, Tante." Kata Aish dengan lesu dan tidak lagi bersemangat.


"Bukankah kamu sudah mendaftarkan di Perusahaan milik suami kamu?" tanya Ibu Melin mengalihkan topik.

__ADS_1


"Maksud Tante?" tanya Aish yang belum mengerti.


"Tante sudah tahu kemana kamu mendaftar kerja. Tadi ayah mertua kamu mengirimkan pesan pada Tante, jika kamu mendaftar di Perusahaan baru milik suami kamu." Jawab Ibu Melin dan tersenyum.


"Perusahaan milik suami Aish?"


"Ya, milik suami kamu yang sekarang ini sedang di pimpin oleh saudara kembarnya yang bernama Zakka." Ucap Ibu Melin, sedangkan Aish hanya diam. Dirinya bingung harus berkata apa.


Kebanyakan seorang istri akan merasa bahagia ketika mendengar suaminya yang ternyata orang yang sukses, namun tidak untuk seorang Aish. Bukannya bahagia, Aish merasa takut mendengarnya. Ditambah lagi mengetahui jika saudara laki laki dari suaminya yang juga menyukainya, membuat Aish semakin ketakutan.


Karena tidak ingin keponakannya larut dalam kesedihan, Ibu Melin melepaskan pelukannya dan menghapuskan air matanya.


"Jangan takut, semua akan baik baik saja. Tante percaya sama kamu, semua akan terlewati tanpa kamu sadari. Sekarang katakan pada Tante, apa yang kamu inginkan? katakan saja, jangan sungkan." Kata Ibu Melin dan bertanya.


"Oh ya, Tante sampai lupa. Tadi pagi ada Pak Dirwan membawakan sesuatu untuk kamu, sepertinya sih hadiah. Tunggu sebentar ya, Tante Ambilkan." Ucap Ibu Melin yang tiba tiba teringat dengan sesuatu untuk keponakannya.


Setelah itu, Ibu melin menyodorkan sebuah paperbag yang berisi hadiah untuk Aish. "Buka lah, ini hadiah dari suami kamu sebelum berangkat ke luar Negri." Kata Ibu Melin, Aish pun menerimanya dan membuka isinya.


Dengan sangat hati hati, Aish membuka bungkusan hadiah tersebut dengan rasa penasarannya.


"Ponsel?"


"Wah ... bagus banget ponselnya, pasti sangat mahal. Kamu benar benar beruntung mendapatkan suami yang penuh perhatian, jarang jarang ada suami seperti Nak Rey. Biarpun terlihat angkuh dan dingin, tetapi dia memperlakukan kamu sangat sempurna." Kata Ibu Melin memujinya, Aish hanya tersenyum tipis mendengarnya.

__ADS_1


"Aish malu, Tante." Ucap Aish merasa minder.


"Malu kenapa Nak? ngapain kamu harus malu. Percaya deh sama Tante, suami kamu itu sangat baik. Hanya saja terlihat dingin dan juga kaku, dibalik dari sifatnya itu pasti ada sesuatu yang belum kamu ketahui. Buktinya saja Nak Rey sangat perhatian sama kamu, member nafkah lebih dari cukup." Ucap Ibu Melin meyakinkan keponakannya.


"Mungkin karena sebuah permintaan Papa untuk menjaga Aish, Tante. Jadi, bisa saja karena ingin menunaikan pesan dari almarhum Papa." Kata Aish dengan cara penilaiannya.


"Cara penilaian kamu itu sangat sempit, sampai sampai kamu lupa dengan waktu yang sudah kamu lewati." Ucap Ibu Melin mencoba untuk mengingatkan keponakannya.


Sedangkan Aish terus berpikir untuk mencari jawabannya, tetap saja ia tidak menemukannya.


"Aish, Coba kamu ingat lebih detail lagi. Selama kamu mengenal nak Rey, apakah suami kamu pernah bersikap kasar padamu?" tanya Ibu Melin mencoba membuka memori masa lalu Aish.


Disaat itu juga, ingatannya kembali dimasa masa masih sekolah. Aish terus mencoba mengingat kesalahan atau pun kebaikan seorang Rey padanya. Satupun Aish tidak mendapatkan kesalahan pada diri suaminya bahkan selalu menjaganya dan selalu menjadi pelindung untuknya.


Sejenak Aish menarik napasnya dan membuangnya secara perlahan. "Ya, Tante. Suami Aish tidak pernah berbuat buruk, bahkan selalu siap siaga ketika Aish membutuhkan pertolongan." Ucap Aish dengan suaranya yang lirih.


"Dari pada memikirkan sesuatu yang dapat menguras pikiran kamu, lebih baik sekarang ini kamu sibukkan diri diruang dapur. Tidak hanya hadiah ponsel saja yang diberikan dari suami kamu, tetapi ada alat alat dapur lainnya telah dibelikan oleh suami kamu. Mau apa saja tinggal menggunakan, kamu bisa belajar kueh maupun memasak. Jika kamu ingin berhenti dari Kantor, kamu bisa menyibukkan diri dirumah dan membuka Toko kueh maupun warung makan." Ucap Ibu Melin dan diakhiri dengan senyuman.


Aish mulai menimbang nimbang untuk memilih kesibukan apa yang lebih cocok untuk dirinya.


'Ingin keluar dari Kantor, tapi ... bagaimana dengan Afwan dan Yunda? terus ... jika aku berada didalam Kantor, bagaimana caranya aku menjauhi Zakka? aaah! ada apa dengan perasaan ku ini?' batin Aish mencari solusi, dan tiba tiba ia terjebak dengan kata katanya sendiri.


"tidak!!!" dengan reflek, Aish tanpa sadar berteriak.

__ADS_1


__ADS_2