Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Melakukan hal yang terbaik


__ADS_3

Setelah mendapatkan saran dan pencerahan dari Pak Dokter, Tuan Ganan dan Bunda Maura hanya bisa pasrah untuk melakukan sesuatu yang terbaik untuk kesembuhan putranya.


"Saya nurut saja dengan Pak Dokter, yang terpenting putra saya dapat tertolong dan dapat disembuhkan. Soal biaya berapa pun saya siap menanggungnya, yang penting kesembuhan putra saya." Ucap Tuan Ganan.


"Baik, Tuan. Sebisa mungkin saya akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan putra Anda." Jawab Pak Dokter meyakinkan, setelah itu Tuan Ganan dan sang istri segera keluar.


Sambil berjalan, Bunda Maura serasa kehilangan keseimbangan untuk berjalan.


"Ma, kamu tidak apa apa?" tanya Tuan Ganan yang khawatir akan keadaan istrinya yang terlihat begitu mengkhawatirkan putranya.


"Badan Mama terasa lemas, Pa." Jawab Bunga Maura sambil berpegangan lengan milik suaminya.


"Kita duduk saja disebelah situ, ayo." Ajak Tuan Ganan sambil menunjuk pada bangku yang kosong, Bunda Maura hanya bisa nurut ajakan suaminya.


"Duduk lah, aku mau menelpon Rey sebentar." Ucap Tuan Ganan, Bunda Maura mengangguk sambil mengatur napasnya.


Disaat itu juga, sepasang mata milik Bunda Maura tertuju pada seorang gadis yang tengah duduk sendirian sambil menangis sesenggukan.


"Mama, kamu lihat apa?" tanya Tuan Ganan.


"Itu Pa, ada gadis muda yang kelihatannya sedang menangis deh. Kasihan sekali anak itu, mana sendirian, lagi." Jawab Bunda Maura merasa kasihan dengan sosok perempuan yang duduk sendirian.


"Mungkin sedang menunggu keluarganya, atau anggota keluarganya ada yang kritis. Kalau Mama berkenan, boleh kalau mau mendekati." Kata Tuan Ganan, Bunda Maura masih diam. Memikirkan kesembuhan putranya saja masih bingung, bagaimana bisa menghibur kesedihan orang lain, pikirnya.


"Ya sudah jangan dipaksakan jika kamu tak sanggup untuk mendekatinya, doakan saja yang terbaik. Bagaimana dengan kamu, apakah sudah bisa untuk berjalan lagi? kalau belum jangan dipaksakan."


"Maaf ya Pa, sekarang pikiran Mama sendiri sedang tidak baik baik saja." Jawab Bunda Maura dengan lesu.


"Itu Rey sudah datang, tidak apa apa kan jika Rey yang menemani kamu? Papa yang akan mengurus Zakka." Ucap Tuan Ganan, Bunda Maura hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Mama, Papa, ada apa?" tanya Rey penasaran.


"Kamu temani Mama sebentar, kata Mama badannya terasa lemas. Kamu temani Mama duduk disini, kalau sudah mendingan kamu bisa ajak Mama di ruang tunggu bersama Kakek." Jawab Tuan Ganan, Rey mengangguk dan disaat itu juga pandangan tertuju pada seorang perempuan yang tengah duduk sendirian sambil menangis sesenggukan.


"Sela, bukan kah itu Sela? kenapa ada di rumah sakit?" gumam Rey bertanya tanya. Kedua orang tuanya pun dapat menangkap apa yang diucapkan oleh putranya walaupun dengan suara yang lirih.


"Kamu kenal dengan perempuan itu?" tanya Bunda Maura, Rey mengangguk.


"Ya Ma, dia Sela. Gadis yang dekat dengan istrinya Rey, Sela sudah seperti adiknya Aish sendiri. Lebih jelasnya lagi, Sela gadis yang bekerja di Toko kueh miliknya Aish, sekaligus orang kepercayaan Rey dan Aish." Jawab Rey menjelaskannya dengan detail.


"Coba kamu dekati dia, sepertinya dia sedang bersedih. Kasihan dia, jika ada yang bisa kita bantu, maka bantu lah dia." Perintah Tuan Ganan pada putranya.


"Baik Pa, Rey kesana sebentar." Jawab Rey, kemudian ia segera mendekati Sela yang tengah menangis sesenggukan.


"Sela, siapa yang sakit?" tanya Rey mengagetkan.


"Kenapa kamu menangis? katakan pada Kakak, kamu kenapa? siapa yang sakit?" Rey terus mendesak untuk mengetahui kebenarannya.


Sela justru menunduk, diam dan tak tahu harus menjawab apa.


"Sela, ayo katakan pada Kakak. Siapa yang sakit? adik kamu, atau orang tua kamu?" lagi lagi Rey kembali bertanya.


"Emmmm Ayahnya Sela, Kak." Jawab Sela dengan gemetaran.


"Ayah kamu? sakit apa Ayah kamu?" Rey terus bertanya.


"Tidak sakit apa apa kok kak, sakit lambung kak." Jawab Sela beralasan, ia tak mampu untuk berterus terang atas kebenaran yang diderita oleh orang tuanya. Sebisa mungkin Sela untuk tidak menyusahkan orang yang sudah sering berbuat baik padanya.


"Oooh lambung, Kakak kira ada yang lebih serius. Semoga cepat sembuh, soal biaya kamu tidak perlu memikirkan. Biar Kakak yang akan membiayai pengobatan ayah kamu." Ucap Rey mencoba untuk menenangkan hati Sela.

__ADS_1


"Tapi Kak ... Sela masih bisa kok untuk membayar biaya rumah sakit." Kata Sela yang merasa tidak enak hati untuk selalu menerima bantuan dari Rey.


"Jangan banyak alasan, Terima saja apa yang bisa Kakak berikan untuk keluarga kamu. Tanpa kamu, Kakak tak bisa menjaga istri Kakak dengan sepenuhnya. Uang pengobatan ayah kamu belum seberapa dengan kepedulianmu sama istri Kakak. Jadi, sekarang waktuny Kakak membantu kamu." Ucap Rey tetap bersikukuh untuk membantu biaya rumah sakit


Sela yang tidak mempunyai pilihan untuk menolak pemberian dari Rey, akhirnya Sela menerimanya.


"Terima kasih banyak ya Kak, semoga Kak Rey dan kak Aish dan keluarga Kak Rey selalu diberi kesehatan dan dilimpahkan rizkinya." Ucap Sela tak lupa memberikan doa untuk Rey dan istri serta keluarganya.


"Aamiin, semoga Ayah kamu lekas sembuh ya. Jaga dengan baik kesehatan ayah kamu, jangan ceroboh." Kata Rey dan tak lupa juga mengucapkan doa untuk kesembuhan orang tuanya Sela.


"Kalau begitu Sela pamit ya Kak, Sela mau menemui Ayah. Oh ya, ngomong ngomong Kak Rey berada dirumah sakit, memangnya siapa yang sakit, Kak?" tanya Sela yang tiba tiba teringat keberadaan Rey yang berada di rumah sakit.


"Adiknya Kakak yang bernama Zakka tadi kecelakaan, dan sekarang sedang ditangani oleh Dokter." Jawab Rey.


"Kak Zakka kecelakaan? yang benar saja, Kak Rey. Perasaan kemarin itu masih ke Toko kueh deh, bahkan beli banyak kueh." Kata Sela seperti tidak percaya.


"Mana bisa diprediksi, musibah tak ada yang tahu. Ya sudah kalau kamu mau menemui ayah kamu, Kakak juga mau menemani Mama nya kak Rey. Salam buat ayah kamu ya, semoga lekas sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala." Ucap Rey sekaligus berpamitan.


"Ya Kak, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuan dari Kakak. Semoga Kak Zakka juga segera lekas sembuh." Jawab Sela, Rey mengangguk dan keduanya berpisah.


Setelah itu, Rey kembali menemui sang Ibu yang tengab duduk dan ditemani sang ayah.


"Apa kata gadis itu? siapa yang sakit?" tanya Bunda Maura.


"Katanya sih ayah nya yang sakit, Sela bilang ayahnya sakit lambung." Jawab Rey, kemudian ia duduk di sebelah ibunya.


"Terus ... kamu bantu biaya pengobatannya, tidak?" tanya Tuan Ganan.


"Ya Pa, Rey sudah mengatakannya langsung dengan Sela. Alhamdulillah juga Sela mau menerimanya, Rey yang akan membiayai semua biaya pengobatan orang tuanya." Jawab Rey, Tuan Ganan dan Bunda Maura merasa lega dan tak lupa tersenyum mendapati putranya yang ikut peduli dengan kesusahan orang lain yang membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


__ADS_2