
Rey mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjukkan istrinya. "Kenapa?" tanya Rey yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh sang istri.
"Kita beli sarapan paginya ke penjual ibu itu saja, bagaimana? kasihan Beliau. Sepertinya Ibu itu sangat membutuhkan penghasilan di pagi ini." Kata Aish sambil menatap suaminya.
"Rupanya kamu sangat jeli, aku sendiri tidak kepikiran sampai disitu." Ucapnya, kemudian mengajak Aish untuk menghampiri Beliau.
"Kamu mau pilih yang mana?" tanya Aish sambil melihat lihat menu sarapan pagi.
"Aku ngikutin kamu saja, terserah kamu mau beli apa. Aku pasti memakannya, jangan khawatir dan jangan takut aku buang. Karena aku bukan orang yang mudah membuang buang makanan." Sahut Rey dengan ekspresi datar.
"Aish!!!" teriak seseorang memanggil Aish dengan suara yang cukup nyaring untuk didengar. Disaat itu juga, Rey maupun Aish menoleh ke sumber suara.
Seketika, Aish tercengang melihatnya. Bahkan sekujur tubuhnya mendadak kaku dan sulit untuk digerakkan. Apa yang ditakutkannya kini sudah berada di hadapannya. Kemudian dengan reflek, Aish menggigit bibir bawahnya karena gelisah dan takut akan membuat kecewa.
"Yunda! Afwan! kalian berdua?" panggil Aish dengan ekspresi terkejut.
"Tunggu tunggu tunggu, kok ada Rey. Kalian berdua baru ketemu? terus ... Zakka nya mana?" dengan rasa penasarannya, Yunda menatap sahabatnya penuh tanda tanya. Sedangkan Aish masih bungkam mengenai kehadiran kedua sahabatnya.
Begitu juga dengan Afwan, dirinya ikut terkejut ketika mendapati sosok laki laki yang sangat dikenalinya.
"Afwan, apa kabarnya?" sapa Rey membuka suara.
"Ba - baik, kamu sendiri? ngomong ngomong kamu sama siapa?" sahut Afwan balik menyapa dan bertanya mengenai kehadirannya.
"Kabar aku seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja." Kata Rey dengan santai.
Yunda masih memperhatikan Aish dan Rey dari segi penampilan dan juga ekspresi pada keduanya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku mau pesan sarapan pagi terlebih dahulu. Jika ada yang ingin kalian bicarakan, lebih baik kita bicarakan di rumah saja. Tidak baik di tempat umum seperti ini untuk membicarakan hal pribadi." Ucap Aish, Yunda maupun Afwan hanya mengangguk.
Lagi lagi kedua sahabat Aish menoleh kearah Rey dengan tatapan mencurigai, sedangkan Rey sendiri tetap dengan ekspresi tenangnya tanpa ada rasa takut atau yang lainnya.
Yunda dan Afwan masih memperhatikan sikap Rey pada sahabatnya, dari cara berbicara dan juga memperlakukan sahabatnya.
"Biar aku yang bawa, ayo kita pulang." Ajak Rey pada istrinya, Aish pun mengangguk.
"Yun, Afwan, ayo kita kerumah." Ajak Aish pada kedua sahabatnya.
Sepanjang berjalan kaki, Yunda dan Aish berjalan lebih awal. Sedangkan Afwan dan Rey memilih mengikutinya dari belakang.
"Rey, kalau boleh tahu, apa kamu mempunyai hubungan khusus dengan Aish? secara tidak seperti biasanya. Zakka aja tidak sedeket kamu pada Aish loh." Tanya Afwan memberanikan diri, Rey sendiri hanya tersenyum.
"Kok cuman tersenyum? ayo lah beritahu aku, bukan kah kita teman?"
"Jadi benar nih, kalau kamu mempunyai hubungan khusus dengan Aish?" tanya Afwan semakin penasaran.
"Sudah lah jangan banyak bertanya, aku belum sarapan. Nanti yang ada aku kelaparan duluan, kasihani aku yang sedang menahan lapar." Kata Rey sedikit bergurau.
"Hem, terserah kamu saja. Aku tidak mempunyai hak untuk mencari tahu tentang kamu." Kata Afwan yang tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain, ia takut akan memjadi malu sendiri, pikirnya. Rey yang mendengarnya hanya senyum senyum sambil berjalan membawa sarapan yang ia beli.
Sedangkan Aish dan Yunda hanya membicarakan mengenai pekerjaannya masing masing. Bahkan keduanya sama sama untuk mengalihkan pembicaraan yang belum lama menjadi topik perbincangan.
Tidak lama kemudian, Aish dan suami serta kedua sahabatnya telah sampai di rumah Ibu Melin.
"Ayo silahkan masuk," ajak Aish pada pada kedua sahabatnya. Yunda dan Afwan pun segera masuk kedalam rumah dan diikuti oleh Rey dari belakang sekaligus menuju ruang makan untuk meletakan bawaannya.
__ADS_1
Sedangkan Aish mempersilahkan kedua sahabatnya untuk duduk, kemudian disusul oleh Rey yang tanpa canggung duduk disebelah Aish dengan jarak yang begitu dekat Bahkan terlihat jelas jika keduanya seperti sepasang suami istri.
Aish merasa canggung ketika posisi duduknya diperhatikan oleh kedua sahabatnya.
"Sebenarnya kalian berdua ini ada hubungan apa sih? sepertinya ada yang lebih deh." Tanya Yunda yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya Karena rasa penasarannya yang sudah tidak dapat untuk ia simpan.
Aish maupun Rey yang mendengar pertanyaan dari Yunda, keduanya saling menoleh satu sama lain.
"Kita berdua sudah menikah, sah secara hukum maupun agama." Jawab Rey dengan singkat.
"Apa!! menikah?" Kata Afwan dan Yunda tidak percaya.
"Ya, kita berdua sudah menikah sejak lulus sekolah. Pernikahan kita ini berawal dari pernikahan siri, setelah dua tahun, kita berdua menikah secara hukum." Timpal Aish ikut angkat bicara dan mengakui semuanya.
"Benarkah?" tanya Yunda ingin lebih jelas lagi, Aish dan Rey sama sama menganggukan kepala.
"Jahat banget kamu Aish, pandai banget kamu membohongi kita yang katanya sahabat. Tapi apa? kenyataannya kamu pembohong besar. Kita berdua sudah bela belain kamu dari Yahya, rupanya kamu jauh lebih mrngecewakan dari pada Yahya. Aku kecewa banget sama kamu, sangat kecewa." Kata Yunda dengan tatapan kekesalannya. Namun tidak untuk Afwan, dia masih mencoba mencari tahu tentang alasan apa yang membuat Aish menikah tanpa sepengetahuan dirinya.
"Tunggu Yun, jangan pergi dulu. Kendalikan emosi kamu, tenangkan dulu pikiran kamu itu. Asal kamu tahu, kita tidak boleh asal menelan penjelasan secara mentah mentah. Kita masih ada pertanyaan satu lagi untuk Aish, jadi jangan gegabah untuk mencerna pengakuan darinya." Kata Afwan berusaha untuk mencegah Yunda, berharap tidak ada kesalahpahaman diantara Yunda dan Aish.
Rey maupun Aish masih diam, keduanya pun tidak mau gegabah mengenai permasalahannya.
"Baik lah, kamu saja yang bertanya." Ucap Yunda dengan ketus, Afwan hanya mengangguk.
"Kalau boleh tahu, alasan apa yang membuatmu menikah tanpa berterus terang dengan kita? maksud aku menikah dengan cara diam diam tanpa sepengetahuan kita." Tanya Afwan yang ingin tahu tentang kebenaran.
"Pernikahan kami karena sesuatu yang sangat mendesak, orang tua Aish memintaku untuk menjaganya sebelum ayah Aish menghembuskan napas terakhirnya. Satu lagi yang ingin katakan pada kalian berdua, bahwa aku dan Zakka adalah kakak beradik. Zakka adalah saudara kembarku, aku anak pertama dan Zakka anak kedua, kembar yang ketiga perempuan." Ucap Rey memperjelas penjelasannya.
__ADS_1
Seketika, Yunda dan Afwan tercengang mendengarnya. Apa yang ia dengar seakan hanya angin lewat saja, pikir keduanya.