Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Permintaan


__ADS_3

Yahya yang mendengarnya pun seakan dirinya tersaingi oleh seorang laki laki seusianya.


Karena tidak ingin emosinya terpancing dengan sia sia, akhirnya Yahya memilih untuk mendekatinya.


"Kamu siapanya Aish? saudara?" tanya Yahya menyelidik.


"Calon suaminya, kenapa?" jawabnya dengan santai.


"Calon suaminya Aish? what? serius? ah! jangan ngaco! kamu ini, kamu itu masih kecil jika mengatakan calon suami. Palingan juga kami anak mami, yang mana uang jajan saja masih meminta orang tua." Sahut Afwan ikut menimpali.


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan beruntung. Aku, atau teman kamu itu." Ucapnya, kemudian ia segera pergi untuk menemui pihak RT hingga ke perangkat desa yang lainnya. Entah apa yang akan dilakukannya, hanya pemuda tersebut yang mengetahuinya rencana yang sudah tersusun rapi dalam niatnya.


Tidak hanya itu, ia juga meminta salah satu anggota keluarganya untuk menjadi bagian rencananya.


Sedangkan Yahya dan Afwan memutuskan untuk kembali ke rumah Aish. Sambil jalan, Yahya dan Afwan membicarakan sesuatu yang sering ia lakukan kita jalan bersama.


Di kediaman rumah Aish kini tengah dipadati para takziah yang datang belakangan karena sesuatu hal.


"Yahya, kita pulang saja yuk. Malu kita, banyak kerabat keluarga Aish sepertinya. Atau ... rekan rekan kerja orang tuanya. Lagian sudah ada Yunda, Aish tidak lagi kesepian. Jugaan ada Tantenya yang mau menginap di rumahnya, besok aja kita datang lagi." Ajak Afwan yang sedikit enak hati bila masih berada di rumah Aish yang tidak mempunyai silsilah bagian keluarganya.


"Benar juga kata kamu, ya sudah ayo kita pulang." Jawabnya, kemudian Afwan dan Yahya akhirnya memilih untuk pulang.

__ADS_1


Sedangkan di rumah Aish masih ada banyak para tamu bertakziah, semua ikut turut berduka atas berpulangnya seorang ayah dari Aishwa Zahra.


Sebisa mungkin, Yunda untuk selalu menghibur sahabatnya dan selalu menyemangatinya. Meski Aish sendiri masih terasa rapuh dan juga tidak lagi berdaya, ia berusaha untuk tetap kuat dan juga sabar untuk menerima ketentuan dari Sang Maha Pencipta.


Ditempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Yahya. Kini tengah siap mendengarkan permintaan dari putra semata wayangnya.


"Memangnya apa yang ingin kamu katakan, Yahya?" tanya sang ayah dengan penasaran. Tidak biasanya Yahya mengajaknya untuk membicarakan sesuatu yang begitu serius, hingga meminta kepada kedua orang tuanya untuk diajaknya mengobrol didalam ruangan yang sering dipergunakan untuk membicarakan sesuatu yang penting.


"Em ... itu, Bi. Em ... sebenarnya Yahya ingin meminta izin sama Umi dan Abu, tapi ... Yahya ragu." Jawab Yahya sedikit gugup, ia sendiri baru pertama kalinya meminta sesuatu yang menurutnya sulit untuk diterima oleh kedua orang tuanya.


"Kamu ragu? kenapa ragu? katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan dan ingin kamu sampaikan pada Abi dan Umi."


"Ingin apa? katakan saja, atau ... ingin pindah ke Kairo?"


"Bukan, bukan itu maksud Yahya, Bi. Yahya ingin menikahi Aish dalam waktu dekat ini." Jawab Yahya, kemudian ia menundukkan pandangannya.


Seketika, kedua orang tua Aish kaget dibuatnya. Apa yang diucapkan dari putranya seakan seperti sebuah pisau yang digoreskan tepat di denyut nadinya.


"Apa! menikahi Aish? tidak, Abi tidak mengizinkan kamu untuk menikah diusiamu yang masih sangat muda. Kamu boleh menikahi Aish, tapi tidak untuk sekarang. Kamu tahu? Aish sedang berduka, sedangkan kamu ingin mengajaknya menikah, itu tidak akan diterima Aish. Yang ada kamu akan dibenci oleh Aish, bahkan tidak akan mengenalmu lagi. Jadi, fokuskan saja pada karirmu. Bukankah kamu ingin menjadi seorang pendiri pesantren? lakukan dan kejarlah cita citamu itu, setelah itu kamu bisa menikahi seorang perempuan yang kamu sukai." Ucap sang ayah untuk memberi sebuah nasehat pada putranya agar tidak salah mengambil keputusan.


"Benar, anakku. Usia kamu saja belum genap 19 tahun, cukupi dulu bekal ilmu mu itu. Agar setelah kamu mempunyai bekal ilmu yang cukup, kamu bisa memutuskan keinginanmu. Sedangkan untuk menikah diusiamu yang masih sangat muda, Umi dan Abi menentangmu." Sahut sang ibu ikut menimpali untuk memberi sebuah nasehat bijak untuk putranya. Takut, jika permintaannya di penuhi akan mempunyai efek samping dikemudian hari karena pernikahan sejak dini.

__ADS_1


"Tapi Abi, Umi ... bagaimana dengan nasib Aish selanjutnya. Dia menjadi anak sebatang kara, bahkan tidak lagi mempunyai kedua orang tua dan juga tidak ada yang mencarikan nafkah untuknya." Ucap Yahya sedikit memberi alasan kenapa dirinya ingin menikahi Aish, yakni kasihan akan masa depan Aish tanpa adanya kedua orang tua.


"Kenapa kamu mesti khawatir? Aish masih ada keluarga, kamu tidak perlu takut jika Aish akan kekurangan. Percaya saja sama Abi, Aish sudah besar dan juga sudah bisa untuk mencari pekerjaan." Jawab sang ayah yang terus mengingatkan putranya untuk tidak begitu berlebihan ketika mencintai seseorang.


Sambil menarik napasnya panjang, kemudian ia membuangnya dengan kasar. Mau bagaimana lagi, Yahya tidak mendapatkan restu dari kedua orang tuanya dengan alasan dirinya masih belum cukup umur dan juga belum cukup bekal ilmu untuknya dibawa dalam berumah tangga.


"Bersabarlah, anakku. Sembari menunggu kedewasaanmu, kamu masih mempunyai banyak waktu untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta karir yang lebih bagus. Kamu tidak perlu takut untuk memikirkan soal jodoh, semua orang mempunyai jodohnya masing masing. Jika sudah waktunya untuk berumah tangga, entah kapan waktunya, kamu akan bertemu dengan jodoh yang sudah menjadi ketentuan untukmu." Sahut sang ibu kembali mengingatkannya.


"Iya Umi, Abi. Sekarang Yahya sudah mengerti dengan apa yang Yahya terima nasehat dari Ani dan Umi. Kalau begitu, mohon doa restunya untuk menuntut ilmu di Negri orang. Semoga Yahya pulang dengan membawa ilmu yang bermanfaat, untuk Yahya, dan juga untuk keluarga Yahya maupun yang lainnya." Ucap Yahya yang pada akhirnya menerima nasehat dari kedua orang tuanya.


Setelah mendapatkan keputusan, Yahya akhirnya memilih untuk kembali ke kamarnya. Dirinya sendiri masih banyak yang harus dipersiapkan untuk berangkat menuntut ilmu di Negri orang.


Sedangkan dirumah Aish kini berubah menjadi sunyi dan sepi seiringnya waktu telah berlalu, hanya ada Yunda sahabatnya dan juga Tantenya yang menginap untuk menemani Aish hingga 7 hari lamanya.


Masih dengan perasaan gelisah, Aish belum juga bisa memejamkan kedua matanya. Yunda yang mendapati Aish masih belum juga tidur, akhirnya ia bangkit dari posisi tidurnya untuk mengambilkan air minum.


"Aish, bangunlah." Panggil Yunda memanggil sahabatnya serta memintanya untuk segera bangkit dari posisi yang tengah berbaring.


"Ada apa, Yun?" tanya Aish sambil menahan kepalanya yang terasa sedikit pusing.


"Nih, minumlah. Agar pikiran kamu sedikit tenang, ayo minum lah." Ucap Yunda sambil menyodorkan air minum, Aish pun menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2