
Aish masih berada di dalam Mall, perasaannya mulai tidak enak saat berpisah dengan ketiga temannya. Ingin rasanya berteriak dan menangis, yang dimana dirinya belum juga bertemu dengan salah satu temannya.
"Ngapain kamu pakai jongkok segala, dimana ketiga teman kamu? ditinggal pulang? kasihan sekali. Ayo ikut aku, nanti aku antarkan kamu pulang."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Sahut Aish berusaha untuk menghindari.
"Jangan bohong, nanti kalau kamu di culik, bagaimana? hem."
"Serius, aku tidak apa apa. Nanti juga ketemu kok sama mereka, aku hanya kehilangan jejak saja." Lagi lagi Aish hanya beralasan.
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang duluan, ya." Ucapnya, sedangkan Aish hanya bisa mengangguk. Meski sebenarnya sangat membutuhkan pertolongan secara gratis, namun niatnya diurungkan karena menjaga gengsinya demi menutupi rasa malunya.
"Serius nih aku tinggal? baik lah kalau begitu aku akan menunggu kamu sampai 20 menit, jika sampai 20 menit kamu belum juga pulang, maka aku paksa kamu untuk pulang bersamaku." Ucapnya memberi waktu, sedangkan Aish sama sekali tidak meresponnya. Kini Aish mulai gelisah jika sampai 20 menit tidak juga menemukan keberadaan ketiga temannya.
Sambil berjalan mencari jalan keluar, di belakangnya ada seseorang yang tengah mengikutinya dari belakang. Meski sedikit risih, Aish berusaha untuk tetap acuh dengan nya.
Setelah cukup lama berjalan sambil celingukan, satu bayangan diantara salah satu sahabatnya pun tidak ada yang kelihatan.
Cemas, gelisah, was was, kini telah menjadi satu didalsm pikiran Aish. Karena penasaran, akhirnya Aish melihat jam tangannya.
'Yang benar saja sudah 15 menit aku berjalan sambil mencari Yunda dan juga Afwan.' Batin Lunika yang sudah malas memikirkan Yahya, yang ada dibenak nya hanyalah untuk bisa keluar dari Mall.
"Bagaimana? sudah hampir 20 menit nih, sudah lah lebih baik kamu menyerah saja."
"Sudah aku bilang, aku bisa pulang sendiri. Kenapa sih, kamu itu tidak ada kapoknya."
__ADS_1
"Memangnya kapok kenapa? dipukul kamu aja tidak, di tolak kamu juga tidak. Lalu kenapa aku mesti kapok? hem, sudah lah ayo ikut aku pulang. Nanti keburu Zakka nongol, bisa berabe. Yang ada itu anak akan mengajak kamu untuk mengitari Mall ini, mau? ya sudah jika kamu tidak keberatan. Noh! lihat, Zakka sudah berdiri diujung sana." Ucapnya memberi tawaran dan menunjukkan jari telunjuk nya ke arah Zakka yang sedang memilih pakaian.
Aish yang melihatnya pun bergidik ngeri jika dirinya harus berhadapan Zakka yang tidak pernah bosan untuk berada di dekatnya. Mau tidak mau, akhirnya Aish menerima tawaran yang tidak ada lagi pilihan lain selain ikut pulang bersamanya.
"Baik lah, aku ikut pulang denganmu. Dan ingat, ini yang terakhir, lain waktu aku tidak akan menerima tawaran darimu." Ucap Aish dengan gengsinya.
"Iya ya ya, lagian juga mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Dan mungkin juga kita akan bertemu entah kapan lagi, mungkin tidak akan pernah. Ah sudah lah, ayo ikut aku pulang. Nanti keburu Zakka mengetahuinya, bisa tambah rumit urus urusannya." Ajaknya, kemudian segera angkat kaki dari Mall.
Sesampainya di parkiran, Aish menatap takjub dengan sebuah mobil yang benar benar sangat mewah.
"Hei, kenapa bengong? ayo masuk."
Aish masih tidak meresponnya, dirinya terhanyut dalam lamunannya.
"Mau masuk atau tidak?"
"Duduk didepan, aku bukan supirmu. Enak saja mau jadi ratuku, nikah dulu denganku." Ucapnya asal tanpa disadarinya, Aish membelalakan kedua bola matanya.
"Sudah jangan banyak drama, buruan masuk dan duduk didepan."
"Tapi kita bukan mukhrim, aku duduk dibelakang aja. Nanti apa kata orang jika melihatku, aku tidak ingin membuat nama keluarga menjadi buruk." Ujar Aish yang mencoba bernegosiasi.
"Nanti aku akan menjadi mukhrim, mu. Soal orang lain menilai kamu itu tergantung bagaimana cara mereka memandangmu lewat mana dulu, jadi cepetan duduk didepan. Tepatnya disebelah pengemudi, ngerti."
Aish yang tidak ingin berdebat dengan lelaki yang menurutnya kaku, dingin, dan tidak bisa mengalah, dirinya memilih untuk menuruti kemauannya.
__ADS_1
'Kalaupun aku bisa pulang sendiri, aku tidak sudi pulang bersamanya.' Batin Aish sedikit kesal karena sebuah pemaksaan, bahkan sikap ramahnya saja sedikitpun tidak nampak, pikirnya.
Setelah duduk didepan dan bersebelahan, Aish hanya menatap lurus kedepan. Bahkan tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Aish, didalam mobil benar benar hening dan sunyi seperti berada di kuburan.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan Pak Dirwan?" tanya nya sambil fokus dengan setirnya.
"Sudah." Jawab Aish dengan singkat.
"Terus ... apakah kamu akan menerima syarat itu?" tanya nya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Aish. Sedangkan pandangan Aish masih lurus kedepan.
Entah kenapa, akhirnya Aish menoleh ke arah sebelahnya.
"Aku tidak tahu, seperti perempuan murahan saja jika aku menerima syarat itu."
"Kata siapa? kalaupun kamu tidak mau juga tidak apa apa, aku tidak akan memaksamu. Semua ada hak pada diri kamu, waktu kamu tinggal beberapa hari lagi. Kesempatan kamu akan hangus, karena diwaktu keputusan itu juga aku akan pergi ke luar Negri." Ucapnya menegaskan, Aish hanya diam. Kemudian ia kembali menatap lurus pandangannya kedepan.
"Agar kamu dapat mengetahui syaratnya yang lebih detail, maka aku akan memberikan kamu selembaran kertas untuk kamu pahami. Ini, bacalah dengan teliti. Didalamnya ada keringan untuk kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir setelah menyelesaikan pendidikanmu." Ucapnya dan memberikan sebuah lembaran kertas yang banyak tulisan.
Dengan was was, Aish menerimanya. Kemudian dengan teliti dan dibaca dengan seksama, Aish begitu fokus membacanya tanpa dilewatkan satu kata pun.
'Apa yang harus aku lakukan, kenapa aku harus berurusan dengan laki laki seperti dia yang kaku, dingin, dan juga egois.' Batin Aish sambil menatap lembaran kertas yang isinya tentang persyaratan untuknya.
'Baik lah demi cita citaku tercapai, aku akan turuti syarat itu. Malu tidak malu, hanya dengan cara itu aku bisa melanjutkan pendidikan ku. Lagian juga dia akan pergi ke luar Negri, jadi aku tidak akan bertemu dengannya. Setelah dirinya pulang, disaat itu juga aku sudah selesai mengenyam pendidikan ku. Bertemu pun satu tahun sekali, bagiku sangat mustahil.' Batin Aish dengan perasaan lega dan dengan tekadnya yang bulat.
"Kenapa masih diam? mau atau tidak? jika ia, maka pak Dirwan akan mengurus semuanya. Jadi, kamu cukup belajar dengan baik. Aku akan terus mengawasi kamu, meski aku tidak ada di rumah. Jika hasil belajarmu tidak membuahkan hasil, kamu harus siap untuk. tuk menerima konsekuensinya." Ucapnya serta memberi sebuah ancaman yang menakutkan.
__ADS_1
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan kamu, percayalah padaku." Sahut Aish meyakinkan.