Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Ingin memberi kejutan suaminya


__ADS_3

Zakka yang mendengarkan penjelasan dari sang Kakek, akhirnya terdiam. Seakan ucapan dari kakek Angga menjadi cambuk paling kuat untuk ia terima.


"Sudah lah, ikhlaskan semuanya. Kamu masih ada waktu untuk mengubahnya lebih baik lagi. Kata siapa kamu tidak bisa bahagia? kamu masih bisa menggapai impianmu. Masih ada kesempatan banyak untuk mendapatkan cinta yang tulus seperti yang kamu harapkan." Ucap sang Kakek yang tidak ada bosannya untuk menyemangati cucu keduanya.


"Zakka benar benar prustasi, Kek. Mungkin memang kesalahan Zakka sendiri yang terlalu berlebihan untuk mendapatkan cintanya Aish." Kata Zakka tidak bersemangat.


"Namanya cinta, banyak orang yang buta hatinya karena angan angan yang tidak menjadi nyata. Oh ya, hampir saja Kakek lupa. Soal untuk pacar sementaranya, bagaimana? cancel atau lanjut nih? kalau lanjut, Kakek siap untuk ikut andil didalamnya. Jika tidak, Kakek akan menggantinya istri selamanya nih." Kata Kakek yang tidak lupa untuk menggoda cucunya kembali.


"Pacar sementara saja, Kek." Jawab Zakka tetap pada pendiriannya.


"Baik lah, akan Kakek bantu untuk mencarikan sosok perempuan yang cocok untuk kamu. Tapi ... kalau sampai belum juga didapatkan, Neyla yang akan menyamar untuk menjadi pasangan kamu." Ucap kakek Angga tidak lupa untuk menegaskan pada Zakka.


"Ya, Kek. Terima kasih banyak atas semua perhatian dari keluarga." Jawab Zakka, kakek Angga pun tersenyum mendengarkannya.


"Tenang saja, semua akan sesuai permintaan mu. Ya sudah kalau begitu, kakek pamit dulu. Jika kamu ada perlu apa apa, katakan pada kakek atau yang lainnya." Kata sang Kakek yang tidak lupa berpesan, Zakka pun menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, kakek Angga segera bergegas keluar dari ruang kerja cucunya. Kemudian Beliau kembali menemui istri dan menantunya di ruang keluarga.


"Bagaimana dengan Zakka, Pa?" tanya Bunda Maura karena rasa penasaran pada putranya.


"Tetap saja itu anak minta untuk dicarikan pacar sementaranya, ada ada saja itu Zakka." Jawab kakek Angga dan tidak lupa memijat pelipisnya karena pusing untuk mencarikan pacar sementara cucu keduanya.


"Nah ya itu yang bikin kita berdua pusing untuk mencarikan nya, nyari pacar sementara itu tidak segampang nyari baju." Timpal Omma Qinan yang juga ikutan pusing dibuatnya.


"Mau bagaimana lagi, maunya Zakka memang kek gitu. Kita sebagai orang tua, kita hanya bisa memberi sesuatu yang terbaik untuk anak dan cucu kita. Sudah lah, penting Zakka tidak merasa tertekan." Ucap kakek Angga yang tidak memiliki cara lain selain menuruti permintaan cucu keduanya.


"Ya Pa, Maura nurut saja sama Papa. Lakukan yang terbaik untuk Zakka, asal Zakka tidak dibebani, Maura siap untuk menuruti permintaan Zakka. Mau bagaimanapun Zakka membutuhkan perhatian, bukan untuk diabaikan." Kata Bunda Maura ikut menimpali.


"Baik lah, kita pikirkan lagi nanti. Sekarang kita sibukkan diri kita sesuai yang sudah disepakati, yakni mencarikan pacar sementara untuk Zakka." Ucap Kakek Angga, Omma Qinan dan Bunda Maura mengiyakan.


Sedangkan ditempat lain, ada Sela tengah disibukkan dengan banyaknya pesanan yang harus tepat waktu sesuai pesanan yang sudah ditentukan oleh pemesan.


"Sela, istirahat dulu kamunya. Biarin aku yang melanjutkan, nanti kamu kecapekan." Ucap Winda meminta Sela untuk beristirahat.


"Nanggung, Kak. Bentar lagi juga beres kok, percaya deh sama Sela." Sahut Sela sambil melakukan pengadonan untuk membuat kueh selanjutnya.


"Kamu itu ngeyel banget, tau tidak sih. Nanti sore kita itu ada tugas lagi, kita lanjut bikin kueh ulang tahun adik dari suaminya Aish. Bagaimana sih kamu ini, Sela? itu kerjaan tidak sulit sulit amat dah. Sudah deh, biar yang lainnya aja yang menyelesaikan kamu kerjakan itu."


"Ya ya ya Kak, eh ... tunggu tunggu."


"Apa lagi sih, Sela?"

__ADS_1


"Ulang tahun adiknya kak Rey? mereka kan kembar, kok cuman kak Zakka ya?" tanya Sela sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Mana aku tahu, Sela ... ah sudah lah, kamu istirahat dulu."


"Sela tidak mau istirahat, Kak. Nanti yang ada badan Sela semuanya terasa pegal, lebih baik kita lanjutkan lagi ngadonnya." Kata Sela yang tidak menyukai hal hal yang membuang buang waktu luang, pikirnya.


"Kamu itu ngeyelan, sudah dibilangin disuruh istirahat juga." Sahut Winda yang akhirnya mengikuti apakan dari Sela untuk melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai, maksud dari Sela yang sudah terbiasa lupa waktu ketika sudah bekerja.


"Kak Winda," panggil Sela sambil menakar bahan bahan untuk membuat kueh sesuai pesanan.


"Ada apa lagi, Sela?"


"Ngomong ngomong kalau boleh tahu, nanti yang ngantar pesanan ulang tahun kak Zakka, siapa ya Kak?" tanya Sela penasaran.


"Ya kamu lah Sel, siapa lagi? kak Winda tidak bisa. Soalnya daftar pesanan yang buat hari depannya belum kakak salin lagi alamat si pemesan." Jawab Winda beralasan.


"Yah, capek dobel dong." Kata Sela berkacak pinggang.


"Jangan begitu dong Sel, keluarga suaminya Aish sudah menolong ayah kamu. Jadi, ini kesempatan kamu untuk membuat keluarga suaminya Aish puas dengan hasil kerjamu." Kata Winda mengingatkannya, disaat itu juga Sela tertegun mendengarnya.


"Bukannya Sela tidak mau Kak, Sela hanya malu aja." Jawab Sela dengan lesu.


"Lihat saja nanti ya Kak, Sela sudah banyak merepotkan keluarganya kak Zakka. Kalau ada uang banyak pun, akan Sela lunasi berapapun banyaknya biaya dan bantuan yang lainnya." Kata Sela yang akhirnya memilih duduk sambil memegangi bahan yang akan membuat adonan kueh.


"Jangan sedih gitu dong, semua orang itu tidak ada yang ingin nasibnya kurang beruntung. Dari kekurangan kita, maka kita jadi tahu mana orang yang tulus dan yang tidak." Ucap Winda mengingatkan.


"Ya ya Kak, andai saja Sela ini anaknya orang kaya."


"Belum tentu juga kamu akan menjadi Sela yang kak Winda kenal, mungkin saja kamu akan menjadi Sela yang sombong dan angkuh." Kata Winda sambil mencari bahan bahan yang untuk dijadikan toping pada kueh.


"Benar juga yang dikatakan kak Winda, bisa jadi Sela jadi anak yang sombong. Jadi rindu Bunda, Kak Winda mah enak masih punya Bunda. Sela mah hanya gigit jari, bahkan nangis pun tak ada guna." Ucap Sela yang tiba tiba teringat sosok Ibu yang dirindukan.


"Kamu kan masih ada keluarga dari Ibu mu, kenapa kamu tidak mendatangi rumahnya saja. Siapa tahu ada obat kerinduan untuk kamu."


"Tidak akan mungkin kehadiran Sela diterima oleh keluarga Bunda, itu sangat mustahil Kak." Ucap Sela sambil tertunduk sedih.


"Itu kan dulu, Sel. Sekarang loh, kamu sudah besar dan tumbuh menjadi gadis cantik." Kata Winda membujuk.


"Omma sangat benci sama Papa, karena sebuah kecelakaan itu." Jawab Winda dengan sedih.


"Maaf ya Sel, jika kak Winda sudah membuat mu untuk mengingat masa lalu. Dari pada kamu kepikiran terus, bagaimana kalau kita lanjutkan tugas kita. Ini sudah jam dua loh, ayo Sel."

__ADS_1


"Ya, Kak." Jawab Sela setengah tidak bersemangat. Mau tidak mau, Sela harus segera menyelesaikan pekerjaannya.


Sedangkan di rumah yang tidak begitu besar seperti rumah utama milik keluarga Wilyam, Aish tengah sibuk berada di dapur ditemani salah satu asisten rumahnya.


"Maaf Nona, biar saya saja yang membuat kueh nya. Lebih baik Nona istirahat di kamar, karena sebentar lagi Tuan Muda akan segera pulang, Nona." Ucapnya yang tidak enak hati, dan tentunya juga takut terjadi sesuatu pada istri Tuan nya jika kecapekan dan keluhan yang lainnya.


"Mbak Eni mah kaya sama siapa aja, lagian juga cuman membuat kueh ulang tahun kok Mbak. Mendingan Mbak Eni beresin ruang tamunya saja, pastikan diatas meja tidak ada apa apa." Ucap Aish yang tetap bersikukuh atas pendapatnya itu.


"Baik, Nona." Jawab Mbak Yeni yang tidak bisa berbuat apa apa selain untuk nurut sama majikan perempuannya.


Dengan kesendiriannya di dapur, Aish sibuk dengan kegiatannya yang tengah membuat kueh untuk dijadikan kejutan di hari ulang tahun suaminya senditi. Tidak terasa juga Aish hampir selesai memberi toping pada kuehnya, senyum bahagia terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya yang manis itu.


"Akhirnya selesai juga, baru kali ini aku membuatkan kueh ulang tahun untuknya. Sebelumnya aku tidak pernah memberikan kejutan untuknya. Semoga saja dengan kejutan yang aku buat ini tidak akan mengecewakannya." Ucap Aish dengan lirih dan penuh harap.


Disaat itu juga, tiba tiba Aish teringat dengan sebuah pengakuan dari suaminya sendiri.


"Tidak, kenapa aku sampai lupa. Semoga saja suamiku tidak murka dengan apa yang aku lakukan ini." Gumam Aish dengan penuh kekhawatirannya.


"Permisi, Nona. Ruang tamu sudah dibereskan, Nona."


Hening, Aish masih diam. Mbak Eni yang memperhatikannya pun bingung dibuatnya. 'Ada apa dengan Nona, ya? perasaan tadi senyum bahagia.' Batinnya penuh penasaran.


"Nona," panggilnya yang kedua kali.


"Mbak Eni, ngagetin aja. Sudah diberesin ya, Mbak? kalau sudah, tolong bawakan kueh nya dan letakkan diatas meja ruang tamu. Jangan dibuka dulu, nunggu pemiliknya pulang." Kata Aish memberi pesan pada asisten rumah.


"Baik, Nona." Jawabnya, kemudian Mbak Eni membawa kuehnya sampai di ruang tamu. Setelah itu kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Aish segera kembali masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri sebelum suaminya pulang.


Sambil berjalan dengan kondisi perutnya yang semakin mbembesar, Aish mulai dikit dikit terasa gerah dan sulit untuk berjalan. Sampainya didalam kamar, Aish segera membersihkan diri.


Cukup lama berada didalam kamar mandi, akhirnya selesai juga. Cepat cepat ia segera mengganti pakaiannya dan berdandan ala kadarnya, setidaknya tetap terlihat cantik.


Aish masih fokus didepan cermin sambil menyisiri rambutnya yang panjang, tanpa disadari jika suaminya berada dibelakangnya.


Rey tidak menyia nyiakan kesempatan emasnya untuk menikmati aroma parfum yang disemprotkan oleh Aish di pakaiannya.


"Wangi sekali, ada apa ini? kamu sedang tidak menggodaku, 'kan?"


Seketika, Aish terkejut mendengarnya. Disaat itu juga, Aish langsung menoleh kebelakang dan membenarkan posisinya di hadapan sangat suami.


Aish tersenyum mengembang, tatapannya pun membuat seorang Rey semakin gemas. Tak lupa juga, Rey mencium kening milik istrinya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2