
Perasaan Aish semakin tidak karuan, lebih lebih tidak ada orang lain didalam kamar Hotel tersebut.
"Buruan mandi, nanti kamu sakit jika tidak segera mandi. Jangan memancing emosiku, bisa saja aku membawamu ke kamar mandi dan mengajakmu mandi bersama." Perintah Rry sedikit menakuti Aish.
Disaat itu juga, Aish mendadak tercengang mendengarnya. Kemudian ia menoleh ke arah Rey yang tengah melepaskan pakaiannya sari persatu tanpa ragu dan malu.
"Aku tidak mempunyai baju ganti, dan aku tidak mempunyai kerudung." Jawab Aish sambil menahan dinginnya karena guyuran air hujan yang cukup deras.
"Itu ada handuk yang cukup untuk dijadikan baju sementara, apa kamu ingin tetap dengan penampilan kamu yang mengenakan baju basah dan kerudung mu ini yang juga ikutan basah? hah." Kata Rey sambil memegangi baju yang dikenakan Aish, serta khimar yang ia kenakan.
"Kita bukan mukhrim, jadi ... aku tidak berani untuk melepas kerudungku." Kata tanpa sadar.
Seketika Rey tidak segan segan untuk menc*ium bibir milik Aish, karena ia semakin geram dengan perempuan yang ada dihadapannya itu.
Disaat itu juga, Aish mendadak tercengang. Bahkan sekujur tubuhnya serasa mendapatkan sengatan listrik yang cukup kuat.
"Apa seperti ini yang akan kamu bilang jika kita adalah mukhrim? hah."
Aish langsung mengepalkan kedua tangannya yang cukup kuat, ingin menampar lelaki yang ada dihadapannya itu, namun ia sadar statusnya. Meski hanya sebuah syarat, namun Aish sendiri tidak berani untuk mempermainkan sebuah kalimat sakral.
Terasa gondok, namun ia tidak kuasa untuk berteriak sekencang mungkin. Rey yang tidak ingin masalah menjadi panjang, ia memilih untuk menghindar.
"Cepetan mandi, nanti keburu badan kamu menggigil. Tenang, aku tidak akan mengulanginya lagi jika kamu tidak memulainya. Jika kamu memancing ku, maka aku bisa melakukan yang lebih dari tadi." Ancam Rey sambil melepaskan sepatunya, kemudian ia segera mengenakan handuk untuk menghindari rasa dingin akibat semua pakaiannya yang basah kuyup karena derasnya hujan.
__ADS_1
Sedangkan Aish masih menatap dinding dengan perasaan bingung, dunianya seakan sulit untuk ia pahami. Terasa begitu rumit dan juga sangat membuatnya pusing.
Dengan terpaksa, ia segera masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya yang hanya mengenakan handuk kimono. Perasaan nya semakin tidak karuan, seumur hidupnya baru pertama kali ia harus menunjukkan bagian auratnya didepan laki laki. Meski sudah dikatakan suami istri, namun Aish tidak begitu menganggapnya sebuah hubungan yang serius.
Masih didalam kamar mandi, Aish kebingungan ketika dirinya tersadar jika dirinya tengah datang bulan.
"Bagaimana ini? mana aku masih datang bulan, lagi. Apa yang harus aku lakukan? masa iya, aku memintanya untuk membeli pakaian dalam dan pem*balut. Yang benar saja, mana ada toko pakaian dalam.
Karena tidak mempunyai pilihan, dengan terpaksa Aish meminta tolong pada Rey.
"Tolong aku, tolong." Suara meminta tolong pun tengah menyadarkan Rey yang tengah sibuk dengan benda pipihnya. Segera ia mendekatlah sumber suara yang tidak lain kamar mandi.
"Ada apa?" sambil menempelkan daun telinganya, Rey mencoba untuk mendengarkannya. Sedangkan Aish mencoba untuk membuka pintunya sedikit.
Seketika, Rey membelalakan kedua bola matanya ketika mendengar Aish meminta pakaian dalam sekaligus pemb*alutnya.
"Baik lah, tunggu sebentar. Aku akan cari bantuan, sabar." Sahut Rey, kemudian ia segera memesan sesuai permintaan Aish dan juga sekaligus untuk dirinya, yakni pakaian dalam untuknya juga.
Tidak menunggu lama, pesanannya pun datang. Setelah itu Rey segera memberikannya langsung pada Aish.
"Buka pintunya," perintah Rey. Dengan perasaan gugup, Aish membuka pintunya tidak begitu lebar. Hanya cukup barang yang ia pesan dan masuk lewat rongga pintu tersebut.
Setelah mendapatkan apa yang ia pesan, akhirnya Aish dapat bernapas lega. Kemudian ia langsung mengunci pintu kamar mandinya.
__ADS_1
"Untung saja ada cadangan, kalau tidak, entah bagaimana nasibku ini. Bisa saja, aku berada didalam kamar mandi hingga subuh nanti." Gumam Aish, kemudian ia segera memakainya.
Setelah semua tidak ada yang kurang, tiba tiba Aish masih merasa takut dan juga canggung, yang mana dirinya harus satu kamar dengan seorang laki laki. Detak jantung nya pun berdegup sangat kencang, bahkan tubuhnya pun terasa gemetaran.
Aish yang hendak keluar dari kamar mandi merasa bingung dengan kondisi rambutnya yang terurai dan juga basah. Pandangannya pun tidak tahu harus mengarah kemana, Aish masih mencoba untuk menenangkan pikirannya itu.
Sedangkan Rey tengah bersandar diatas tempat tidur sambil menyibukkan diri dengan benda pipihnya. Aish yang baru saja keluar dari kamar mandi pun, sekujur tubuhnya mendadak terasa kaku.
Rasa takut, gelisah, bingung, kini telah menjadi satu. Ingin melangkah, namun langkah kakinya begitu berat.
"Mau sampai kapan kamu akan terus berdiri di situ? hah." Rey yang mendapati Aish tengah berdiri pun, ia langsung memergokinya.
Aish semakin bingung dan juga salah tingkah, pastinya. 'Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?' batin Aish dengan wajahnya yang mendadak pucat karena rasa malu, takut, gelisah, was was, serta gugup menjadi satu.
"Sini, kemarilah. Sudah malam, ayo buruan tidur. Diluar masih hujan deras, anginnya pun masih kencang. Tidak perlu kamu memikirkan untuk pulang, yang pasti kita gagal untuk pulang malam ini juga." Kata Rey yang diam diam memperhatikan Aish dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya yang tidak beralaskan.
Tidak dapat dipungkiri, Rey lelaki normal. Dirinya pun tergoda dengan penampilan istrinya yang cukup mengganggu pikirannya itu. Namun Rey sadar, jika diantara dirinya dan Aish hanya pernikahan bersyarat. Ditambah lagi dengan keadaan Aish yang tengah mendapati bulanan, Rey tidak bisa membayangkannya lebih.
"Jangan khawatir, aku tidak akan berbuat macam macam denganmu. Lagian juga siapa yang mau meminta hak, kamu sendiri masih datang bulan. Bonus buat kamu, aku tidak akan meminta nya." Ucap Rey dengan santai, sedangkan Aish sendiri pun tersadar jika dirinya masih datang bulan.
'Ah iya, untung saja aku masih datang bulan. Aku masih dapat menyelamatkan kehormatanmu, aku tidak akan menyerahkan kehormatan ku ini pada seseorang yang tidak tulus mencintaiku, sekalipun itu suami. Tapi ... aku pasti akan berdosa jika aku menolaknya Semoga saja, aku akan tetap terjaga hingga hatiku benar benar ikhlas.' Batin Aish yang mengarah entah kemana mana.
Dengan ragu dan terpaksa, Aish berjalan menuju tempat tidur dengan perasaan nya yang tidak karuan.
__ADS_1
Ketika sudah berada di sebelah Rey, Aish mencoba untuk menenangkan pikirannya agar tidak semakin gugup. Berharap, tidak akan drama dimalam hari itu juga.