
Setelah meminta maaf, Ibu Melin hanya tersenyum. Karena alasan kedua belah pihak sama sama tidak ada yang berbeda, Ibu Melin akhirnya mempercayai apa yang dikatakan Yunda maupun Aish keponakannya.
"Iya, Aish sudah sudah pulang dan juga sudah menceritakan semuanya. Kalau ingin bertemu dengan Aish, ayo kalian bertiga masuk. Kebetulan orang yang mengantarkan Aish, orang nya belum pulang."
Yunda akhirnya menoleh kearah Yahya dan juga Afwan, ketiganya saling menatap secara bergantian. Karena rasa penasaran, akhirnya Yahya dan Afwan mengangguk.
"Iya Bu, kita mau menemui Aish sebentar." Ucap Yunda mewakilkan kedua temannya, setelah itu ketiganya segera masuk kedalam rumah.
Dilihatnya seseorang yang tidak begitu asing oleh Yahya dan kedua temannya yang melihat seorang cowok tengah duduk dengan tenang.
"Silahkan duduk, Ibu mau panggilkan Aish dulu." Ucap Ibu Melin mempersilahkan duduk kepada ketiga temannya Aish, yakni Yahya dan kedua temannya akhirnya ikut duduk bersama Rey.
Diantaranya tidak ada satupun yang membuka suara, ke empatnya sama sama diamnya dan pandangannya ke sembarang arah.
"Yunda ..." panggil Aish sambil berjalan mendekati ke empat temannya.
Disaat itu juga ke ok di .
Aish yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. "Aku tidak mempunyai hak atas semua itu, dan itu masih hak kamu untuk memilih. Lagian juga perjalanan yang harus ditempuh itu masih panjang, aku sendiri tidak tahu tentang diriku setelah ini." Jawab Aish berusaha menghindari pembahasan yang membuatnya malas untuk berpikir.
"Aku pamit pulang, aku rasa sudah cukup untuk mengantarkan kamu sampai di rumah. Ingat, pesanku yang sudah aku sampaikan padamu." Ucap Rey berpamitan tepat didepan Aish sambil mengingatkan akan hal yang sudah dibicarakan nya di perjalanan. Aish hanya mengangguk, "hati hati di jalan." Kata Aish yang terucap dengan reflek, Rey pun mengangguk dan pergi tanpa berpamitan dengan yang lainnya.
__ADS_1
Yahya yang mendengarnya pun merasa curiga terhadap Aish, apalagi seorang Rey memberinya sebuah pesan untuk Aish. Rasa cemburu itu pasti ada, namun tidak dibuatnya arogan.
"Loh, nak Rey dimana? sudah pulang?" tanya Ibu Melin sambil membawakan teh hangat untuk ketiga temannya Aish.
"Iya Tante, Rey sudah pulang." Sahut Aish.
"Oooh ya sudah. Oh iya, ini Ibu buatkan teh hangat untuk kalian bertiga. Mari, diminum. Karena sudah malam dan juga sudah ngantuk, Ibu pamit istirahat. Oh iya Aish, jangan lupa nanti kalau mau tidur pintunya di kunci." Ucap Ibu Melin berpamitan, keempatnya pun menjawabnya dengan serempak.
"Yun, Afwan, kalian bisa tidak untuk pindah tempat kursi di pojok sana. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Aish, soalnya besok aku harus berangkat. Tidak apa apa, 'kan? hanya sebentar." Pinta Yahya penuh harap, Yunda dan Afwan pun mengangguk dan menuruti permintaan Yahya.
Sedangkan Aish sendiri mulai merasa tidak tenang, apalagi menyangkut perasaan. Setelah Yunda dan Afwan pindah tempat, kini hanyalah ada Aish dan Yahya yang masih tidak pindah posisi. Dengan berani dan tekad yang sudah bulat, Yahya memberanikan diri untuk berbicara pada Aish.
"Aish, apakah kamu masih marah denganku?" tanya Yahya membuka suara. Aish masih menunduk, dirinya bingung untuk berkata. Marah? tidak bagi Aish, hanya merasa terabaikan, pikirnya.
"Yakin?" tanya Yahya mengulangi pertanyaannya lagi.
"Serius, bukankah aku sudah mengatakannya padamu. Jika aku tidak marah dengan mu, soal di Mall itu memang kesalahanku yang lupa jalan untuk kembali ketempat yang semula. Soal perempuan yang bertemu denganmu itu, aku tidak mempermasalahkannya. Lagian juga kita hanya teman, kita tidak mempunyai hubungan apapun. Hanya bertahan dan menunggu, 'kan? sudah lah jangan memperkeruh suasana. Aku baik baik saja dan tidak ada yang perlu kita selesaikan." Jawab Aish dengan detail, ia sendiri mulai bingung akan perasaannya.
'Benar kata Papa, lebih baik aku fokus dengan masa depanku. Seperti ini lah jadinya jika aku menyukai seseorang, ketika dia bersama dengan perempuan lain akan terasa menyakitkan.' Batin Aish yang teringat akan nasehat nasehat bijak dari orang tuanya.
"Bagaimana kalau kita nikah siri?"
__ADS_1
Seketika Aish membelalakan kedua bola matanya, ia benar benar tidak menyangka jika Yahya seberani itu berbicara mengenai sebuah pernikahan siri.
"Hanya itu jalan satu satunya, Aish. Agar kita saling terikat dan tidak ada penghalang untuk kita, dan aku bisa tenang untuk meninggalkan kamu. Dan aku akan fokus dengan pendidikan ku, setelah selesai mengenyam pendidikanmu di luar Negri aku akan segera pulang dan menikahimu secara hukum." Ucap Yahya yang sudah tidak mempunyai pilihan lain.
Aish hanya berdiam membisu, otaknya begitu sulit untuk mencerna dengan apa yang ia dengar dari Yahya.
"Jika kamu menyetujuinya, aku akan segera mengurusnya malam ini juga. Jadi sebelum aku berangkat, paginya kita menikah." Ucap Yahya yang terus membujuknya, Aish mendadak pusing untuk memikirkan sabuah pilihan.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku harus memikirkannya berulang ulang, dan sepertinya aku harus menyelesaikan pendidikan ku sesuai pesan dari orang tuaku. Karena waktuku masih panjang untuk mengejar cita citaku, sial menikah harus dipikirkan lagi sebelum jauh melangkah. Aku sadar, aku bukan dari kalangan orang terhormat seperti keluargamu. Aku hanya anak yatim piatu yang penuh harap tentang kesuksekan dalam segi hal apapun yang menyangkut hal yang positif dan sifatnya yang membangunkan semangat." Sahut Aish menjelaskan panjang lebar, Yahya yang mendapat penolakan dari Aish hanya bisa menerimanya dengan pasrah.
"Kalau memang itu pilihan kamu, aku sendiri tidak akan mencegahnya. Yang jelas, aku akan selalu menunggumu sesuai janjiku. Kalau boleh tahu, laki laki tadi memberimu sebuah pesan apa?"
Yahya yang merasa curiga, ia mencoba untuk memberanikan diri bertanya langsung pada Aish.
"Em ... tidak ada apa apa, hanya soal melanjutkan kuliah saja. Memangnya ada apa? kamu curiga?"
"Wajar dong jika aku curiga dengannya, karena setelah aku perhatikan, sepertinya lelaki tadi menyukaimu."
"Itu kan perasaan kamu saja, sama seperti penilaianku terhadap perempuan yang menyapa kamu tadi di Mall. Aku merasa jika jika perempuan itu juga menyukai kamu, terlihat dia menyapa kamu dengan cara sikapnya." Ucap Aish yang juga ikut berkomentar seperti Yahya.
"Tadi itu Maulaya, dia satu pesantren denganku. Kalau soal tempat jelas beda dan jaraknya pun jauh, hanya saja orang tuaku berteman dengan orang tuanya." Kata Yahya menjelaskannya pada Aish.
__ADS_1
Disaat itu juga, tebakan Aish semakin jelas dan tidak salah untuk menebaknya.
'Aku yakin jika perempuan yang bernama Maulaya pasti akan di jodohkan dengan Yahya, itu jelas. Mana ada yang mau menikahiku dengan cuma cuma, mustahil bagiku.' Batin Aish yang merasa berkecil hati.