Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Masih di rumah sakit.


__ADS_3

Usai menyelesaikan permasalahan Pak Soni, Tuan Ganan mengajak Beliau dan juga putranya untuk pergi ke rumah sakit. Yakni untuk melihat kondisi Ibu Melin yang katanya dalam keadaan kritis. Semaksimal mungkin, Tuan Ganan memberikan pertolongan pada Ibu Melin sebaik mungkin.


Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, Rey memilih untuk bersandar pada jendela kaca. Ia terus berdoa untuk keselamatan Ibu mertuanya, yang dimana Beliau tengah berbaring lemas di rumah sakit.


'Kenapa tiba tiba aku merasa takut, Bagaimana ini? kalau istriku tidak mau menerima Pak Soni, bagaimana? kasihan sekali Beliau. Peraannya pasti akan sakit sekali, jika putrinya tidak mau menerima kehadiran orang tua kandungnya. Terlebih lagi Ibu Melin, semoga saja semuanya akan baik baik saja.' Batin Rey dengan penuh kekhawatiran. Ditambah lagi dengan kondisi istrinya yang tengah hamil, membuat Rey semakin takut jika kondisi kesehatan istrinya semakin turun.


Sedangkan di luaran sana ada Zakka yang merasa bosan di dalam rumah, akhirnya ia memilih untuk menyegarkan mata dengan cara keluar rumah.


"Zakka, kamu mau kemana Nak?" tanya sang Ibu yang tiba tiba saja memergoki putranya yang sudah terlihat rapi dengan penampilan barunya.


"Mau keluar sebentar Ma, tidak lama lama kok. Palingan juga nyuci mata, biar segeran dikit." Kata Zakka sambil mengenakan jam tangannya.


"Boleh, jangan lama lama. Oh ya, Mama boleh meminta tolong sama kamu, tidak? titipan."


"Memangnya Mama mau nitip apa, makanan di Resto?"


"Bukan, Mama penasaran. Tiba tiba Mama teringat sama omongan Kakek. Kata Kakek kamu kalau istrinya Kakak kamu itu punya Toko kueh, apakah itu benar? jawab dengan jujur ya ...."


"Ya Ma, Aish punya Toko kueh. Semua kueh nya hasil resepnya sendiri, memangnya ada apa sih Ma? kok Mama tanya segala."


"Hem, tentu saja Mama ingin mencobanya. Bisa tidak, jika kamu belikan kueh buatan istri kakak kamu untuk Mama. Tenang ... kata Kakek kamu, istrinya Kakak kamu sudah tidak tinggal di Toko kueh." Kata sang Ibu, Zakka menarik napasnya dalam dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Bukankah Mama bisa membuat kueh sendiri?terus, kenapa mesti harus beli sih, Ma ...."


"Tetap aja Mama penasaran, buruan berangkat." Perintah ibunya, Zakka mengangguk pasrah.


"Ya ya deh, Zakka akan menuruti Mama. Kalau begitu, Zakka pamit untuk keluar." Ucap Zakka yang menyerah atas permintaan ibunya sendiri.

__ADS_1


Karena sudah tidak sabar untuk mencari pemandangan yang dapat menghibur diri, akhirnya Zakka mempunyai ide sendiri.


"Ke Toko kueh lagi, ke Toko kueh lagi. Pasti ketemu anak bawel itu lagi, hem." Gumam Zakka sambil fokus dengan setir mobilnya.


Karena belum berniat untuk membeli kueh, Zakka menepikan mobilnya dipinggiran Danau kecil. "Kelihatannya nyaman juga tempatnya, boleh lah jika dicoba." Gumam Zakka, kemudian ia segera turun dari mobilnya.


"Andai saja, tinggal andai tak tersampaikan." Gumamnya lagi, kemudian ia duduk di dibangku tanpa adanya seseorang disampingnya.


"Aish, Aish, cintaku yang tulus saja tak nampak sama penglihatanmu. Sungguh, aku telah dibutakan oleh cinta yang tak terbalaskan." Lagi lagi Zakka terus bergumam.


"Zakka!"


"Kamu Yun, ngapain kamu ada disini? tidak kerja, kamu? hem."


"Kerjaku sedang diliburkan selama satu minggu, jadi aku masih mempunyai kesempatan untuk menikmati hari liburku."


"Sejak aku berterus terang untuk meminta izin sama saudara kembar mu, si Nona Neyla." Kata Yunda dengan senyum yang lebar.


"Zakka, kenapa kamu ada di Danau ini? sedang tidak prustasi, 'kan?"


"Afwan, sialan kamu ini. Ngagetin aja, kamu. Yang jelas ya tidak lah, ngapain aku harus prustasi. Aku sudah merelakannya bersama Kak Rey, aku tidak akan merebutnya." Sahut Zakka, kemudian menyambar minuman yang ada ditangan Afwan.


"Syukur lah, aku kira kamu masih belum bisa menerimanya. Aku doakan kamu, semoga kamu segera dipertemukan dengan jodoh mu."


"Terima kasih banyak sudah menyemangati ku, kalian berdua sengaja janjian atau bagaimana? kok bisa bisanya tidak masuk Kantor bersamaan begini."


"Ah ya, hampir saja kita berdua lupa. Sebenarnya aku dan Yunda mau melangsungkan pernikahan dihari depannya, sekarang ini kita berdua baru saja pulang dari Kantor untuk meminta izin. Dan akhirnya kita berdua diberi izin satu minggu, begitu cerita sebenarnya."

__ADS_1


"Jadi, kalian berdua ini mau menikah? yang benar saja. Terus ... aku yang masih jomblo sendirian, begitu? oh! benar benar malang nih nasibku ini."


"Jangan ngomong begitu, tidak baik ah. Aku yakin jika sebentar lagi kamu akan menyusulnya, tinggal kamunya sabar atau tidak. Oh ya, jangan lupa datang ya. Aku juga sudah memberikan kabar untuk Aish dan suaminya, aku memintanya untuk datang." Ucap Yunda, Zakka menganggukan kepalanya.


"Ya ya ya ya, terima kasih atas doanya. Aku usahakan untuk datang di acara pernikahan kalian berdua, tapi aku tidak janji." Kata Zakka.


"Kita tunggu kedatangan mu, ok."


"Siap, kalau begitu aku pamit pulang ya. Soalnya ada pesanan dari Ibuku, aku harus menepatinya." Ucap Zakka berpamitan, Yunda dan Afwan mengangguk.


"Hati hati dijalan, jangan kebut kebutan." Kata Afwan, Zakka membalasnya dengan tersenyum dan segera pergi untuk menghindari obrolan yang bisa saja membicarakan perempuan yang sedang ia lupakan dengan susah payah.


Sedangkan di rumah sakit, Tuan Ganan bersama Pak Soni dan putranya telah berada didepan ruang rawat milik pasien bernama Ibu Melin. Ada dua penjaga kepercayaan Tuan Ganan yang sedang menunggu didepan pintu, takut jika ada orang yang masuk tanpa sepengetahuan.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Tuan Ganan.


"Kata perawatnya, sedari tadi Ibu Melin memanggil nama Nona Aishwa. Yakni istri dari Tuan Muda Rey, Tuan." Jawabnya.


Pak Soni yang sudah tidak sabar ingin bertemu mantan istrinya. Rasanya Beliau ingin secepatnya untuk mengetahui kondisinya. Namun mau bagaimana lagi, Pak Soni hanya bisa nurut dengan prosedur rumah sakit.


"Rey, pulang lah. Bicarakan baik baik pada istri kamu, jelaskan dengan pelan. Setelah itu, ajak lah istri kamu untuk datang ke rumah sakit. Ingat, jangan gegabah ketika menyampaikan kabar sedih untuk istri kamu. Karena ada janin di dalam kandungannya, ingat itu." Perintah Tuan Ganan pada putranya untuk mengingatkan, Rey pun mengangguk mengerti.


"Ya, Pa. Kalau begitu Rey pamit pulang, dan Rey minta sama Papa untuk tetap berada disini bersama Pak Soni." Jawab Rey, kemudian ia juga memberi pesan untuk ayahnya.


"Tentu saja, Papa akan tetap berada di rumah sakit untuk menemani Pak Soni. Sekarang, berangkat lah."


"Baik, Pa." Ucap Rey, kemudian ia segera pulang untuk menjemput istrinya. Sedangkan Tuan Ganan dan Pak Soni masih berada di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2