
"Di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tante Melin, boleh kah Beliau ikut masuk?"
"Siapa orangnya, Nak?" Ibu Melin tanya kembali karena rasa penasarannya. Rey sendiri merasa bingung, berkata jujur atau berbohong. Rey masih diam, ia berpikir sejenak.
"Nak Rey, kok diam." Ibu Melin mengagetkan alumanan Rey yang tertuju pada Pak Soni, yakni mantan istri Ibu Melin sendiri.
"Em ... Pak Soni dari kampung sebrang, Tante." Terpaksa Rey berkata jujur, ia tidak mau berbohong yang kedua kalinya didepan sang istri.
Seketika, Ibu melin terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa, ia harus bertemu dengan mantan suaminya dengan keadaan terbaring lemah diatas ranjang pasien. Sejenak Ibu Melin terdiam, seakan terasa mimpi jika harus dipertemukan kembali dengan mantan suami dan putrinya.
"Tante kok ikutan diam," hanya perkataan itu lah yang bisa Rey ucapkan. Bukan niat untuk membalikkan kosa kata, tapi memang begitulah kenyataannya. Disaat itu juga, Aish menyimpan rasa penasaran pada sosok lelaki paruh baya yang duduk bersanding dengan ayah mertuanya.
'Bapak tadi siapanya Tante Melin, ya? perasaan aku belum pernah bertemu dengan Beliau. Apakah keluarganya Tante Melin? tapi ... sepertinya bukan.' Batin Aish menyimpan rasa penasaran.
"Tidak apa apa, suruh masuk saja." Ucap Ibu Melin disertai anggukan, Rey pun membalasnya dengan anggukan dan juga mengiyakan.
"Kalau begitu Rey panggil sebentar ya, Tante." Kata Rey dengan santun.
"Ya, silahkan." Jawab Ibu Melin dengan anggukan, kemudian sepasang matanya tertuju pada Aish yang tengah melamunkan sesuatu dalam pikirannya.
Setelah mendapatkan izin dari Ibu Melin, Rey segera keluar untuk memanggil Pak Soni.
"Pak Soni," panggil Rey yang sudah berada di dekat Beliau.
__ADS_1
"Ada apa Nak? bagaimana keadaannya?" tanya Pak Soni dengan khawatir. Takut, jika kedatangannya akan memporak porandakan suasana hati mantan istrinya.
"Pak Soni dipersilahkan untuk masuk kedalam, mantan istri Bapak sudah mengizinkannya. Rey sudah berkata jujur jika Bapak datang ke rumah sakit, dan Tante Melin mengizinkannya." Jawab Rey dengan santun.
"Masuk lah Son, didalam ada putrimu dan juga ada mantan istrimu. Mungkin sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah kalian bertiga, setidaknya berhentilah untuk membohongi putrimu. Bagaimana pun, putrimu berhak mengetahui kebenarannya. Jangan sampai terlalu lama kamu menyimpan rahasia, dan terlalu sakit pada putrimu merasa dibohongi dan juga disakiti." Ucap Tuan Ganan ikut menimpali, serta memberinya nasehat kecil untuk mengingatkannya.
Pak Soni yang mendengarnya pun terasa tersentil hatinya, dan juga tidak ingin menjadi besar permasalahannya. Secepat mungkin, Pak Soni ingin mengakhiri kebohongannya. Sebisa mungkin Beliau berkata jujur itu jauh lebih baik daripada harus berbohong terus menerus.
Bukan diri sendiri yang tersisa, tetapi yang lainnya pun ikut merasakannya. Apa lagi ada seorang anak perempuan yang sudah tumbuh dewasa dan juga telah memiliki seorang suami. Tidak layak untuk berbohong terus menerus, apapun itu harus bisa menjadi orang yang bertanggung jawab.
"Baik lah, aku akan menemuinya. Bos Ganan, kamu adalah ayah mertua dari putriku, mari ikut saya masuk." Ucap Pak Soni, Tuan Ganan menggelengkan kepalanya. Justru Beliau memberikan seutas senyuman pada besannya itu.
"Masuk lah, sudah waktunya kalian bertiga untuk kumpul kembali lagi. Aku yakin jika mantan istrimu itu masih mempunyai harapan untuk kembali dengan mu lagi, aku yakin itu. Percayalah padaku, kalian bertiga orang orang yang tulus dan mampu menghadapi masalah kalian dengan bijak." Kata Tuan Ganan dengan seutas senyumnya.
Pak Soni tidak mampu untuk berkata apa apa lagi, dari dulu Beliau tidak pernah melihat perubahan pada sosok Tuan Ganan. Selalu adem jika berada didekatnya dan dengan obrolan yang santun dan juga terkadang menghiburnya.
"Disini saja bersama Papa, istrimu tidak dengan siapa siapa. Istrimu bersama kedua orang tuanya, biarkan mereka bertiga menyelesaikan masalahnya. Papa yakin jika ayah mertuamu mampu menyelesaikan masalahnya, percayalah sama Papa." Ucap Tuan Ganan pada putranya, Rey mengangguk dan mengiyakan.
"Yang dikatakan Papa nya Rey ada benarnya, lebih baik Rey menunggunya di luar saja. Karena ini adalah momen yang terbaik untuk Bapak dan juga dengan mantan istri Bapak dan putri Bapak sendiri. Rey akan masuk kedalam jika ada sesuatu yang dibutuhkan." Kata Rey pada ayah mertuanya, Beliau mengangguk dan akhirnya masuk ruangan pasien mantan istrinya sendirian.
Perasaannya bercampuraduk tidak karuan, seumur hidupnya baru pertama kalinya berada dalam ruangan bersama mantan istrinya dan juga putri semata wayangnya.
Berdegup sangat kencang, itulah yang dirasakan oleh pak Soni dengan detak jantungnya yang kian bergemuruh. Doa, pak Soni tidak henti hentinya berdoa ketika hendak membuka gagang pintunya. Semakin kencang dengan hebat, lagi lagi detak jantungnya berdegup tidak karuan dan seakan sulit untuk diajaknya kompromi.
__ADS_1
Pelan pelan pak Soni membuka pintunya. "Bismillah, " kata Beliau.
Detak jantungnya masih sama berdetak sangat kencang, bahkan tidak jauh beda dengan lari dalam kecepatan lari kencang.
Seketika, Pak Soni dan Ibu Melin saling menatap satu sama lain dengan jarak yang tidak begitu dekat. Pak Soni masih berdiri diambang pintu, namun pandangannya tertuju pada mantan istrinya yang terbaring lemah diatas ranjang pasien.
Aish menatapnya bingung, ia tidak mengerti kondisi yang sebenarnya. Bahkan ia tidak mendapatkan sosok suaminya ikut masuk.
'Ada apa ini? kenapa suamiku tidak ikut masuk?' batin Aish dengan berbagai pertanyaan yang ada di benaknya.
Ingin rasanya bertanya, namun Aish tidak mampu untuk bertanya karena usianya yang terbilang masih muda diantara Ibu Melin dan juga Pak Soni.
Pak Soni menutup pintunya, kemudian Beliau berjalan mendekat ke sisi ranjang Pasien. Ibu Melin menatapnya dengan perasaan campur aduk, untuk marah dan berteriak itu semua tidak mungkin untuk dilakukan didepan Aish yang tengah hamil muda. Mau bagaimana pun, kesehatan Aish jauh lebih penting dari pada berteriak tidak jelas.
"Melin, apa kabar mu? maafkan aku yang datang terlambat." Tanya Pak Soni membuka obrolan, Ibu Melin tersenyum walaupun senyumannya itu sangat tipis. Aish dapat menangkapnya, dan tentu ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang kebenarannya.
"Kabar aku seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja." Jawab Ibu Melin yang belum menggeser pandangannya.
"Kamu bilang baik baik saja? kamu tidak pernah berubah, masih saja seperti yang dulu."
Seketika, Aish terkejut mendengarnya. Ucapan yang begitu dekat antara Ibu Melin dan Pak Soni, pikir Aish dalam tebakannya.
"Pintar sekali kamu ini, bisa menebakku sejauh ini. Jangan banyak basa basi, katakan padaku, ada perlu apa kamu menemuiku? katakan saja pada pokok intinya." Jawab Ibu Melin dengan tatapan penuh tanda tanya pada mantan suaminya sendiri.
__ADS_1
Maafkan otor ya readers setia ... update nya tidak tepat waktu, dikarenakan ada perubahan musim ditempat otor, dan membuat kesehata otor menurun. Tapi tetap kok, otor usahakan untuk tetap update walaupun dengan waktu yang tidak tepat waktu seperti biasanya.
Salam bahagia untuk readers setia ... jangan lupa untuk dijaga kesehatannya ya ... kesehatan itu jauh lebih penting dari apapun. Tetap semangat, ok. 😘😘😘😊