Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Sebuah pesan dan doa


__ADS_3

Ibu Melin tersenyum mendengarnya, begitu juga dengan Aish yang akhirnya ikutan tersenyum pada Beliau.


"Tante tidak akan melarang mu, Nak. Kalian berdua itu sudah sah menjadi suami istri, tidak ada hubungannya lagi dengan Tante soal kamu mengenai rumah tanggamu. Jadi mulai sekarang pun Tante sudah tidak mempunyai hak apapun atas kamu, Nak. Tante hanya bisa memberikan sebuah doa untuk kalia berdua, maafkan Tante yang sudah mengurangi kebahagiaan kamu ini." Ucap Ibu Melin yang merasa tidak enak hati.


"Tante," panggil Aish dan memeluk Beliau. Ibu Melin memeluknya dengan erat, lalu mengusap punggung milik keponakannya.


"Maafkan Aish, Tante. Jika selama ini Aish belum bisa membahagiakan Tante, maafkan Aish. Aish tidak bisa berkata apa apa selain mengucapkan terima kasih banyak dan meminta maaf. Aish sayang Tante sampai kapanpun, karena Tante lah pengganti orang tua Aish." Ucap Aish, tidak terasa ia menitikan air matanya.


Karena tidak ingin terbawa kesedihan, Ibu Melin melepaskan pelukannya. Kemudian menghapus air mata yang sudah membasahi kedua pipi milik Aish.


"Kak Aish," panggil Sela mengagetkan.


"Ya, ada apa?" sahut Rey mewakili istrinya.


"Pesanan nya sudah datang dari pihak Restoran, Kak." Jawabnya.


"Oooh, sudah datang. Ya sudah kalau begitu, kamu ajak semuanya untuk makan bersama ya. Nanti kakak akan menyusul." Kata Aish langsing menimpali.

__ADS_1


"Baik Kak, kalau begitu Sela duluan ya Kak." Ucap Sela, Aish pun mengangguk.


"Tante, Aish mau mengajak Tante makan bersama di Toko ini. Tante jangan menolak, ya? hari ini saja." Kata Aish sambil memegangi tangan Ibu Melin penuh harap. Beliau yang tidak bisa melakukan penolakan, akhirnya menerima permintaan keponakannya dengan jawaban anggukan. Aish tersenyum mengembang saat permintaannya tidak tertolak oleh Tantenya.


Karena tidak ingin ditunggu lama lama oleh karyawan lainnya, Aish mengajak suami dan Tantenya untuk ikut makan bersama di Toko kueh nya.


Saat duduk berkumpul bersama dalam satu ruangan, semua dapat bersenda gurau tanpa rasa canggung sedikitpun. Bahkan dengan Bos nya sendiri sekalipun, semua menganggap seperi saudara sendiri.


Cukup lama saat menikmati makan bersama dalam satu ruangan, tidak terasa sudah waktunya untuk pulang. Ibu Melin yang sudah lepas tangan mengenai keponakannya itu, perasaan Beliau serasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Namun mau bagaimana lagi, roda kehidupan tidak melulu berjalan disatu tempat. Mau tidak mau, semua harus dilewatinya.


Ibu Melin yang hendak mau pamit dengan keponakannya, Beliau mengajak Aish disudut ruangan yang cukup sepi. Sedangkan Rey menunggunya tidak jauh dari pandangan istrinya. Mau bagaimana pun, Rey tidak ingin hubungan istrinya dengan Ibu Melin menjadi renggang. Rey sudah menganggap Beliau Ibu mertuanya.


"Aish, Tante pulang ya. Jaga diri kamu baik baik bersama suami kamu, jadilah istri yang penurut dan tidak membangkang pada suami. Apapun kekurangan suami kamu, Tante berharap kamu bisa menjadi pelengkap hidupnya. Jangan sampai kekurangan suami kamu itu, kamu jadikan tolak ukur atas perasaanmu. Tante hanya bisa berdoa, semoga kamu selalu bahagia bersama pasanganmu. Tante sangat menyayangimu, kamu lah kebanggan Tante selama ini." Ucap Ibu Melin sambil menatap lekat pada Aish.


"Terima kasih banyak ya, Tante. Selama ini Tante sudah memberikan perhatian lebih pada Aish. Maafkan Aish yang sering merepotkan Tante, Aish benar benar sangat beruntung mempunyai Tante Melin. Aish berjanji, Aish akan berusaha sebaik mungkin seperti apa yang Tante harapkan. Maafkan Aish yang belum bisa membahagiakan Tante, semoga Tante selalu diberi kesehatan dan kemurahan rizki. Aish juga sayang Tante, karena Tante lah Ibu penyambung Aish." Kata Aish, kemudian mencium kedua pipi Ibu Melin.


Karena waktu hampir malam, semua karyawan sudah tidak ada lagi di dalam Toko. Ibu Melin menggandeng tangan Aish mendekati Rey yang masih berdiri ditempat yang semula dengan jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


"Nak Rey, Tante titipkan Aish sama kamu ya, Nak. Tante percayakan semuanya sama kamu, bahwa Aish akan berbahagia bersama mu. Semoga langgeng hubungan pernikahan kalian berdua, dan semoga segera diberikan momongan seperti yang diharapkan oleh setiap pasangan pengantin." Ucap Ibu Melin menyerahkan Aish pada suaminya. Meski berat, Ibu Melin berusaha untuk ikhlas dan lapang menerima kenyataannya.


Aish bukan lagi anak kecil lagi, Aish berhak bahagia dan menikmati hidup seperti yang lainnya. Ada bahagia, ada sedih, ada tawa, dan juga ada banyak lagi ujian hidup. Namanya kehidupan tidak melulu bahagia, ada kalanya setiap rumah tangga akan menerima ujiannya masing masing. Ada pada anak, ada pada rizki, dan ada juga pada hubungan rumah tangganya masing masing. Semua akan bergilir merasakan ujiannya sendiri sendiri hingga pada titik ujung buah dari ujian hidupnya.


Rey yang mendengarnya pun, ia menganggukkan kepalanya. "Rey janji dengan sepenuh hati, bahwa Aish adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Rey, Tante. Rey akan selalu menjaga Aish dan memberikan kebahagiaan untuknya, dan yang pasti tidak akan meninggalkan nya." Ucap Rey dengan keseriusannya.


"Tante percayakan sama kamu sepenuhnya, semoga kamu tidak mengecewakan Tante maupun Aish istri kamu. Bahagia kalian berdua, hanya itu yang bisa Tante ucapkan dan memberimu sebuah pesan atas nama keponakan Tante. Karena waktu hampir gelap, Tante mau pamit pulang, jaga diri kalian berdua dengan baik. Tante pulang, sampai bertemu lagi." Kata Ibu Melin sekaligus berpamitan.


"Ya Tante, Rey janji. Sampai bertemu lagi, Tante." Jawab Rey, ibu Melin tersenyum lega. Meski sudah merasa lega karena ada yang bertanggung jawab atas keponakannya, perasaan Ibu Melin masih menyimpan rasa ketakutan mengenai status Aish yang belum diketahui oleh saudara kembar suaminya itu.


Sambil berjalan untuk pulang, Ibu Melin tidak ada henti hentinya berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan keponakannya sendiri.


Sambil menunggu mobil kembali, Aish mulai berkemas kemas membawa barang yang sekiranya penting untuk ia bawa ke rumah yang akan ditempatinya bersama sangat suami.


"Sudah selesai?" tanya Rey mengagetkan.


"Sudah, semua sudah aku kemasi. Memangnya kamu mau mengajakku tinggal dimana? aku belum siap jika aku dihadapkan dengan keluarga kamu, aku takut." Jawab Aish dan balik bertanya.

__ADS_1


"Kita akan tinggal di rumah kita yang baru, aku sudah menyiapkan sejauh jauh hari. Hanya saja masih dalam perbaikan, untuk sementara malam ini aku akan mengajakmu untuk tidur di Hotel." Kata Rey sambil memegangi kedua pundak istrinya.


'Benarkah lelaki yang ada dihadapanku ini benar benar mencintaiku? kenapa tiba tiba aku merasa takut jika semuanya hanyalah drama.' Batin Aish yang merasa gelisah akan perasaannya sendiri.


__ADS_2