
Lamanya dalam perjalanan pulang, tidak terasa Aish dan kedua sahabatnya telah sampai ditempat warung yang dituju. Kemudian ketiganya segera turun dan masuk kedalam warung yang cukup sederhana.
Cukup bermodalkan beberapa ribu saja sudah bisa mengenyangkan perut masing masing, dan tidak harus mengeluarkan ratusan ribu untuk menikmati makanan di warung.
"Aish, kamu mau pesan apa?" tanya Yunda yang hendak menemui pemilik warung makan tersebut.
"Aku pesan bakso aja, minumnya es teh ya." Sahut Aish sambil celingukan.
"Kalau aku pesan mie ayam, minumnya sama aja deh." Ucap Afwan menimpali, setelah itu Yunda segera memesan dan kembali duduk bersama kedua temannya.
"Eh, ada Aish rupanya. Bagaimana kabar perasaan kamu, Aish? pasti sangat sakit, ya. Duh duh duh ... ditinggal nikah, kasihan sekali nasib mu." Ucap salah satu pembeli yang tidak lain tetangga Ibu Melin dan juga tetangga orang tuanya Yahya. Meski rumah Ibu Melin tidak jauh dari rumah Yahya, tetap saja ada jalan yang menjadi pembatas dan terhalang oleh beberapa rumah.
"Kabar perasaan Aish baik baik saja loh, Bu. Jugaan jodoh itu sudah ada yang ngatur, lantas kenapa mesti bersedih. Mungkin perempuan yang menjadi istri Yahya, ya dialah yang mampu mendampingi seorang Yahya. Begitu juga dengan saya, mungkin saja saya lebih tepat dengan orang lain." Jawab Aish dengan santai, lagi lagi ia teringat pada sosok Rey.
"Ya juga ya, mungkin tepatnya kamu itu menikah dengan orang yang setara dengan kamu." Ucap nya lagi yang terus memojokkan Aish.
'Benarkah yang aku omongkan barusan? kenapa jadi seperti ini, ada apa dengan statusku yang tidak jelas ini? sungguh aku lelah. 4 tahun lamanya, aku telah menyembunyikan statusku. Bahkan harus berjalan 2 tahun lagi, apakah aku sanggup? beban ini benar benar terasa berat ketika menyandang status yang semua tanpa bayangan.' Batin Aish dalam lamunannya.
Yunda dan Afwan yang mendengarkannya pun merasa sakit saat penghinaan, celaan, dan lain lainnya.
"Heh! Bu! kalau punya mulut itu dijaga, bila perlu disekolahkan." Sahut Afwan yang tidak terima, bahkan tidak peduli meski tetanggaan.
__ADS_1
"Hem, belum sukses saja sudah belagu kalian bertiga ini. Sekolah tinggi tinggi tapi masih pengangguran. Kasian banget orang tua kalian, nyekolahin tidak punya jabatan." Katanya lagi yang terus mengejek.
"Mentang mentang anaknya sekarang jadi PNS, sombong." Kata Yunda ikut menimpali karena merasa dirinya mendapatkan cibiran dari orang tersebut, membuat Yunda semakin geram.
Sedangkan Aish sendiri justru lebih memilih untuk diam, tanpa harus mengotori ucapannya.
"Sudah sudah, Yun, Afwan, kalian berdua tidak perlu mengotori ucapan kalian hanya menuruti ejekan orang lain. Lebih baik kalian itu tunjukkan kepada orang orang yang mencela dan memandang buruk tentang kita ini menjadi lebih baik lagi. Contohnya untuk sukses, dan berhasil menggapai impian kita. Tidak perlu dengan jabatan PNS atau pun apa lah, karena sukses itu tidak harus dimulai berpangkat. Sedangkan untuk disegani orang itu juga tidak harus dimulai dengan yang berpangkat juga." Kata Aish mencoba untuk meredakan emosi kedua sahabatnya.
Afwan maupun Yunda yang mendengarkannya pun merasa malu, kemudian ia menenangkan emosinya.
"Minuml ah, agar pikiran kalian berdua jauh lebih tenang dari sebelumnya." Kata Aish dan menyodorkan air minumnya pada Yunda dan Afwan.
Sedangkan orang yang sudah memancing emosi barusan, kini telah pergi meninggalkan warung tersebut. Perasaan Aish kini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Meski serasa sakit ketika mendapatkan cibiran, Aish berusaha untuk tetap tenang.
Hening, suasana menjadi tidak bersuara ketika masih menikmati makanannya. Takut jika bisa saja ada yang tersedak dan bisa membahayakan diri.
Setelah usai menikmati makanannya, ketiganya segera beranjak pergi dari warung tersebut.
"Aish, besok kamu jangan berangkat dulu. Kita berangkat bareng, ya." Ucap Yunda sambil berjalan kaki bersama Aish, dikarenakan rumah yang tidak jauh dari warung tersebut.
"Ya Yun, aku usahakan untuk berangkat bareng kamu. Tapi aku tidak bisa jani, siapa tahu saja aku lupa." Sahut Aish dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
"Aish," panggil Yahya yang kini sudah berada dihadapannya.
"Maaf, jangan halangi langkahku. Aku mau pulang, aku tidak ingin menjadi barang ghibahan para tetangga. Minggir, aku mau lewat." Kata Aish berusaha untuk menghindari.
"Lima menit, saja. Ada yang ingin aku sampaikan dengan mu, aku mohon Aish." Ucap Yahya terus membujuk.
"Lihat lah, aku sudah bertunangan. Sebentar lagi aku akan menikah, jadi jangan ganggu aku." Ucap Aish sambil menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kamu bohong, aku tahu bahwa kamu itu suka mengelak dan bermain drama. Aku tidak percaya begitu saja dengan mu, aku tahu siapa kamu." Sahut Yahya yang tetap tidak percaya dengan pengakuan Aish.
"Baik lah, jika kamu masih tidak percaya. Sebentar lagi kamu akan melihatnya sendiri, pegang omongan aku ini." Kata Aish dengan tatapan serius, namun Yahya tidak mudah untuk mempercayainya.
Aish yang takut akan menjadi perbincangan oleh orang orang yang tidak pertanggung jawab, ia milih untuk pergi meninggalkan Yahya.
Meski terasa sakit dengan apa yang dikatakannya sendiri, Aish berusaha untuk tetap tenang. Karena dada semakin terasa sesak, terpaksa berlari cukup kencang agar sampai di rumah tanpa peduli Yunda yang masih berdiri sama halnya Yahya.
Karena tidak ingin sahabatnya semakin terluka hatinya hanya karena ingin menjaga nama baiknya, Yunda mendekati Yahya.
"Aku hanya bisa mengingatkan saja, tolong jangan kamu ganggu Aish lagi. Biarkan dia bahagia dengan caranya, jangan kamu paksakan dia. Dan untuk kamu, jagalah hati istrimu. Mau bagaimana pun, Maula adalah istrimu. Kamu yang mengambil keputusan, maka kamu juga yang harus menanggungnya." Ucap Yunda mengingatkan serta memberinya pesan.
Yahya yang tidak tahu harus berkata apa, dirinya memilih untuk pulang tanpa berucap sepatah kata pun.
__ADS_1
Sedangkan Aish didalam kamar, ia meluapkan segala kesedihannya dengan menangis. Tatapannya tertuju pada sebuah foto yang tergeletak diatas meja. Dilihatnya foto sang ayah yang selalu menjadi penyemangatnya, dan kini seakan telah sirna.
"Pa, sebenarnya maksud Papa itu apa? kenapa Papa menitipkan Aish pada lelaki yang tidak bertanggung jawab itu? lihat lah putrimu ini, Pa ... harus terpenjara dengan sebuah ikatan pernikahan yang tidak jelas ini. Aish capek, Pa ... Aish lelah. Aish ingin merasakan kebahagiaan meski sederhana, Pa." Ucap Aish dengan tangisnya sambil memeluk foto sang ayah dengan erat.