
Rey tidak tinggal diam, ia sebisa mungkin untuk berada di dekat istrinya. Takut jika saudara kembarnya mengambil kesempatan untuk mendekati dan mencari perhatian istrinya. Meski Rey sendiri tahu seperti apa istrinya, waspada itu tetap ada.
Rey yang tidak ingin masalah tambah runyam, ia segera menarik tangan saudara kembarnya.
"Sekarang lebih baik kita pulang, lupakan untuk menjadi karyawan di Toko kueh milik Aish. Selesaikan dulu tugasmu di Kantor, ayo kita pulang." Ajak Rey sambil menarik tangan milik saudara kembarnya dengan paksa, Zakka hanya bisa nurut.
Aish yang mengerti maksud dari sang suami karena rasa cemburunya, dengan nekad memasak Zakka untuk pulang.
"Kak, lepasin dong. Minuman kita belum diminum, sayang bangat kalau dianggurin." Kata Zakka berusaha untuk membujuk sang kakak.
"Biarin aja, masih banyak karyawan lain. Jadi, biarin aja minuman tehnya di minum orang lain." Ucap Rey dengah kuat menarik tangan adiknya.
Dengan kecepatan yang tinggi, Rey mampu mengendarai mobilnya hingga tidak terasa sudah sampai di area Kantor. "Keluar! aku mau pulang, ngantuk." Perintah Rey dengan paksaan, sedangkan Zakka sendiri tidak percaya begitu saja pada sang kakak.
"Hari ini aku tidak ada tugas di Kantor, pekerjaan ku sudah selesai. Jadi, ayo kita pulang ke rumah." Jawab Zakka dengan santai, Rey menatap dengan keningnya yang berkerut.
"Maksud kamu?" tanya Rey dengan tatapan kesal.
"Aku sudah selesai dengan pekerjaanku, Kak Makanya tadi aku pulang, terus sengaja mau mampir ke rumah Aish. Tidak tahunya ada Kak Rey bersama Aish, membuatku cemburu aja. Bukankah Kak Rey sudah lama tinggal di luar Negri? memangnya di Amerika tidak ada cewek yang bisa nyuri hatimu, kah? hem."
"Tidak ada, kenapa? aku akan terus memperjuangkan Zahra sampai kapan pun, titik." Sahut Rey masih dengan tatapan tajamnya pada sang adik.
"Cih! mana mungkin Aish mau sama Kak Rey yang dinginnya kek es batu gitu. Pokoknya Aish akan tetap menjadi milikku, titik." Ucap Zakka yang tetap tidak mau kalah.
__ADS_1
"Jangan protes dan jangan banyak omong, sekarang juga aku akan mengantarkan kamu pulang." Kata Rey, kemudian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tidak memakan waktu yang lama, Rey dan Zakka telah sampai di rumah. Keduanya seakan tidak saling mengenal ketika masuk kedalam rumah.
Bunda Maura yang melihat kedua putranya yang terlihat saling acuh, segera menghentikan langkah kaki pada keduanya.
"Kalian berdua kenapa lagi? hah." Tanya sang ibu memergoki kedua putranya.
Rey maupun Zakka masih sama sama berdiri tanpa mengubah posisinya, sang ibu pun segera mendekati kedua putranya.
Saat berada di tengah tengah kedua anak laki lakinya, Bunda Maura merangkulnya dan mengajaknya duduk disofa. Ketika sudah
"Kalian berdua itu sudah sama dewasanya, apa ya kalian itu tidak mempunyai rasa malu jika masih saja terus terusan berantem? hah."
"Ma, Rey mau masuk ke kamar dulu. Soal rasa malu, itu pasti ada. Hanya saja, rasa ingin memiliki jauh lebih besar dari pada untuk mengalah." Ucap Rey, kemudian ia langsung bergegas bangkit dari tempat duduknya dan segera masuk ke dalam kamar.
Kini tinggal Zakka yang masih duduk disebelah Bundanya. Dari kecil, Zakka lebih dekat dengan Bundanya dari pada sang kakak. Rey lebih cenderung bersama sang Kakek, wajar saja jika sikap dinginnya menuruninya.
Rey lebih suka menghindar dari pada harus berada didalam titik yang sulit. Bukan berarti Rey tidak memikirkan masalahnya sendiri, hanya saja dirinya membutuhkan waktu yang tepat.
"Ma, kenapa Papa tidak menjodohkan Kak Rey dengan anaknya rekan kerja Papa saja? agar Zakka tidak mempunyai saingan seperti Kak Rey. Sakit Ma, jika Zakka tidak bisa mendapatkannya."
"Perempuan tidak hanya satu, Zakka. Jangan berlebihan ketika kamu menyukai perempuan yang ingin kamu miliki. Jatuhnya kamu akan sakit, jika kamu tidak bisa untuk memilikinya. Lebih baik kamu siapkan mental, agar ketika kamu merasa kecewa dan merasa sakit, kamu tidak begitu tersiksa untuk menerima kenyataan." Ucap sang ibu berusaha untuk memberi nasehat kecil untuk putranya.
__ADS_1
Zakka yang mendengar ucapan dari bundanya pun, seakan dirinya tidak mendapatkan dukungan pada ibundanya untuk mendapatkan perempuan yang teramat ia sukai.
"Zakka mau ke kamar dulu, Ma. Zakka akan memikirkannya lagi, Zakka mau istirahat. Terima kasih atas nasehatnya, Ma." Ucap Zakka yang tidak mempunyai cara lain selain menghindari ibunya, takut akan semakin sakit ketika harus mendengar nasehat lainnya.
"Tenangkan pikiran kamu, jangan terlalu kamu pikirkan. Percayalah sama Mama, jika kamu berjodoh dengannya, yang pasti akan dipertemukan di dalam pernikahan." Kata sang ibu pada putra keduanya, Zakka mengiyakan dan mengangguk dan segera masuk kedalam kamarnya.
Sedangkan di tempat Aish, tepatnya di Toko kueh. Aish tengah sibuk membereskan ruangan kosong yang akan dijadikan tempat tidurnya dibantu oleh Sela, karyawan kepercayaannya.
"Kak Aish beneran nih, mau tinggal di Toko ini?" tanya Sela sambil mengelap meja dan juga lemari baju dengan ukuran yang tidak begitu besar maupun kecil.
"Iya Sel, Kakak ingin belajar hidup mandiri. Hitung hitung untuk menambah bekal di hari tua." Kata Aish sambil mengeluarkan beberapa barang yang ada didalam tasnya.
"Kalau boleh, Sela tidak keberatan menemani Kakak tiap malamnya. Tenang aja Kak, Sela tidak meminta gaji tambahan. Sela ikhlas kok, Sela bersedia menemani Kak Aish." Ucap Sela yang tidak begitu tega melihat Aish dengan segala kesedihannya.
"Terima kasih atas perhatian dari kamu, Sel. Kamu tidak perlu melakukannya, Kak Aish masih bisa untuk sendirian. Kasihan adik adik kamu, jika kamu tidur bersama Kakak. Tugas di rumah kamu nantinya akan semakin menumpuk, Kak Aish tidak suka itu. Jadi, tetap lah tinggal di rumah bareng orang tuamu dan adik adikmu." Jawab Aish sambil menata barang barangnya masuk kedalam lemari.
Setelah semuanya beres, Aish merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sedangkan Sela sendiri segera kembali ke ruang kerjanya.
Sedangkan di rumah Ibu Melin, didalam kamar Aish masih ada Rena yang tengah tidur pulas. Ibu Melin yang baru saja diantar pulang oleh pak Dirwan, secepat mungkin Beliau memeriksa kondisi didalam rumahnya.
Alangkah terkejutnya saat mendapati Rena yang tidur dengan pulasnya di kamar Aish, kamar yang tidak ada lagi barang barang Aish diatas meja.
"Rena!!" panggil Ibu Melin cukup nyaring dengan suaranya.
__ADS_1
Seketika, Rena terbangun dari tidurnya.