
"Kenapa kamu mesti malu, Ma? Rey juga putramu. Untuk apa kamu mesti malu dengan putra kamu sendiri, temuilah dia." Kata Tuan Ganan mencoba untuk membujuk istrinya.
"Mama takut, jika Rey tidak mau memaafkan Mama."
"Kata siapa? Rey bukan seperti itu anaknya, aku tahu betul seperti apa sifat Rey yang sebenarnya. Temuilah dia, waktu kita tidak lama. Semua sudah menunggu acara untuk dimulai. Apa jadinya jika kalian bertiga masih sama dinginnya dalam acara ini? temuilah putramu yang bernama Rey." Kata Tuan Ganan yang terus membujuk istrinya untuk segera menyelesaikan masalahnya.
Sedangkan didalam kamar, Rey tengah bersama istrinya. Aish terus menghibur suaminya yang tengah dikuasai emosinya.
"Aku yakin, tidak ada orang tua yang membeda bedakan satu sama lainnya. Semua itu pasti ada alasannya, mungkin saja karena kamu tidak mau berterus terang dari awal. Tentu saja, Mama kamu menganggapnya tidak ada masalah. Percayalah sama aku, Mama kamu sebenarnya menyayangi kamu sama halnya menyayangi Zakka dan Neyla. Jangan kamu pendam terlalu dalam, tidak hanya kamu yang merasakan rindunya belaian dari seorang ibu." Ucap Aish yang juga teringat tentang nasibnya sendiri, yang mana dirinya tidak memiliki sebutan seorang Ibu dari kecil.
Disaat itu juga, Rey tersadar dari ucapan istrinya. Di tatapnya wajah istrinya dengan lekat, kemudian dipeluknya erat tubuh istrinya dalam dekapannya.
"Maafkan aku ya, sayang. Maafkan aku yang kurang bersyukur, aku lupa jika ada kamu yang sedari kecil tidak tahu siapa orang tua kamu. Terima kasih banyak karena kamu sudah mengingatkan aku yang lupa arti bersyukur." Ucap Rey sambil mengusap punggung istrinya berulang ulang.
"Sayang, lepasin . Aku kesusahan untuk bernapas, sayang."
"Maaf ya sayang, aku sampai lupa jika perut kamu sudah semakin besar. Maafkan Papa kamu ini yang ceroboh ya, sayang." Ucap Rey yang tersadar atas perbuatannya itu, kemudian ia seolah olah mengajak berbicara dengan calon buah hatinya.
Disaat itu juga, Rey dan Aish terdengar suara ketukan pintu kamarnya. "Biar aku saja yang membuka pintunya." Kata Aish yang langsung bangkit dari posisinya.
"Jangan, biar aku saja yang buka pintunya. Aku takutnya pintu itu akan didobrak dari luar dan menyelekai kamu, sayang." Jawab Rey yang tidak mengijinkan istrinya untuk membuka pintunya.
Karena tidak ingin berdebat, Aish lebih memilih untuk mengalah dari suaminya. Kemudian Rey segera membuka pintunya, alangkah terkejutnya ketika ia mendapati seseorang yang sudah berada di hadapannya itu.
"Mama, ada apa?" tanya Rey dengan ekspresi seperti biasanya.
"Mama ingin berbicara empat mata denganmu, apakah kamu ada waktu untuk mengobrol bersama Mama?" jawab Bunda Maura dan balik bertanya pada putranya.
Aish yang dapat menangkap sebuah ucapan dari ibu mertuanya, segera ia keluar dari dalam kamarnya. Sebelumnya Aish berpamitan terlebih dahulu.
"Sayang, maaf ya jika aku harus keluar. Aku mau menemui Neyla dan Omma, karena aku belum memberi ucapan selamat ulang tahun sama Neyla." Ucap Aish berpamitan.
"Ya, tidak apa apa." Jawab Rey dengan anggukan, Aish pun tersenyum. Kemudian ia mengarahkan pandangannya kearah ibu mertuanya.
"Ma, Aish tinggal dulu ya. Aish ada perlu sama Neyla, Aish lupa kalau Aish belum memberi ucapan selamat ulang tahun sama Neyla." Ucap Aish berpamitan kepada ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ya Nak, Mama pinjam Rey dulu ya. Tidak lama lama kok, hanya sebentar." Kata Bunda Maura, Aish pun tersenyum mendengarnya.
"Rey kan anaknya Mama, sepenuhnya anak laki laki adalah milik ibunya. Ya sudah ya Ma, Aish pamit dulu." Jawab Aish dengan senyumnya yang ramah.
Kini, tinggal lah Rey dan ibunya didalam kamar. Keduanya merasa canggung bak orang yang baru dikenal.
"Mama ada perlu apa datang kemari? apakah soal Zakka? kalau ya, Rey tidak mempermasalahkannya. Mungkin memang salah Rey yang dari awal tidak mau berkata jujur sama Zakka. Tentu saja sangat menyakitkan untuk Zakka terima, Rey sadar diri kok Ma." Tanya Rey, kemudian ia langsung berbicara pada pokok intinya sebelum ibundanya menyalahkan dirinya.
Tapi sayangnya, bukan soal tentang masalah kepribadiannya Zakka. Melainkan masalah antara anak dan ibundanya.
"Bukan itu yang Mama maksudkan, sayang. Tetapi antara kamu dan Mama." Jawab Bunda Maura dengan tatapan yang sulit diartikan, kemudian Beliau duduk disofa. Rey masih terdiam, ia mencoba untuk mencerna maksud dari ibundanya.
Karena penasaran, Rey akhirnya ikut duduk disebela Beliau.
"Memangnya apa yang Mama maksudkan? antara Rey dan Mama? Rey benar benar tidak mengerti."
Disaat keduanya berhadapan dan berada di tempat duduk yang sama, Bunda Maura menatap lekat wajah putra pertamanya yang tidak lagi terlihat seperti anak kecil dan anak remaja, melainkan sudah terlihat dewasa. Perlahan Bunda Maura menggerakkan kedua tangannya dan menyentuh wajah putranya. Rey semakin bingung dibuatnya, lebih lebih kedua mata milik Bunda Maura tiba tiba menganak sungai, tatapannya terlihat penuh penyesalan.
Rey segera meraih kedua tangan ibundanya yang sedang mengusap kedua pipinya.
"Masalah apa, Ma? tolong jelaskan sama Rey."
"Maafkan Mama kamu ini, Rey. Maafkan Mama yang sudah egois, maafkan Mama yang tidak pernah memberikan perhatian yang penuh sama kamu, maafkan Mama yang sudah menyakiti hatimu, maafkan Mama yang banyak kesalahan ini, maafkan Mama yang sudah mengabaikan kamu bertahun tahun lamanya. Mama menyesal, Mama siap menerima hukuman dari kamu, Nak." Ucap Bunda Maura dan tangisnya pun pecah dihadapan putranya.
Rey langsung memeluknya erat, ia pun ikut menitikan air matanya bahagia. Pelukan yang ia rindukan, kini terasa hangat lebih dari sebuah selimut dan bara api sebagai penghangat.
Napas keduanya terasa sesak, sekian lamanya antara anak dan ibu yang tidak pernah memeluk satu sama lain. Begitu juga dengan Rey yang tidak ada henti hentinya menitikan air matanya. Rasa malu tidak dipedulikan oleh Rey ketika dirinya tengah menangis. Rey hanya meluapkan sejuta kerinduannya yang selama ini pendam, dan kini telah tergapai walau harus dengan isak tangisnya dan napasnya yang terasa sesak.
"Rey sayang Mama, ijinkan Rey untuk membahagiakan Mama. Apakah Mama mengijinkan semua itu?" tanya Rey dalam ibundanya.
"Kamu berhak atas Mama, dan tidak ada penghalang apapun untuk kamu dekat sama Mama. Kamu juga anak Mama, tidak ada yang berbeda satupun. Kamu, Zakka, Neyla, adalah anak anak Mama. Kalian bertiga lahir dihari yang sama, hanya berbeda waktu untuk bergantian lahir ke Dunia ini." Jawab Bunda Maura yang juga masih berada dalam pelukan putranya.
Setelah cukup dan tidak ingin semakin larut dalam kesedihan, Bunda Maura maupun Rey sama sama melepaskan pelukannya. Rey menatap wajah ibundanya yang tidak semuda dahulu ketika dirinya masih kecil.
Rey mengusap air mata ibundanya dengan hati hati, senyum tipis namun terlihat bahagia pada aura wajahnya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Bunda Maura, Beliau pun mengusap air mata putranya yang sudah membasahi kedua pipinya.
Disaat itu juga, ada Zakka yang sudah berada diambang pintu. Tatapan Zakka tidak lagi menyorotkan kedua matanya dengan tajam. Kini tatapan matanya berubah menjadi teduh, tetap saja tidak dapat dipungkiri jika Zakka ikut menitikan air matanya dan membasahi kedua pipinya.
Perlahan Zakka melajukan kursi rodanya untuk mendekati Bunda Maura dan saudara kembarnya.
"Mama, Kak Rey, maafkan Zakka." Ucap Zakka sambil menunduk, suaranya pun cukup jelas untuk didengarkan nya.
Rey dan Bunda Maura langsung mengarahkan pandangannya ke arah Zakka yang tengah duduk dikursi roda.
Rey langsung berjongkok di hadapan adik laki laki nya, kemudian ia raih kedua tangannya.
"Zakka, maafkan aku. Bukan maksud aku untuk merebut segalanya dari kamu. Aku tahu, aku salah. Aku mohon maafkan aku, Zakka. Jika kamu melarangku untuk dekat sama Mama, aku akan mengalah. Aku tidak akan pernah merebutnya dari kamu." Ucap Rey sambil menundukkan kepalanya di hadapan sang adik.
"Kak Rey tidak perlu meminta maaf, kak Rey tidak perlu menjauh dari Mama. Ini semua sudah menjadi kesalahan dan keserakahan Zakka, Kak. Maafkan Zakka yang selalu mementingkan ego, maafkan Zakka yang tidak tahu diri ini, maafkan Zakka yang maunya menang sendiri, maafkan Zakka." Kata Zakka penuh dengan penyesalan.
Rey langsung mendongakkan pandangannya dan menatap wajah saudara kembarnya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku, ini semua karena keegoisan kita yang tanpa berterus terang dari awal. Seperti inilah jadinya, kita harus siap menerima resikonya. Sekarang kita sudah baikan, Kakak berharap tidak ada lagi kebencian diantara kita." Kata Rey mencoba untuk tersenyum, meski masih sedikit kaku.
Zakka pun tersenyum mendengarnya, kemudian ia mengusap air matanya sendiri. Terasa canggung jika Rey yang harus mengusap air matanya.
Disaat itu juga, semua anggota keluarganya tengah berkumpul didalam kamar. Semua terharu ketika melihat pemandangan yang tidak lagi dikuasai oleh emosi.
Neyla yang juga saudara kembar dari kedua kakak laki laki nya, ia berjalan mendekati dan berdiri disebelah Zakka. Dengan pelan, ia sedikit membungkukkan badannya agar sejajar dengan kedua saudara kembarnya.
"Akhirnya kedua kakakku kembali baikan dan semua masalah dapat terselesaikan dengan baik, Neyla bahagia mendengarnya serta melihat keakraban pada kalian berdua. Neyla sayang Kak Rey dan juga Kak Zakka, kita satu rahim dan lahir di hari yang sama. Jangan lah untuk memupuk kebencian, karena kita ini bersaudara dalam ruangan yang sama." Ucap Neyla, kemudian Bunda Maura bangkit dari posisinya dan mendekati ketiga anak kembarnya.
"Kalian bertiga adalah anak Mama, sekarang dan selamanya. Tidak ada yang dibedakan, karena kalian adalah anak anak Mama. Mama sayang kalian, selamanya." Kata Bunda Maura ikut menimpali.
"Hem, anak Mama semuanya nih? tidak ada yang anak Papa?" ledek Tuan Ganan yang juga ikut menimpali.
"Anak Papa juga dong ... ya 'kan?" sahut Neyla dengan ekspresi manja.
"Ngomong ngomong, acara ulang tahunnya, bagaimana? hem, sampai lupa ya." Kata Kakek Angga ikut menimpali.
__ADS_1