
Karena sudah merasa bosan ketika menyibukkan diri dengan benda pipihnya, Sela akhirnya beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Selesai itu, Sela duduk dibibir tempat tidur. Pikirannya kembali pada waktu yang sudah ia lewati ketika ia beristirahat dalam satu tempat tidur.
"Yakin nih, kalau aku akan tidur di tempat yang sama? kalau tiba tiba kak Zakka khilaf, bagaimana? berdosa kah aku jika aku menolaknya? aaaaa! kenapa tiba tiba otakku travelling yang tidak tidak. Sela, kamu harus fokus. Satu lagi, kamu harus banyak banyak ide. Apapun itu, kamu harus bisa untuk menyikapinya." Gumam Sela, ia segera mengubah posisinya untuk berbaring diatas tempat tidur.
Sambil menatap langit langit, Sela mencoba untuk mengatur pernapasannya agar bisa lebih tenang dan tidak banyak pikiran yang aneh aneh, pikirnya.
Tidak mungkin baginya tidur dengan posisi berbaring, Sela memilih memposisikan tidurnya dengan miring. Tujuannya, agar bisa leluasa tanpa ada rasa canggung apapun.
"Bismillah, semoga malam ini bisa aku lewati dengan baik." Ucap Sela penuh harap, setelah dirasa posisi tidurnya sudah nyaman, Sela memejamkan kedua matanya sambil menarik pelan pernapasannya dan membuangnya dengan kasar.
Lambat laun karena masih terasa capek pada bagian anggota badannya, Sela tidak lagi mampu untuk membuka kedua matanya.
Sedangkan Zakka masih di ruang kerjanya, ia tengah mengumpulkan kenangan dimasa lalunya, Yakni masa lalunya ketika masih sekolah abu abu. Ada banyak kenangan berupaal album koleksi foto bersama teman teman sekolahnya, termasuk ada Aish dalam album tersebut. Bahkan hampir nyaris isinya foto Aish.
"Kita harus berpisah, kita tidak berjodoh. Terima kasih karena kamu sudah membuatku jatuh cinta dan terluka, percayalah bahwa aku tidak akan membalaskan dendam. Karena aku sadar, cinta tidak harus memiliki. Tapi akan terasa sakit jika harus diingat dan dikenang, alangkah baiknya jika harus melupakan semuanya. Kamu sudah bahagia, lantas untuk apa aku masih jalan ditempat." Gumam Zakka sambil membuang album pada tong sampah.
Malam semakin larut, Zakka mulai merasakan kantuk. Karena tidak ingin membuat tidur istrinya terganggu, Zakka memilih untuk tidur di sofa. Tepatnya di ruang kerjanya, pikirnya lebih baik.
Jarum jam pun telah berpindah ke posisi jam dua pagi, Sela terbangun dari tidurnya. Pelan pelan membuka kedua matanya. Sela kembali teringat dengan suaminya dan segera menoleh kesebelah.
"Tidak ada, kemana?" Gumam Sela, kemudian ia celingukan di sekitar sudut kamarnya. Tetap saja, Sela tidak menemukan keberadaan sangat suami.
Disaat itu juga, Sela teringat saat masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Apakah kak Zakka tidur di ruang kerjanya?" gumam Sela bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Karena rasa penasaran pada suaminya, Sela bergegas bangun dari posisi tidurnya dan mencari keberadaan suaminya yang ada di ruang kerjanya.
Pelan pelan karena tidak ingin menimbulkan suara pada langkah kakinya, Sela berjalan mengendap endap.
Saat berada di depan pintu, pelan pelan Sela membukanya sedikit. Kemudian, ia memeriksa keadaan didalam ruangan tersebut.
Dilihatnya sosok sang suami yang tengah tidur di sofa. Perasaan merasa bersalah pun, kini muncul dibenak pikirannya.
Dengan sangat hati hati, Sela membuka pintunya cukup lebar. Setelah itu, ia mencoba untuk masuk dengan langkah kakinya yang penuh hati hati agar tidak membangunkan lelapnya tidur dari seorang lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya Sela yang sah.
Bukannya mendekati suaminya yang tengah tidur, justru pandangan Sela tertuju pada selembar foto yang ada didekat tong sampah.
Rasa penasarannya pun, akhirnya Sela berjalan mendekat dan mengambil foto tersebut.
"Fotonya kak Aish?" gumam Sela kembali dengan penuh rasa penasaran.
Pelan pelan agar tidak menimbulkan suara, Sela memungut album tersebut dan ia duduk di kursi kerja suaminya. Detak jantung yang berdegup sangat kencang, kini seakan tengah membuatnya penasaran.
"Album, isinya foto siapa, ya?" gumam Sela sambil membuka sampul album tersebut.
Dengan sengaja, Sela memejamkan kedua matanya untuk membuka album tersebut. Seketika, kedua matanya terbelalak saat melihat isi album tersebut.
"Jadi, selama ini perempuan yang disukai kak Zakka adalah kak Aish? tapi ... kenapa kak Rey yang menjadi suaminya? kasihan sekali kak Zakka, hatinya pasti sangat terluka. Lantas, kenapa harus aku yang menjadi istri pura puranya? betapa malunya aku ini di hadapan kak Aish dan kak Rey?" gumam Sela dengan lirih dan dengan segala dilemanya saat mengetahui kebenaran yang ada.
__ADS_1
Tanpa disadari, Zakka sudah berada dibelakangnya. Sela masih sibuk dengan lamunannya itu.
"Sela, kamu sedang apa?"
Sela kembali terkejut saat ia mendengar namanya dipanggil, cepat kilat langsung menoleh kebelakang.
"Kak Zakka, sudah bangun?" tanya Sela dengan gugup. Sedangkan Zakka mengangguk, tatapannya tertuju pada Sela dengan lekat.
"Akhirnya kamu mengetahuinya sendiri, buang lah album yang ada ditangan kamu itu." Ucap Zakka, pandangan Sela pun kembali tertuju pada sebuah album yang ia pegang.
"Jadi, perempuan yang kak Zakka sukai selama ini, kak Aish?" tanya Sela yang tidak mempunyai pertanyaan lainnya.
"Ya, bukankah aku sudah mengatakannya sana kamu." Jawab Zakka, lagi lagi Sela mencoba untuk berpikir untuk memberi pertanyaan lagi karena rasa penasaran yang masih menghantui pikirannya.
"Kakak pernah pacaran?" tanya Sela yang masih penasaran.
"Tidak. Jangankan untuk pacaran, aku sentuh saja tidak mau. Ah sudahlah, aku tidak perlu menceritakannya sama kamu. Yang jelas aku akan melupakannya, aku akan memulainya dari nol. Tidak perlu aku bercerita denganmu, suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya. Tujuanku untuk melupakan, bukan untuk mengingatnya lagi. Kalau kamu terus bertanya, maka sama halnya kamu mengingatkan aku." Jawab Zakka.
Entah ada angin apa, Zakka mulai berani meraih tangan istrinya dan menggenggamnya sangat erat. Disaat itu juga, Sela serasa mendapatkan sengatan listrik, dan sangat sulit untuk ia lepaskan.
"Aku percaya sama kamu, jika kamu mampu untuk membantuku." Kata Zakka sambil menatap lekat wajah istrinya.
'Bagaimana ini, kenapa detak jantungku berdetak tidak karuan. Semoga ini bukan jatuh cinta, hanya simpati saja.' Batin Sela dengan perasaan yang tidak karuan, ditambah lagi sang suami menatapnya begitu lekat dan dengan jarak beberap inci.
"Masih ada waktu untuk beristirahat, ayo kita kembali ke kamar tidur." Ucap Zakka, lagi lagi Sela semakin gugup saat mendapatkan perlakuan yang begitu baik. Bahkan sedikit pun tidak ada sikap dingin pada sosok suaminya sendiri.
__ADS_1
Meski pernikahan yang dilandasi kepura puraan, sikap Zakka sama seperti sikap suami pada umumnya. Hanya saja, tidak ada sikap romantis pada diri Zakka. Mungkin karena belum tumbuh benih benih cinta itu.