Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Berpamitan


__ADS_3

Setelah bersiap siap, Tuan Ganan memanggil Rey untuk masuk ke ruang kerja sang ayah. "Duduk lah," perintah sang ayah.


"Tidak perlu untuk duduk, Pa. Rey sudah tidak punya waktu lagi, katakan saja apa yang ingin Papa sampaikan Pada Rey." Jawab Rey yang menolak untuk duduk.


Karena memang sudah tidak mempunyai waktu yang cukup lama, akhirnya Tuan Ganan mengalah dan mendekati putranya.


Dengan ketegasan nya Beliau, Tuan Ganan meletakkan kedua tangannya tepat pada kedua pundak putranya.


"Sampai kapan pun, kamu tetap anak kecil dimata Papa. Bukan karena kamu tidak bisa untuk menjadi dewasa, tetapi karena kamu adalah putraku. Ingat pesan Papa, fokus lah untuk masa depan kamu. Dua tahun, itu tidak lama. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin. Jangan kamu sia siakan waktumu yang tiada guna, jaga mata dan hatimu disana." Ucap sang ayah memberi pesan pada putranya, Rey pun mengangguk.


Berdiri dengan tegak, Rey menatap sang ayah dengan keseriusan.


"Rey janji, bahwa Rey tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini. Rey akan fokus dengan tujuan Rey, dan kembali seperti yang Papa dan Mama harapkan. Untuk soal jaga mata dan hati, itu pasti akan Rey simpan dengan baik nasehat dari Papa." Jawab Rey dengan keseriusannya, sang ayah pun tersenyum mendengarnya dan juga dengan kelegaan nya.


"Semoga kamu berhasil menggapai tujuan yang kamu niatkan, Papa dan Mama hanya bisa memberimu doa dan membantumu sekiranya kamu membutuhkan bantuan Papa." Ucap sang ayah memberikan semangat untuk putranya.


"Rey, cucuku." Panggil Kakek Angga mengagetkan, Rey maupun Tuan Ganan serta menoleh ke arah sang Kakek.


"Kakek, ada apa?" tanya Rey dan sang Kakek pun mendekati cucu yang paling dekat dengannya. Wajar saja, jika sikap Rey tidak jauh beda persis dengan sang Kakek yang terbilang dingin dan juga kaku. Namun dibalik sikapnya itu, memiliki rasa yang jauh lebih besar untuk disembunyikannya.


Berbeda dengan Zakka, sedangkan sosok Zakka cenderung lebih menurun dari sang ayah. Mudah berbaur dan juga bersenda gurau, meski dirinya pun pernah merasa kecewa terhadap ayahnya sendiri karena sikap dan perlakuannya terhadap sang Ibu hingga menjadikannya angkuh terhadap ayahnya sendiri.


"Kakek hanya ingin menyapa kamu saja, dan memberimu semangat serta doa." Ucap sang Kakek sambil menepuk punggung milik cucunya berulang kali dengan pelan, memberi semangat untuk cucu pertamanya.


"Terima kasih banyak ya, Kek. Doakan Rey, semoga Rey memperoleh keberhasilan dan pulang tanpa sia sia." Jawab Rey, kemudian memeluk sang Kakek untuk mengucapkan selamat tinggal dengan jangka waktu sementara. Setelah dirasa sudah cukup, Rey melepaskan pelukan dari sang Kakek.


"Kejar lah mimpi mu, seperti kamu mengejar cintamu pada Aish, istrimu. Percayalah dengan Kakek, kamu pasti bisa untuk mendapatkan cinta darinya. Yang terpenting, kamu tetap pada tujuan kamu, ok." Ucap sang Kakek mengingatkan, Rey pun mengangguk dan tersenyum pada Beliau.


Setelah itu, Rey berpamitan kepada sang Ayah dan memeluknya juga. Lalu, Rey mencium tangan sang ayah dan lanjut mencium tangan sang Kakek.


Karena tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, Rey segera keluar dari ruangan kerja milik ayahnya. Sambil berjalan, Rey meraih Jas yang akan dikenakannya.


"Wah wah wah ... Kakak aku yang satu ini rupanya sudah terihat sangat berbeda. Seperti ada bau bau yang ngantri ingin menjadi pasangan Kak Rey deh, cie ...." Goda Neyla sambil cekikikan.

__ADS_1


Zakka yang mendengar celotehan dari adik perempuannya pun hanya menggelengkan kepalanya. Disaat itu juga, ingatannya teringat pada sosok perempuan yang sudah lama ia rindukan.


"Ngelamun aja, Lu. Aku pamit, jaga Neyla dengan baik. Karena aku sedang tidak bisa mengawasinya lagi, aku hanya bisa menitipkan nya sama kamu." Ucap Rey berpamitan dengan saudara kembarnya.


"Iya, tenang aja sih. Mau sampai 6 tahun di Amerika juga tidak apa apa, aku sangat mendukungmu." Sahut Zakka dengan santai.


"Hem, itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Rey penuh percaya diri.


"Hem, sudah lah sana kamu berangkat. Hari ini aku ingin menikmati hari liburku sebelum memulai aktivitasku di Kantor." Kata Zakka yang tidak peduli dengan ucapannya sendiri.


"Sudah sudah, kalian berdua ini tidak ada capek capek nya berdebat. Kamu Zakka, sudah sana masuk ke kamar kamu dan buruan mandi. Hari ini kamu temani Mama untuk berbelanja, karena sudah lama Mama tidak pernah ke luar bareng dengan mu." Kata sang ibu sedikit mengusir putranya agar tidak saling beradu.


Zakka yang sudah pasrah, ia hanya bisa nurut dengan perintah ibunya. Kini, tinggal lah sang Ibu dan adik perempuannya.


"Ma, Rey pamit untuk berangkat ya, Ma. Maafkan Rey yang belum bisa membuat Mama bangga, sebisa mungkin Rey akan terus berusaha untuk sukses kedepannya." Ucap Rey dengan keseriusannya.


Sang Ibu pun langsung memeluk erat putranya dan mengusap punggungnya. "Kejar lah impian mu untuk menjadi sukses, agar kamu bisa menjadi seorang yang berguna dengan ilmu yang kamu peroleh." Kata sang Ibu dengan pesan Beliau. Rey mengangguk dan melepaskan pelukan dari seorang Ibu.


Sang Ibu menatap putranya begitu lekat, rasa sedikit berat untuk melepaskan putranya dalam mengejar cita citanya.


"Jaga diri kamu dengan baik, jaga kesehatan kamu. Mama yang ada dirumah hanya bisa mendoakan kamu lewat doa Mama, semoga kamu berhasil dan kedepannya menjadi sukses." Ucap sang Ibu dengan tatapan yang lekat.


"Iya Ma, terima kasih banyak atas perhatiannya dari Mama. Maafkan Rey, jika Rey belum bisa membuat Mama dan Papa bahagia." Ucap Rey sambil menatap sang Ibu penuh keseriusan.


"Mama dan Papa sudah bahagia melihat anak anak Mama yang kini sudah tumbuh dewasa dengan karakter yang berbeda, namun tetap kalian bertiga mempunyai misi yang sama baiknya." Kata sang Ibu penuh yakin.


"Kalau begitu Rey pamit ya, Ma. Sampai bertemu lagi di tahun berikutnya, Ma." Ucap Rey berpamitan, kemudian mencium punggung tangan milik sang Ibu.


"Kak Rey," panggil Ney sebagai adik bungsunya.


"Jaga diri kamu baik baik, jangan suka ceroboh. Maafkan Kakak yang tidak bisa menjaga kamu lagi, Kakak hanya bisa mendoakan kamu. Semoga kamu dan Zakka sama suksesnya, dan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu." Ucap Rey pada adik perempuannya.


"Iya Kak, semoga Kakak berhasil menggapai cita cita Kakak yang dari dulu ingin terwujud. Jaga diri Kakak baik baik di sana, maafkan Ney yang sering gangguin Kakak belajar. Dan sekarang Ney hanya bisa menyemangati Kakak dan mendoakan Kakak dari rumah." Jawab Neyla sambil menyemangati.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, Kakak berangkat. Sampai jumpa lagi ditahun berikutnya, ok." Ucap Rey berpamitan, kemudian ia segera keluar dari rumah yang baru saja ia singgahi.


Kalaupun bukan karena sesuatu, Rey tidak akan kembali pulang. Karena sudah menjadi janjinya untuk pulang, Rey tidak ingin mengingkarinya.


Selama perjalanan menuju Bandara, Rey hanya duduk bersandar sambil menatap luar dan melamunin sesuatu. Tidak memakan waktu lama, akhirnya Rey telah sampai di Bandara.


Berat hati meninggalkan kenangan yang baru saja ia lewati, Rey tidak mempunyai cara lain selain mengorbankan waktu untuk berpisah.


Sedangkan di rumah Ibu Melin, Aish tengah sibuk membereskan kamarnya yang dipenuhi buku buku masa menjadi mahasiswi. Tanpa sengaja, Aish menemukan foto foto dimasa lalunya. Yakni ketika dirinya mulai menginjakkan kakinya menjadi siswi SMP hingga kelulusan SMA.


"Yahya, Afwan, Yunda, dan aku sendiri. Kini formasi nya telah berubah, dan tidak lagi bisa untuk kembali. Mustahil, kalimat itu lah yang tidak akan pernah bisa berubah. Mungkin kah ini balasan untuk ku yang sudah menghianati nya, dan aku pun harus menerima balasan itu dengan waktu yang sangat singkat." Gumam Aish sambil memasukkan kembali foto foto tersebut ke dalam tempatnya yang berisi kenang kenangan dimasa masa sekolahnya bersama para teman dekatnya.


Disaat itu juga, Aish menemukan surat perjanjian bersama suaminya. Seketika, dirinya kembali teringat dengan semua yang ada hubungannya bersama sang suami. Bahkan ia teringat kembali waktu yang sudah dilewati bersama suaminya.


'Apa apaan ini, kenapa aku bisa bisanya mengingatnya lagi? aku sedang tidak korsleting, 'kan?' batin Aish yang mulai memikirkan suaminya.


Sebisa mungkin, Aish segera menepis pikirannya itu. Kemudian ia cepat cepat membereskan isi dalam ruangan kamarnya. Setelah selesai, ia keluar dari kamarnya untuk menghilangkan pikiran penatnya yang sedari serasa tidak karuan.


"Aish, kamu kenapa? kok kelihatan kecapekan gitu." Tanya Ibu Melin penasaran, tidak biasa biasanya wajah Aish terlihat lesu.


"Tidak apa apa kok, Tante. Aish hanya kecapekan saja, soalnya kemarin kehujanan. Mungkin mau flu, Tante." Jawab Aish beralasan.


"Minum obat aja dulu, untuk pencegahan. Batuk pilek tidak enak loh dibadan, yang ada bisa bisa jadi demam." Ucap Ibu Melin mengingatkan.


"Iya Tante, nanti Aish minum obatnya. Sekarang Aish mau keluar sebentar pergi ke warung, Tante."


"Mau ngapain? maksud Tante, kamu mau beli apa?" tanya Ibu Melin.


"Mau beli cemilan, Tante. Kenapa, Tante? Tante mau nitip?" Aish balik bertanya.


"Oooh, kirain Tante mau beli apa. Ya sudah kalau mau keluar, jangan mampir mampir ya, Nak." Sahut Ibu Melin kembali mengingatkan, Aish pun mengangguk.


Bukan karena takut pada Rey, tapi karena takut jika ada salah satu warga telah membicarakan soal Yahya didepan keponakannya sendiri. Jadi, sebisa mungkin Ibu Melin berusaha untuk menegur keponakannya terlebih dahulu, sebelum sesuatu yang tidak diinginkannya pun terjadi.

__ADS_1


Sedangkan di kediaman Tuan Ganan, akhirnya semangat seorang Zakka telah kembali. Kerinduan yang sudah lama ia pendam, kini dirinya mulai sedikit tenang dan tidak lagi gelisah berkepanjangan. Yakni sudah 4 tahun lamanya tidak pernah bertemu.


"Hari ini aku datang saja ke rumah nya, ap ya? tapi ... apa iya, dia masih di rumah yang dulu? apa salahnya jika aku untuk mendatanginya lagi." Gumam Zakka penuh harap.


__ADS_2