Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Kenyataan dan kebenaran yang terungkap


__ADS_3

Rey yang teringat dengan rekaman CCTV di rumah Ibu Melin yang belum ia buka, akhirnya Rey segera meminta anak buahnya untuk menunjukkan bukti rekamannya pada pihak polisi.


"Pa, kita harus bagaimana?" tanya Rey ingin mengetahui kelanjutannya.


"Kita harus segera pergi ke rumah sakit setelah bukti kebenarannya terungkap, kita tunggu saja sebentar." Jawab Tuan Ganan, Rey hanya mengangguk dan nurut apa yang dikatakan sang ayah.


"Son, jangan takut. Aku yakin jika kamu tidak akan ditahan, jangan khawatir. Putraku memiliki bukti yang akurat, karena di rumah mantan istri kamu sudah dipasang CCTV." Ucap Tuan Ganan mencoba untuk meyakinkannya.


"Terima kasih banyak, Bos. Saya tidak pernah menyangka jika kita akan bertemu lagi. Tapi, ngomong ngomong kenapa Bos Ganan mengenali mantan istri saya? apakah ada hubungannya dengan Maura? atau ... Bos Ganan sendiri." Jawab Pak Soni dan bertanya karena rasa penasarannya.


"Putraku menikah dengan keponakannya Melin, jadi aku sangat mengenalnya."


"Keponakannya Melin? aku rasa dia tidak mempunyai keponakan. Yang aku tahu dia mempunyai anak dari suaminya yang kedua, itupun bukan anak kandungnya Melin."


"Apa!! Tante Melin tidak mempunyai anak dari suami keduanya? dan juga tidak mempunyai keponakan? terus ... istriku siapanya Tante Melin?" disaat itu juga Rey terkejut mendengarnya.


Pak Soni yang awalnya berdiri dengan santai, tubuhnya mendadak lemas. Beliau teringat saat melakukan penyamaran ketika diminta oleh mantan istrinya, yakni untuk menikahkan putrinya di Kantor agama maupun ketika menikah siri.


"Jad -- jadi, kamu suaminya Zahra?" tanya Pak Soni terbata bata sambil mengusap pipi milik Rey dengan pelan.


Tuan Ganan yang melihat ekspresi serta mendengarnya pun, Beliau menaruh kecurigaan ketika memeriksa postur tubuh milik orang yang ada dihadapannya.


Rey yang mendapati pertanyaan dari Pak Soni, ia mengangguk pelan. "Ya Pak, saya Reynan Wilyam. Saya suami sah nya Aishwa Zahra, saya menikah siri setelah lulus sekolah. Dua tahun kemudian, saya menikah lagi secara hukum." Jawab Rey dengan lirih, disaat itu juga Pak Soni langsung memeluk erat Reynan.

__ADS_1


Tuan Ganan tidak dapat dibohongi lagi, pemikirannya yang cerdas dan cukup luas untuk menebaknya pun selalu tepat.


'Aku merasa ada yang mengganjal dengan adanya Wali nikah untuk menantuku, Aish masih mempunyai orang tua.' Batin Tuan Ganan dengan tebakannya.


Rey yang tengah dipeluk Pak Soni, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dibenak pikirannya.


'Siapa Pak Soni? kenapa memelukku sangat erat? apakah ada hubungannya dengan istriku? mungkin saja.' Batin Rey yang mencoba untuk menerka nerkanya.


Rey yang tidak bisa menyimpan rasa penasarannya, Rey langsung melepaskan pelukannya.


"Bapak siapanya istri saya? apakah Pak Soni masih bagian keluarga istri saya? saya mohon, jawab lah dengan jujur, Pak." Tanya Rey penasaran.


"Ceritanya sangat panjang, Nak." Jawab Pak Soni dengan lesu, kemudian Tuan Ganan menarikkan dua kursi untuk Pak Soni dan untuk putranya.


Setelah itu, Pak Soni memulai pembicaraannya. Sedangkan Tuan Ganan menjadi pendengar setianya.


"Ceritanya begini, Nak. Siapa orangnya yang mau berpisah dengan orang yang kita cintai, tetapi kenyataan pahit harus berpisah karena pertentangan dari masing masing keluarga. Bapak menikah karena tidak berlandaskan restu dari kedua belah pihak keluarga. Karena cinta membutakan, akhirnya tetap lah melanjutkan pernikahan tanpa restu. Ekonomi semakin sulit, ada saja yang menjadi pengacau untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Ditambah lagi dengan kondisi istri sedang hamil, semakin prustasi kami memikirkannya." Ucap Pak Soni menjeda ucapannya, Beliau tertunduk. Seakan Beliau begitu sulit untuk menjelaskannya lagi.


"Saya mohon, lanjutkan lagi Pak." Pinta Rey yang masih menyimpan rasa penasarannya.


"Karena tidak mempunyai pilihan, akhirnya kami menjalani perceraian setelah melahirkan putri pertama kami. Karena sebuah ancaman untuk membuang putri kami, akhirnya kami menurutinya dan kami akhirnya menyerahkan putri kami ke orang tua asuhnya Zahra. Yakni kepada Pak Burhan." Ucap Pak Soni dan menitikan air matanya, terasa sesak untuk Beliau jelaskan. Tuan Ganan yang ikut sedih mendengarnya, Beliau menyodorkan sapu tangannya pada Pak Soni dan diterimanya sapu tangannya itu. Pelan pelan, Pak Soni menyela air matanya. Dengan pelan, Beliau menarik napasnya. Berharap, semua akan baik baik saja seperti yang diharapkannya.


"Setelah lahir, kami beri nama Aishwa Zahra."

__ADS_1


Seketika, Tuan Ganan dan putranya terkejut dan juga tercengang mendengar nama yang sangat dikenalinya telah terucap lewat pengakuan dari Pak Soni.


"Jadi ... Aishwa adalah putri Bapak?" tanya Rey seperti tidak percaya. Pak Soni menatap wajah Reynan dengan anggukan kepalanya.


"Benar, Aishwa putri Bapak. Anak Bapak dengan Ibu Melin, yang menikah karena tidak adanya restu." Jawab Pak Soni dengan muka lesunya.


Rey masih tidak percaya dengan apa yang didengarkannya, ia sendiri bingung untuk mencernanya.


"Jadi ... yang berpura pura buta, apakah itu kamu?" tanya Tuan Ganan ikut menimpali.


"Benar, Bos. Saya diminta untuk menjadi wali hakim, itupun dengan sebuah permohonan kami pada pihak KUA agar saya bisa menikahkan putri saya. Sayangnya, saya harus menutupi kedua mata saya dengan kain hitam dan dilapisi kaca mata hitam. Jadi, saya tidak dapat melihat wajah ayunya putri saya dan juga menantu saya." Jawab Pak Soni dengan pengakuannya.


"Pantas saja, sebenarnya aku juga penasaran. Tetapi, aku alihkan pikiran rasa penasaran itu." Ucap Tuan Ganan yang kembali teringat dimasa putranya mengucapkan kalimat sakralnya.


"Kenapa Bapak mesti menyamar? kenapa Bapak tidak berterus terang saja pada Aish? dia sangat merindukan orang tuanya. Bahkan air matanya ..."


"Cukup! jangan kamu teruskan lagi, ini kesalahan besar Bapak yang tidak bertanggung jawab pada anaknya sendiri. Bapak malu, sangat memalukan." Ucap Pak Soni penuh penyesalan.


Tuan Ganan yang mengerti bagaimana rasanya memiliki masalah yang begitu rumit, Beliau mendekatkan posisi duduknya didekat Pak Soni.


"Sekarang saya sudah merasa lega, akhirnya kebenarannya pun terungkap dengan sangat jelas. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk putrimu, meski kamu harus merelakannya ikut berpisah. Aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu ini, aku akan usahakan kesembuhan mantan istri kamu. Aku yakin jika mantan istrimu mampu melewati masa kritisnya, dia perempuan yang kuat dan juga bertanggung jawab." Ucap Tuan Ganan mencoba untuk meyakinkan Pak Soni.


"Tapi ... apakah putri saya mau menerima kebenaran yang ada? saya takut, jika putri saya tidak akan mengakui saya sebagai orang tuanya. Bahkan aku kalah jauh memiliki ketulusan dibanding Kakak dari mantan istri saya, yakni Pak Burhan.

__ADS_1


"Saya paham dengan Aishwa, dan saya yakin semuanya akan baik baik saja." Kata Tuan Ganan meyakinkannya.


__ADS_2