
"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak baik, berdoalah. Semoga kita dijauhkan dari marabahaya yang akan menimpa kita." Ucap Aish, kemudian memeluknya dengan erat.
"Aamiin. Semoga kita akan terus bersama, untuk selamanya." Kata Rey, kemudian mencium pucuk kepala milik istrinya dan menarik napasnya panjang dan membuangnya.
"Kamu belum makan, 'kan? aku temani, ya."
Rey pun mengangguk dan tersenyum tipis pada istrinya. Kemudian mengajak istrinya keluar dari kamar menuju ruang makan.
Dengan perutnya yang mulai terlihat tengah hamil, Aish tak pernah mengeluh melakukan aktivitas apapun yang tidak begitu berat seperti mengangkat barang.
Sambil berjalan menuruni anak tangga, disaat itu juga ingatan Rey kembali pada Sela yang berada di rumah sakit.
"Sayang, aku ada kabar untuk kamu." Ucap Rey.
"Kabar tentang siapa, sayang?" tanya Aish sambil memenangi peritnya.
"Sela, orang tuanya sedang di rumah sakit."
"Apa! orang tuanya Sela masuk ke rumah sakit? kamu tidak sedang berbohong, 'kan?"
"Ngapain aku bohong, sayang. Tadi waktu aku mau menemu Mama, aku melihat Sela tengah duduk sambil menangis. Kemudian aku mendekatinya, dan aku tanyakan siapa yang sakit dan sakit apa."
"Memangnya ayahnya Sela sakit apa, sayang? jadi khawatir dengan kedua adiknya yang masih kecil kecil dirumahnya." Tanya Aish dibarengi dengan perasaan campur aduk atas kekhawatirannya.
"Dia bilang sama aku sakit lambung, tapi kenyataannya bukan. Aku meminta anak buahku untuk melunasi pembayaran biaya pengobatannya di rumah sakit, dan rupanya bukan sakit lambung, melainkan kanker pada jantung."
__ADS_1
"Apa!!! kanker pada jantung? kamu serius?" Aish pun terkejut saat mendengar penjelasan dari suaminya. Aish masih membulatkan kedua bola matanya karena tercengang.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan melakukan sesuatu yang terbaik untuk kesembuhan ayahnya Sela. Kamu yang tenang pikiran kamu, jangan terlaku memikirkan. Kamu sedang hamil, tidak baik untuk kesehatan janin yang ada didalam rahim kamu jika kamu terlalu penat memikirkannya." Ucap Rey berusaha untuk tidak membuat istrinya begitu khawatir, pikir Rey.
"Serius nih, kalau kamu mau membantu Sela untuk kesembuhan orang tuanya? aku kasihan sama Sela." Kata Aish sambil meremat jari tangannya sendiri.
"Ya sudah, aku mau makan. Katanya kamu menemani ku, hem." Ucap Rey mengingatkan.
"Maaf, sayang. Aku sampai lupa, hampir saja aku mengabaikan mu." Jawab Aish merasa malu, justru Rey tersenyum sambil memperhatikan istrinya itu.
Tiba tiba perasaannya kembali merasa bersalah atas kesalahan yang sudah ia perbuat terhadap saudara kembarannya. Rey sejenak terdiam, ia duduk dengan lamunannya. Pikirannya tertuju pada adik laki lakinya Tang tengah terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Mau bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Tidak akan mungkin bisa untuk memutar kembali ke masa lalu, semua sudah berjalan dengan takdirnya masing masing.
"Sayang, kamu itu kenapa lagi sih? perasaan sebentar sebentar kamu terlihat murung deh. Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, sayang? jangan kamu pendam sendiri dong. Apakah kamu sudah lupa, ada aku yang tak lain istri kamu sendiri." Tanya Aish dengan rasa penasaran karena suaminya yang selalu banyak melamun.
"Ini, aku suapin ya." Kata Aish dan duduk disebelah sang suami.
'Tidak mungkin jika aku berterus terang denganmu, sayang. Karena kamu dan Zakka yang sedang aku pikirkan, tidak ada yang lain.' Batin Rey sambil menerima suapan dari istrinya.
Satu demi satu suapan, Rey menikmatinya. Begitu sempurnanya kebahagiaan jika tanpa beban, tapi tidak dengan Rey saat ini. Tatapannya bahagia, namun hatinya sangat gelisah.
'Bagaimana kalau Zakka tak kunjung sembuh, tidak mungkin aku berbahagia dihadapannya. Sedangkan Zakka tengah terluka, fisik dan juga hatinya.' Batin Rey penuh kegelisahan, dan juga kekhawatiran terhadap saudara kembarnya.
Sedangkan di rumah sakit, Zakka langsung mendapatkan penanganan. Kedua orang tuanya tengah menunggu sambil bersandar ditempat duduk.
__ADS_1
Bunda Maura yang tengah bersedih atas musibah pada putranya, betapa sulitnya untuk menjaga keseimbangannya. Meski dengan cara duduk, tetap saja sekujur tubuhnya seakan tidak berdaya dan begitu sulit untuk bergerak.
"Pa, Zakka sembuh kan, Pa?" tanya Bunda Maura sambil bersandar pada suaminya. Tuan Ganan mengusap lengan istrinya berulang ulang, agar kecemasannya sedikit berkurang.
"Zakka pasti sembuh, percayalah sama Papa. Tenangkan pikiran kamu, jangan memikirkan yang tidak tidak. Berdoalah, itu jauh lebih baik dari apapun." Jawab Tuan Ganan mencoba menenangkan istrinya.
"Papa, Mama, bagaimana keadaan kak Zakka?" tanya Neyla dengan perasaan khawatir.
"Duduk lah, Seyn, Neyla, Mama." Pinta Tuan Ganan pada anak menantu nya dan Omma Qinan.
"Bagaimana dengan Zakka? apakah sedang di ruang operasi?" tanya Omma Qinan yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar cucu keduanya.
"Zakka sedang di operasi, Ma. Sebentar lagi mungkin selesai, itupun hanya satu orang yang boleh menemui Zakka." Jawab Tuan Ganan.
"Oh ya Seyn, bagaimana dengan Kantor? sudah kamu tangani semuanya, 'kan?" tanya Tuan Ganan pada menantunya.
"Sudah, Pa. Sudah tidak ada kendala apa pin di Kantor, semua baik baik saja." Jawab Seyn, kemudian mengusap punggung tangan milik istrinya agar tidak banyak pikiran mengenai saudara kembarnya yang sedang ditangani oleh para Dokter.
"Syukur lah, Papa serahkan semuanya sama kamu dan Rey untuk sementara waktu hingga keadaan Zakka benar benar sudah pulih." Ucap Tuan Ganan memberi amanat untuk menantunya.
"Baik, Pa. Seyn akan bertanggung jawab, Papa tidak perlu khawatir." Jawab Seyn disertai anggukan kepala.
Sedangkan didalam ruangan operasi, ada hati yang terluka dan juga fisik yang terluka. Siapa lagi kalau bukan Zakka orangnya, lelaki yang begitu kuat dan rela menerima kenyataan pahitnya.
'Aish ... kenapa aku tak bisa melupakan mu, bayangan mu begitu tajam menusuk hatiku. Rasa ini, aku begitu sulit untuk membuang perasaanku. Aku ingin berlari dan tak mengingatmu lagi, namun terasa sakit untuk aku lakukan. Bahkan rasa sakit pada kakiku ini, tak sebanding dengan rasa yang aku jaga.' Batin Zakka dalam lamunannya, tak disadari jika buliran air matanya menetes demi tetes hingga membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Salah satu seorang Dokter yang tengah menangkap ekspresi Zakka dengan sekilas yang tengah menitikan air matanya.
Begitu juga Bunda Maura yang tak hentinya menitikan air matanya. Rasa kasihan dan juga rasa bersalah serta rasa tidak karuan yang ada dalam benaknya. Ingin rasanya untuk marah dan protes, itu tidak mungkin. Disisi lain ada Rey putranya sendiri, tak mungkin untuk membencinya.