
Masih berada didalam sebuah Toko perhiasan, Aish dan Rey tengah duduk menunggu pesanan yang sudah dipesankan oleh Rey.
Tidak lama kemudian, karyawan Toko perhiasan telah membawa satu kotak besar yang berisi beberapa pilihan yang sudah dipesankan oleh Reynan.
"Permisi, Tuan. Maaf, apakah ini pesanan Tuan?" tanya nya sambil menunjukkan sebuah kokat yang berisi berbagai macam perhiasan yang sudah dibuka dengan sangat jelas. Aish yang melihatnya sudah seperti mimpi, bahkan masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
Rey pun mengangguk, kemudian menoleh kearah Aish. "Kamu tinggal pilih mana yang kamu sukai." Ucap Rey sambil melihat istrinya, Aish langsung menoleh kearah suaminya yang kini keduanya saling menatap satu sama lain.
"Untuk apa kamu membelikannya untukku? bukankah aku ini istri bersyarat?" lagi lagi kalimat seperti itu diucapkan kembali oleh Aish.
Rey yang mendengarnya pun terasa geram, telinganya mendadak terasa panas ketika kalimat yang tidak pantas untuk ia dengar, kini ia kembali mendengarnya. Kekesalannya pun dapat ia tangani, untung saja tidak ada karyawan dihadapannya itu.
"Apa kamu sudah lupa? aku tidak pernah menganggap mu istri bersyarat, jangan kamu ulangi lagi ucapan kamu itu." Rey masih dengan kekesalannya, sebisa mungkin ia untuk menahannya.
Aish yang mendengar penuturan dari suaminya memilih untuk diam, ia merasa takut jika suaminya akan menggagalkan keberangkatannya ke luar Negri.
"Maaf, aku terbawa suasana aja. Dan maaf juga, aku tidak bisa memilih. Karena bagiku, semua perhiasan itu bagus semua. Lebih baik kamu saja yang pilih, aku akan menerimanya kok." Ucap Aish sebaik mungkin, meski sedikit melukai perasaan suaminya.
Rey yang mendengarnya pun berusaha untuk bisa sabar, meski perasaan nya masih terasa geram sekalipun. "Baik lah, aku yang akan pilih." Ucap Rey masih dengan menatap istrinya dengan lekat.
Tanpa melihat, Rey memilihkan satu paket perhiasan berupa cincin, gelang, dan juga kalung.
"Ini, terima lah dan pakailah setelah sampai di rumah. Aku hanya akan memakaikan cincinnya saja disini, untuk kalung dan gelang, setelah kita sampai di rumah." Ucap Rey sambil meraih tangan kanan milik istrinya dan disaksikannya sebuah cincin dijari manis milik istrinya. Kemudian Rey menyerahkan kalung dan gelangnya pada salah satu karyawan untuk dimasukkan kedalam kotak perhiasan kembali dan setelah itu diberikannya pada Aish.
__ADS_1
"Semoga Nona menyukainya." Ucapnya dengan ramah, Aish pun tersenyum.
"Terima kasih ..." jawab Aish yang juga ikut tersenyum.
Setelah tidak ada yang tertinggal, Rey mengajak Aish untuk segera pulang. Saat melangkah keluar, tiba tiba Aish ingat sesuatu. Yakni, suaminya yang belum membayar perhiasan yang sudah dibeli.
"Tunggu," ucap Aish menghentikan langkah kaki suaminya.
"Kenapa?" tanya Rey penasaran.
"Kamu belum membayarnya, iya 'kan?" tanya Aish, Rey pun tersenyum.
"Aku sudah membayarnya sebelum aku pulang dari Luar Negri. Kenapa? sudah lah, ayo aku antarkan kamu pulang. Waktuku sudah tidak banyak lagi, karena masih banyak yang harus aku persiapkan untuk berangkat ke Luar Negri."
"Oooh, aku kira kamu belum bayar. Maaf, aku tidak tahu soal itu." Ucap Aish malu malu.
"Ada apa?" tanya Aish penasaran.
Rey menatap lekat wajah istrinya, pandangannya pun begitu serius. Sambil menarik napasnya pelan, Rey membuangnya pun dengan pelan.
"Sebenarnya hari ini aku akan mengajakmu kesuatu tempat, yakni rumah untuk tempat tinggal kamu dan Tante kamu. Tapi ... setelah aku pikir lebih serius lagi, aku minta maaf. Bukan aku tidak peduli dengan kamu dan Tante kamu, aku hanya tidak ingin ada yang berniat untuk menyakiti kamu. Biar lah kamu apa adanya terlebih dahulu, setelah aku pulang nanti, aku akan mengajakmu ke rumah baru yang sudah aku beli jauh jauh hari." Ucap Rey dengan sebaik mungkin, meski ucapannya sedikit mengecewakan karena gagal untuk membawa istrinya ke rumah baru.
Aish yang mendengarnya pun menganggukkan kepalanya, ia tidak mempunyai hak untuk menuntuk. Aish sendiri sadar, jika dirinya masih menganggap pernikahannya belum berlandaskan cinta.
__ADS_1
"Tidak apa apa kok, tinggal di rumah sederhana seperti punya Tante Melin akan jauh lebih baik dari pada mewah tetapi kurangnya ada cinta dalam keluarga.
Aish yang sedari tadi mendapat tatapan yang begitu lekat dari suaminya pun, ia merasa kikuk. Lagi lagi Rey semakin mendekatkan wajahnya tepat dengan wajah istrinya. Karena ia tidak ingin perpisahannya berakhir dengan sia sia, Rey tidak ingin menyia nyiakan kesempatan emasnya.
Dengan pelan dan cukup lembut, Reynan mendaratkan ci*umannya tepat pada bi*bir Aish yang kini sudah menjadi Candunya. Aish yang takut suaminya semakin murka, ia memilih untuk pasrah. Namun, lama lama ci*umannya semakin dalam dan ingin menuntutnya lebih. Rey yang sadar pada tempatnya, ia langsung menyudahinya. Ia tidak ingin semakin menjerumus yang tidak tidak.
'Apakah semua laki laki seperti ini? tanpa rasa cinta pun bisa melakukannya karena kesempatan dan keinginan?" batin Aish yang masih belum bisa membedakan apa itu cinta dan na*fsu.
Rey yang malas untuk berucap sepatah kata pun, ia terus melajukan mobilnya dan sedikit menambah kecepatannya. Tidak memakan waktu lama, akhirnya telah sampai di halaman rumah Ibu Melin.
"Aku tidak bisa masuk kedalam untuk berpamitan, waktu sudah mepet. Jadi, salam saja buat Tante Melin." Ucap Rey yang sudah tidak mempunyai waktu lagi.
"Iya, kamu tenang saja. Akan aku sampaikan salam dari kamu, jangan khawatir. Hati hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan." Jawab Aish dan mengingatkan, serta mendoakannya.
"Jaga diri kamu baik baik di rumah, aku akan kembali setelah dua tahun lamanya." Ucap Rey, kemudian ia langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang.
Tidak memakan waktu lama, Rey telah sampai di rumah dan disambut hangat oleh sang ibu dan saudara kembar perempuannya.
"Kak Rey dari mana aja, kok semalaman tidak pulang?" tanya Zakka penasaran.
"Dari hotel, kenapa?" sahut Rey sambil melepas sepatunya, karena Rey harus mengganti pakaiannya untuk berangkat ke luar Negri.
"Ngapain menginap di Hotel?" tanya Zakka mendesak, karena tidak seperti biasanya seorang Rey tidak tidur di rumah dan memilih untuk tidur di Hotel.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah mendadak jadi amnesia? sampai sampai kamu lupa kejadian tadi malam, hujan deras dan disertai suara petir yang menggelegar." Kata Rey mengingatkan, disaat itu juga ia kembali teringat saat dirinya pertama kali tidur satu ranjang bersama istrinya.
"Ah iya, aku sampai lupa. Untung saja tidak jadi penasaran akut, kalau iya, bisa bisa napasku menjadi sesak." Ucap Zakka dan diakhiri senyum pasta gigi.