Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Pertemuan


__ADS_3

Setelah sampai di depan rumah, Aish segera masuk ke dalam. Diletakkan lah sebuah Piagam serta tas sekolahnya, kemudian diraihnya sebuah gelas dan teko yang berisi air minum. Lalu, Aish menuangkannya kedalam gelas dan meminumnya hingga tandas.


"Aish, duduk lah Nak." Pinta sang ayah dibarengi dengan sebuah anggukan. Aish yang juga merasakan capek, akhirnya menuruti permintaan ayahnya untuk duduk dihadapannya.


"Ada apa, Pa?" tanya Aish dengan raut wajah yang begitu teduh untuk dipandang. Sang ayah pun tidak tega untuk mengatakannya.


"Aish, apakah Papa boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya sang ayah dengan suara yang? lembut. Takut, jika putrinya akan merasa tersakiti perasaannya. Apa lagi mengenai perasaan dan hal pribadinya, dengan sangat hati hati sang ayah untuk memulai pembicaraannya.


"Tentu saja boleh, memangnya apa yang ingin Papa tanyakan?" tanya Aish dengan antusias untuk mendengar pertanyaan dari ayahnya.


"Apakah kamu masih menyimpan rasa pada Yahya?" tanya sang ayah dengan suara yang sangat lembut.


Deg


Seketika tenggorokan milik Aish terasa tercekik saat mendapat pertanyaan dari sang ayah mengenai perasaannya.


"Em ... i -- iya, Pa." Jawabnya dengan sedikit takut dan sambil menunduk malu dan juga gugup.


Sang ayah yang mendengarkan kejujuran dari putrinya, Beliau menarik nafasnya pelan. Kemudian membuangnya dengan pelan juga, mau bagaimana pun harus diselesaikan dengan bijak dan santun. Meski yang dengan putrinya sendiri, sekalipun.


"Nak, sepertinya sangat berat untukmu mendapatkan Yahya. Kamu tahu sendiri 'kan? keluarganya sangat terpandang, bahkan tidak sebanding dengan kita. Papa hanya minta denganmu, jangan terlalu berharap dengan Yahya. Lebih baik kamu fokus dengan masa depanmu, jika memang kamu berjodoh dengannya, kamu pasti akan dipertemukan lagi. Maafkan sikap Papa yang telah melarangmu, ini semua demi kebaikanmu." Ucap sang ayah dengan permintaan maaf dikalimat terakhirnya.


Aish yang merasa kecewa, ia berusaha untuk tetap terlihat tenang dihadapan sang ayah. Sambil menarik napasnya dengan pelan, Aish mencoba menata kosa kata untuk diucapkannya.


"Iya Pa, Aish mengerti apa yang Papa maksudkan. Aish janji, Aish akan selalu ingat pesan pesan dari Papa. Terima kasih banyak ya Pa, karena Papa sudah bersedia memberi nasehat nasehat pada Aish." Ucap Aish untuk bersikap tenang, meski didalam hatinya sedikit terluka. Namun, sebisa mungkin Aish untuk tidak menunjukkan sikap egonya didepan sang ayah. Mau bagaimana pun, nasehat dari orang tua ada benarnya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, sekarang ganti pakaianmu. Papa mau keluar sebentar untuk membeli lauk untuk makan siang, kita harus rayakan hari kelulusan kamu dengan makan bersama. Meski tidak seberapa, Papa akan melakukan yang terbaik untuk kamu." Ucap sang ayah, Aish pun mengangguk dan tersenyum.


"Papa benar benar Papa Aish yang tiada duanya, semoga kelak nanti Aish mendapatkan suami seperti Papa yang selalu menyayangi keluarga dan setia sehidup semati pada pasangannya." Sahut Aish dengan rasa bangga memiliki seorang ayah yang begitu sempurna, menurutnya.


Karena sang ayah sudah pergi dari rumah, Aish segera mengganti pakaiannya. Dengan perasaan yang sangat lega, akhirnya Aish menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil memeluk foto mendiang ibunya yang terbingkai.


"Ma, Aish sudah lulus. Sekarang Aish mau melanjutkan ke Perguruan tinggi, Aish mau buktikan kepada semua orang, jika Aish mampu menjadi sukses. Aish harus menjadi anak kebanggan Mama dan Papa, Aish harus bisa dan selalu bisa." Gumamnya sambil mengeratkan bingkai nya.


Disaat itu juga, Aish teringat akan sebuah janji pada teman temannya yang dimana mengadakan acara perpisahan. Yakni makan makan disuatu tempat, dan tidak lupa juga akan ada Yahya yang ikut serta.


Karena reflek kaget, Aish terperanjat dan bangkit dari posisinya.


"Bagaimana ini? apakah aku akan diizinkan untuk berkumpul bersama teman temanku?" gumam Aish dengan perasaan gelisah.


Sudah cukup lama menunggu sang ayah pulang, sampai satu jam lamanya tidak juga belum pulang. Perasaan cemas kini tengah menghantuinya, Aish semakin khawatir dan juga cemas. Ditambah lagi tidak dapat dihubungi, Aish semakin tidak karuan memikirkan sang ayah yang tidak kunjung pulang.


"Putriku, putriku dimana?" tanyanya berulang ulang.


"Bapak tenang saja, jangan panik." Jawabnya sambil menunggu Dokter datang.


"Anak muda, Ba -- Bapak berpesan pa -- da -- mu, to -- tolong ja -- ga put -- tri Ba -- Bapak. Se -- ka -- lian Ba -- pak ti -- tipkan put -- triku pa -- damu, Ba -- pak per -- ca - ya ji - ka ka - mu anak ya -- yang baik." Ucapnya dengan terbata bata sambil menahan rasa sakit yang sangat hebat.


"Bapak, Pak, bangun Pak, bangun! Bapak! bangun Pak." Panggilnya berulang ulang, kemudian sang Dokter pun telah datang dan segera memeriksanya.


Berulang ulang ulang memberi pertolongan, tetap saja tidak ada perubahan. Disaat itu juga, sang Dokter kemudian memeriksa denyut nadinya.

__ADS_1


"Innalillahi wa inna illaihi roji'un."


"Apa! Dok?"


"Korban telah meninggal dunia, sekarang segera hubungi pihak keluarga di rumah. Setelah itu, Anda segera mengurus kepulangan jenazah. Kalau begitu, saya permisi." Ucap sang Dokter, kemudian dirinya segera mengurusnya.


Sedangkan di tempat lain, yakni di rumah Aish. Sambil menunggu sang ayah pulang, Aish beberes kamarnya. Sambil bersenandung shalawat, Aish mencoba membuang pikiran buruknya mengenai siapa siapa yang tengah dipikirkannya, termasuk sang ayah dan juga Yahya lelaki yang disukainya.


Cukup lama menunggu, Aish semakin jenuh. Waktu untuk makan siang saja sudah terlewatkan.


"Assalamu'alaikum, Aish ... Aish ..." ucapan salam serta memanggil nama Aish pun telah membuyarkan lamunannya.


"Wa'alaikumussalam. Afwan, Yunda, Yahya. Benarkah mereka bertiga? tapi ... kalau Papa tahu, bagaimana? pasti di usir nya." Pikir Aish menerka nerka, ia takut akan mendapatkan masalah dengan ayahnya. Ditambah lagi sang ayah yang sudah memberi peringatan untuknya agar bisa menjauh dari Yahya.


"Aish ... Aish ..." panggilnya berulang ulang.


Dengan cepat, Aish segera membukakan pintunya.


Dilihatnya seorang lelaki yang penuh perubahan pada sosok yang ia sukai, rupanya penampilannya benar benar sangat berubah. Dengan setelan baju putih dan celana bahan yang begitu licin. Bahkan nyamuk saja sepertinya terpeleset, seketika nyali seorang Aish mengkerut seperti kerupuk yang dianggurkan.


"Assalamu'alaikum." ucapan salam masih menghipnotis Aish yang terasa mimpi.


"Wa'alaikumussalam, Yahya." Jawab Aish dengan senyumnya yang tipis.


"Apa kabarnya, Aish?" sapa Yahya dengan suara yang lembut. Lagi lagi, Aish tidak mampu mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


'Aduh! Aish, jaga pandanganmu. Jangan sampai nafsumu lebih besar dari pada harga diri kamu, jaga maruah kamu, Aish.' Batin Aish yang tidak dapat memungkiri nya.


"Kabarku baik, sangat baik. Kamu sendiri, apa kabarmu?" jawab Aish, kemudian ia balik menyapa.


__ADS_2