Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Bersedih


__ADS_3

Rey yang hendak menyusul istrinya, tiba tiba niatnya diurungkan. Memilih untuk tetap mengawasi itu jauh lebih baik, pikir Rey yang tidak ingin gegabah dalam melakukan tindakannya. Selagi masih dalam pantauan yang cukup ketat untuk mengawasi istrinya, Rey berusaha untuk bersikap tenang. Meski dalam hatinya sangatlah murka sekalipun, Rey tetap tenang dan tidak gegabah.


Sedangkan di Rumah Ibu Melin, Aish tengah menikmati mie instan nya. "Alhamdulillah, akhirnya perutku tidak jadi keroncongan." Gumam Aish sambil mengusap perutnya, kemudian ia segera mencuci piring kotornya.


Beda dengan Rena, setelah makan ia kembali masuk ke Aish. "Kamar ini, harus menjadi milikku. Aku kan tuan rumahnya, sedangkan Aish hanya numpang." Ucapnya tanpa punya rasa malu.


Rey yang terus mengamati gerak gerik Rena semakin kesal dan murka, ketika kamar istrinya hendak dikuasai oleh sepupu istrinya sendiri.


Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, Rey langsung memerintahkan anak buahnya untuk menjemput Ibu Melin agar cepat pulang. Rey begitu tidak tega melihat istrinya yang selalu menjadi bahan hinaan dari sepupunya itu. Rasa sabar pun ada batasnya, begitu juga dengan Rey.


Aish yang telah selesai membereskan dapur, ia segera kembali ke kamarnya. Dan dilihatnya Rena tengah berbaring di tempat tidurnya dengan semaunya.


"Rena, kamu ngapain di kamarku?" tanya Aish yang terkejut saat melihat sepupunya sudah berbaring ditempat tidurnya.


"Suka suka aku dong, mau tidur dimana juga tak aku. Memangnya ini rumah milik orang tua kamu? ngaca! ini rumah milik orang tua ku. Jangan mimpi! orang miskin sepertimu itu tidak pantas tinggal di rumah ini, ngotor ngotorin aja. Kalau kamu tidak terima, pulang aja ke rumah kamu yang dulu." Ucapnya dengan lantang dan tanpa bersalah.


Aish yang mendengarnya pun terasa perih di hatinya, bahkan tidak pernah menyangka jika Rena yang dulunya dikenal pendiam, kini berubah tidak terkendali.


"Kenapa diam? angkut semua barang barang kamu! tapi hanya baju dan buku buku kamu itu, nyepetin mataku aja, tau." Ucap Rena mengusir.


Aish yang tidak bisa membela diri, ia hanya bisa nurut dengan apa yang dikatakan saudara perempuannya. Mau tidak mau, Aish segera mengemasi barang barangnya.


Rena yang tengah duduk diatas tempat tidur, ia hanya memperhatikan Aish yang sedang mengemasi barang barangnya.

__ADS_1


"Wih! ponsel kamu tidak nanggung nanggung ya, hebat! berikan ponselnya padaku. Itu pasti Mama aku yang belikan, kamu mah punya apa! hah." Tanpa rasa malu, Rena langsung menyanbar ponsel milik Aish yang hendak dimasukkan kedalam tasnya.


"Ren, itu ponsel milik Kak Aish sepenuhnya. Mama kamu tidak pernah membelikan ponsel sama Kakak, berikan ponselnya sama Kakak." Kata Aish dengan raut wajahnya yang terlihat kebingungan.


"Enak aja, tidak akan. Semua yang kakak punya itu, ya milik aku. Secara, kakak anak yatim piatu. Uang dari mana? Orang tua aja sudah tidak punya."


Aish yang mendengar penghinaan dari saudara perempuannya pun, ia hanya bisa pasrah. Sesegera mungkin untuk pergi dari rumah Ibu Melin, sebelum hatinya semakin panas ketika mendengar tuduhan tuduhan yang menyakitkan hatinya.


Mau bagaimana pun, Aish sadar diri siapa dirinya itu. Pergi meninggalkan rumah Tantenya akan jauh lebih baik dari pada harus bertahan. Tanpa mempedulikan celotehan dari Rena, Aish cepat cepat mengemasi barang barangnya yang ia miliki dari hasil jerih payahnya.


Disaat itu juga, Aish teringat jika dirinya masih mempunyai Toko Kueh yang dibangunkan oleh suaminya.


'Ah iya, aku kan ada Toko kueh. Mungkin lebih baik aku pulang ke Toko, tidak mungkin aku pulang ke rumah yang dulu. Pastinya perlu dibersihkan dulu untuk ditempati.' Batin Aish yang akhirnya merasa lebih tenang dan tidak lagi merasa gundah.


Setelah selesai mengemasi barang barangnya, Aish menjinjing kedua tas nya untuk dibawa pergi dari rumah Tantenya.


"Rey, kamu mau kemana?" tanya sang ibu memergoki putranya yang tengah terburu buru menuruni anak tangga.


"Rey mau ada urusan sebentar, Ma." Sahut Rey dengan langkah kakinya yang begitu gesit.


"Ada apa dengan putraku? apa dia ada masalah? apa soal istrinya? atau ... jangan jangan Rey sudah punya anak? oh! tidak. Aku harus segera menghubungi suamiku sekarang juga." Gumam Bunda Maura penuh tanda tanya mengenai putra pertamanya.


Karena takut terjadi apa apa pada putranya, Bunda Maura segera menghubungi sang suami untuk segera mencari tau mengenai anak dan menantunya.

__ADS_1


Sedangkan Aish sudah berjalan kaki sambil menjinjing tas bawaannya dengan terik matahari yang cukup panas dan membuat dahaga.


Berbeda dengan Rena, justru ia tertawa puas saat dirinya mampu mengusir Aish dari rumah. Kemenangan yang ia dapat seakan dirinya lah yang berkuasa.


"Sekarang aku lah yang akan menempati rumah ini, lumayan lah. Dari pada ikut Bapak, hidupku semakin susah aja. Lebih baik aku tinggal di rumah ini, lumayan ada Mama yang bisa dijadikan ATM ku." Gumam Rena tanpa berdosa.


Aish masih berjalan kaki menyusuri jalanan yang lumayan cukup jauh menuju Toko kuehnya jika harus berjalan kaki.


"Aish!" panggil seseorang dari sebrang jalan. Akibat silau karena terik matahari, Aish mencoba memperjelas penglihatannya. Dilihatnya sosok yang tidak asing baginya, siapa lagi kalau bukan Yahya.


Karena takut menjadi perkara yang panjang, Aish kembali menundukkan pandangannya. Karena penasaran melihat Aish yang tengah menjinjing tas bawaan, Yahya berlari untuk mengejarnya.


"Aish! tunggu," panggil Yahya yang terus berlari mengejar Aish.


Karena keberatan dengan tas bawaannya, Aish kesusahan saat berlari untuk menghindari kejaran dari Yahya.


"Aish! tunggu, kamu mau pergi kemana?" teriak Yahya memanggil Aish.


Tetap pada pendiriannya, Aish tidak menoleh pada sumber suara. Aish terus berjalan secepat mungkin untuk menghindari kejaran dari Yahya.


Rey yang melihat istrinya setengah berlari, ia langsung turun dari mobil. Saat mau mengejar istrinya, disaat itu juga Rey melihat Yahya yang ikutan berlari untuk mengejar istrinya.


Detak jantung Rey semakin bergemuruh, otaknya terasa mendidih dan tatapannya bagaikan mata elang yang siap menerkam musuhnya. Dengan cepat ia langsung mengejar istrinya.

__ADS_1


"Berhenti!" Perintah Rey dengan merentangkan kedua tangannya untuk menghadang istrinya. Aish pun kaget dibuatnya, bahkan sangat terkejut saat melihat sang suami sudah berada di hadapannya.


Entah ada angin apa, Aish langsung memeluk erat suaminya. Entah karena adanya Yahya yang tengah mengejarnya, atau karena perasaannya sendiri pada sang suami. Yahya yang melihatnya pun, perasaannya kembali teriris.


__ADS_2