Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Pulang ke rumah utama


__ADS_3

Saat memasuki ruangan yang dimana istrinya tengah berbaring diatas ranjang pasien. Aish menoleh kearah sang suami yang tengah masuk kedalam ruangannya.


Senyum manis telah Aish tunjukkan pada suaminya, Rey pun membalasnya dan mendekati istri tercinta. Tidak lupa dengan sebuah kecupan mendarat di kening milik istrinya.


"Sayang, maafkan aku yang harus keluar dari ruang persalinan. Kamu tidak apa apa, 'kan? katakan saja padaku apa yang kamu rasakan. Aku suami kamu, aku berhak mengetahui keadaan kamu." Tanya Rey yang masih dengan kekhawatirannya.


Aish kembali tersenyum saat melihat sang suami yang begitu mengkhawatirkannya. Aish meraih tangan milik suaminya dan menatap dengan lekat.


"Aku baik baik saja, dan aku pingsan juga tidak begitu lama. Mungkin karena aku baru pertama kalinya melahirkan, dan dua bayi yang harus aku perjuangkan. Aku begitu bahagianya, hingga aku tak sadarkan diri." Kata Aish dengan lembut. Rey menarik kursi dan duduk didekat istrinya sambil menggenggam tangan milik istrinya, lalu diciuminya tangan milik sang istri.


Setelah itu, bunda Maura mendekati menantunya dan berdiri disebelahnya. Diciumnya pipi sebelah kiri dan menatapnya dengan tersenyum.


"Selamat ya, sayang atas kelahiran kedua buah hati kamu. Mama sangat bahagia menerima cucu sekaligus dua, benar benar kado yang sangat terindah dihari yang sama. Zakka yang menikah, dan kamu yang melahirkan." Ucap bunda Maura, Aish pun tersenyum.


"Terimakasih banyak, Ma." Jawab Aish.


Setelah itu, tidak lama kemudian dua perawat telah datang menggendong kedua bayi milik sepasang suami-istri masuk kedalam ruangan pasien.


"Permisi, Nona dan Tuan." Ucap kedua perawat dengan serempak saat memasuki ruang rawat.


Dengan senyum yang ramah, kedua perawat tersebut mendekati Aish dan menyerahkan kedua bayinya satu persatu.


"Nona, silahkan jika ingin menggendongnya." Ucapnya, sedangkan Rey membantu istrinya untuk duduk dan bersandar. Bunda Maura dan ibu Melin ikut membantunya.


Setelah sudah mengubah posisinya, Aish menerima bayi dari seorang perawat.


"Nona, ini bayi laki laki anak yang pertama. Dan itu, bayi perempuan anak kedua Nona." Ucapnya dan menunjuk pada temannya yang tengah mrnggendong bayi perempuan, Aish tersenyum bahagia mendengarkannya.


"Tuan, silahkan jika ingin menggendong bayi perempuan. Sangat cantik seperti ibunya." Ucap seorang perawat, kemudian bunda Maura membantu putranya untuk menggendong bsyi perempuannya.

__ADS_1


"Cantik, seperti ibunya." Ucap Rey dengan senyum yang bahagia.


"Yang satu ganteng, yang satu cantik. Kebahagiaan yang benar benar lengkap hari ini, sempurna." Ucap bunda Maura.


"Ngomong ngomong, kalau boleh tau nih. Kalian berdua mau kasih nama siapa?"


Aish dan Rey saling menatap satu sama lain. Pelan pelan menarik napasnya dalam, kemudian membuangnya dengan pelan.


"Nama untuk bayi laki laki, Arkas Wilyam. Untuk bayi perempuan, Nahla Wilyam." Ucap Rey yang akhirnya angkat bicara mengenai kedua buah hatinya.


"Nama yang bagus, semoga sebagus akhlakhnya dan kepribadiannya." Ucap bunda Maura. Setelah itu, Rey mengumandangkan adzan dan iqomah di kedua telinga bayi Arkas dan Nahla bergantian.


Sedangkan Tuan Ganan da pak Soni memilih duduk disofa.


"Bos Ganan, selamat atas hadirnya kedua cucu laki laki dan perempuan." Ucap pak Soni sambil mengulurkan tangannya, Tuan Ganan menerimanya.


Perjuangan yang tidak jauh berbeda dengan putranya yang bernama Rey. Yang mana lebih dulu mencintai istrinya, dan perlu waktu untuk menaklukan hatinya serta memenangkannya.


Hanya saja, Tuan Ganan tidak memiliki pesaing seperti putranya. Yang mana harus bersaing dengan saudara sendiri dan dari rahim yang sama.


'Aku sangat bahagia ketika aku menerima cucu kembar dengan jenis kela*min yang berbeda. Akhirnya sesuatu yang aku takutkan tidak terjadi lagi.' Batin Tuan Ganan yang penuh harap, dan kini sesuatu yang dikhawatirkan telah pergi dalam pikiran Beliau.


Setelah sudah cukup, bunda Maura dan Tuan Ganan teringat acara pernikahan putra keduanya yang masih berada di dalam gedung.


Kemudian, Tuan Ganan dan istri segera berpamitan untuk kembali ke acara pernikahan. Sesuai janji, bunda Maura akan memjemoutnya dibawa pulang ke rumah utama.


Sebelum pulang, Tuan Ganan menghubungi orang kepercayaan nya untuk menyambut kepulangan anak dan menantu serta kedua cucunya ke rumahnya. Dikarenakan Zakka yang akan pulang ke rumah utama.


Meski berat untuk memisahkan, Tuan Ganan tidak ingin memperkeruh keadaan. Demi harmonis nya suatu hubungan, Tuan Ganan memilih untuk meminta putra pertamanya kembali ke rumah yang sudah ditempatinya.

__ADS_1


Selama perjalanan, Tuan Ganan masih terus memikirkan Zakka yang diketahui hanya menikah dalam kepura puraannya.


"Papa itu sudah tua, bukan anak muda lagi. Jangan banyak melamun, tidak baik untuk kesehatan jantung." Ucap bunda Maura mengingatkan suaminya.


"Papa masih kepikiran dengan Zakka, Ma. Bagaimana jadinya jika Zakka tidak bisa jatuh cinta dengan istrinya? papa khawatir." Jawab Tuan Ganan, bunda Maura ikut kepikiran atas apa yang dibicarakan oleh suaminya.


Sedangkan di dalam gedung, kini mulai berkurang tamu undangan nya. Suasana tidak lagi serame dikala acara baru selesai.


Tidak lama kemudian, bunda Maura dan Tuan Ganan datang dengan tepat waktu.


"Ma, bagaimana dengan kak Aish?" tanya Neyla penasaran dengan kabar kedua keponakannya.


"Baik semua, Aish dan kedua bayinya." Jawab bunda Maura.


"Neyla sudah tidak sabar, Ma. Neyla ingin bertemu kedua keponakannya Neyla." Ucap Neyla ingin rasanya cepat cepat untuk pulang.


"Ya sudah kalau kalian berdua ingin pulang, cepetan pulang. Lagian kamu dan Seyn belum mengganti pakaian, pulang lah terlebih dahulu dah mandi. Setelah itu, kalian berdua langsung datang ke rumah sakit." Kata bunda Maura mengingatkan, Neyla pun mengangguk.


Setelah Neyla dan Seyn berpamitan untuk pulang, kini selanjutnya tinggal Zakka dan istrinya untuk bersiap siap untuk pulang ke rumah utama.


Sela yang hanya bisa nurut, jarang sekali untuk membuka suara. Selama perjalanan, Sela memilih untuk diam ketika berada didalam mobil bersama suaminya.


Zakka yang awalnya tidak ada rasa canggung, kini tiba tiba berubah menjadi canggung dan memilih untuk banyak diam.


'Benarkah aku ini sudah bersuami? dan benarkah aku akan tinggal satu kamar dengannya? bagaimana ini, bagaimana rasanya tinggal di rumah mertua.' Batin Sela dengan penuh kekhawatiran atas nasib selanjutnya di rumah keluarga sang suami.


Zakka masih saja diam, tatapannya lurus kedepan tanpa menoleh ke sisi istrinya. Tidak lama kemudian, mobil yang dinaikinya telah memasuki pintu gerbang yang tinggi dan kokoh.


Sela yang memperhatikannya pun, ia benar benar tercengang saat melihat sebuah bangunan rumah bak istana. Bahkan dengan khayalan nya saja tidak ada bandingannya.

__ADS_1


__ADS_2