Zahra Istri Pilihanku

Zahra Istri Pilihanku
Rasa penasaran


__ADS_3

Hari berganti hari bahkan bulan telah berganti dengan urutan, tidak terasa waktu pun begitu cepat untuk dilewati. Hari ini adalah hari dimana waktu yang telah dinanti nantikan oleh para mahasiswa maupun mahasiswi lain nya termasuk Aish.


"Aish, apakah kamu sudah bersiap siap Nak?" Panggil Ibu Melin sambil mengenakan sandal nya.


"Iya Tante, sebentar lagi Aish selesai. Aish sedang bersiap siap, Tante." Sahut Aish dari dalam kamar.


Karena tidak ada lagi yang tertinggal, Aish segera keluar dari kamarnya dengan penampilan yang cukup sederhana. Tetapi tidak mengurangi kecantikan pada diri Aish.


"Yakin sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Ibu Melin mengingatkan.


"Iya Tante, sudah tidak ada lagi yang tertinggal." Jawab Aish sambil mengenakan jam tangan nya.


"Kalau begitu ayo kita berangkat, karena kamu harus ke salon terlebih dahulu untuk merubah penampilan kamu."


"Apa Tante? ke salon? tidak, tidak usah Tante. Aish tidak terbiasa ke Salon, Aapa adanya saja sudah cukup kok Tante. Lagian buang buang duit saja deh, Tante. Mending uangnya buat beli kebutuhan dapur saja, Tante." Kata Aish merasa tidak enak hati, sedangkan Ibu Melin hanya tersenyum menatap keponakan nya itu.


"Apakah kamu sudah lupa? kamu mempunyai hak atas semua ini, jangan menolak." Ucap Ibu Melin mengingatkan, mau tidak mau Aish hanya bisa nurut.


"Ayo, kita berangkat. Mobil nak Rey sudah ada depan, makanya kamu harus tampil istemewa. Siapa tahu aja pemilik mobilnya sudah pulang, jangan kecewakan karena hari ini adalah hari istimewa kamu yang mendapat prestasi lagi.


Disaat itu juga, Aish tercengang mendengar perkataan Ibu Melin. Semua benar benar di luar dugaannya dan seperti mimpi semata.


'Pulang? yang benar saja, tidak! tidak mungkin. Kenapa tiba tiba aku menjadi gugup seperti ini? semoga saja dia beneran tidak pulang.' Batin terasa cemas dan juga gelisah.


Saat keluar dari rumah, Aish benar benar tidak bermimpi jika mobil yang sering mengantar dirinya di situasi penting, kini sudah terparkir didepan rumah.


'Semoga saja didalam mobil tidak ada orangnya. Jika ada, aku harus ngomong apa dengan nya? Pura pura tidak mengenal saja, apa ya? lagian wajah nya pasti juga sudah ada perubahan. Boleh lah, jika aku harus pura pura tidak mengenalnya.' Batin Aish mencari idenya.


Saat masuk kedalam mobil, rupanya tidak ada satupun orang yang ada didalamnya. Detak jantung Aish akhirnya dapat berdetak dengan normal, pikiran nya tidak menjadi was was maupun gelisah.

__ADS_1


'Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bernapas lega.' Batin Aish dengan lega, Ibu Melin hanya memperhatikan keponakan nya dengan heran.


"Kamu kenapa, Aish?" tanya Ibu Melin memastikan.


"Tidak ada apa apa kok, Tante. Aish hanya gugup saja, soalnya Aish tidak pernah pergi ke salon. Maklum deh Tante, Aish belum bisa mencari uang banyak." Jawab Aish berusaha untuk kelihatan tenang, meski dalam pikiran nya masih kemana mana.


"Kamu nya aja yang selalu menolak untuk dilakukan perawatan, padahal kan gratis loh dari Nak Rey." Kata Ibu Melin mengingatkan.


"Gratis sih, tapi Aish lebih nyaman dengan hasil keringat Aish sendiri, Tante." Jawab Aish yang tidak menyukai hal yang selalu dimanjakan.


"Iya juga sih, tapi terserah kamu saja. Mana yang menurutmu nyaman, itu pilihanmu. Mau menolak pemberian dari nya atau tidak, itu hak mu." Ucap Ibu Melin, sedangkan Aish hanya mengangguk dan bersandar di jendela kaca sambil menatap luar dengan melamun.


'Kenapa perasaanku jadi dilema begini, ya? dan kenapa juga tiba tiba aku merasa tidak percaya. Apakah mimpiku itu benar? aaah kenapa aku mesti percaya dengan mimpi, itu kan hanya bunga tidur.' Batin Aish sambil bersandar, dan tidak sadar jika dirinya sudah sampai di sebuah salon yang cukup terkenal dan sangat bagus kualitasnya.


"Aish, ayo kita turun." Ajak Ibu Melin, seketika Aish tersadar dari lamunannya. Kemudian ia celingukan kesana kemari sambil memperhatikan disekelilingnya, namun ia tidak mendapati siapapun.


"Aish pikir Aish sedang di depan KUA, Tante." Kata Aish yang tiba tiba teringat sesuatu yang membuatnya seperti mimpi.


"Hem, mulai pintar bergurau rupanya kamu ini. Ayo, cepetan turun."


"Iya Tante, tunggu sebentar." Jawab Aish dengan hati hati ia turun dari mobil.


"Ini beneran salon nya, Tante?"


"Iya, ini salon yang terkenal itu. Kualitasnya sangat bagus, pelanggan nya pun dari kalangan yang berduit."


"Ya iya lah, Tante. Masa yang tidak berduit mau datang kemari, yang benar saja. Eh! lupa, Aish juga tidak berduit." Kata Aish dan tertawa kecil ketika teringat dirinya sendiri.


"Kata siapa kamu tidak berduit, bahkan kamu ratunya." Ucap Ibu Melin, Aish hanya tersenyum kecut.

__ADS_1


"Sudah, ayo kita masuk." Ajak Ibu Melin sambil menggandeng tangan Aish sampek didalangi salon.


Saat didalam ruangan, Aish celingukan kesana kemari sambil berdiri. Disaat itu juga, pandangannya tertuju pada seseorang yang ia kenal.


"Perempuan itu bukannya?" Aish masih terus berpikir, namun ingatannya begitu sulit untuk ia mengingatnya kembali.


"Aish, sudah jangan banyak melamun. Sini, ayo ikut Tante."


"Iya ya ya, Tante." Jawab Aish yang akhirnya kehilangan jejak seseorang yang ia lihat.


Saat berada di ruangan khusus, wajah Aish mulai dibersihkan. Kemudian wajahnya mulai dimake up dan akan dirubah penampilan nya dengan sebaik mungkin.


Sambil menatap cermin, pikiran Aish kembali pada sosok yang tidak asing untuk dirinya. Namun ingatannya sulit untuk diingat kembali.


"Maula! iya, dia Maula." Dengan reflek Aish menyebut nama Maula hingga mengagetkan orang orang yang ada disekitarnya.


"Aish, kamu kenapa? Maula, Maula. Siapa Maula? kok jadi heboh. Bikin orang lain jantungan aja kamu ini, Aish." Tanya Ibu Melin, Aish hanya tersenyum malu.


"Untung saja Nona tidak gerak secara reflek.


Jika itu terjadi, maka make up nya akan rusak."


"Maaf ya mbak, saya tidak sengaja." Kata Aish merasa malu.


'Maula sudah pulang? berarti Yahya juga sudah pulang, dong. Tapi ... untuk apa Maula ke salon ini, bukan nya wisudanya di luar Negri? apa dia mau menikah? kenapa aku jadi penasaran begini?' batin Aish sambil bertanya tanya dalam hati.


Pikiran nya pun kini melancong entah kemana, pikiran nya kembali tidak tenang saat mendapati seorang perempuan yang pernah ia temui walau hanya sesaat. Dan ketika bertemu lagi sudah 4 tahun lamanya tidak pernah melihat nya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya Aish telah selesai make up nya.

__ADS_1


__ADS_2